3.000 Pekerja Positif Covid-19

Ilustrasi positif Covid-19. (Foto: IST)

Lonjakan kasus Covid-19 yang dilaporkan di tambang batubara Polandia telah menimbulkan kekhawatiran di negara tersebut. Tiga ribu kasus telah dilaporkan. Pemerintah bergerak cepat dengan menutup 12 tambang hingga akhir Juni.

Perdana Menteri Polandia, Mateusz Morawiecki, mengatakan virus itu menyerang tambang karena kondisi tempat kerja yang sempit  sehingga virus dapat  menyebar dengan cepat.

Menanggapi hal itu, Slawomir Starzynski, juru bicara kelompok penambangan JSW, mengatakan bahwa sebagian besar virus corona  yang dilaporkan di perusahaannya adalah kasus ringan atau tanpa gejala.

“Dari 3.000-an karyawan dari tambang kami yang dites positif terkena virus corona, hanya tiga atau empat yang harus dirawat di rumah sakit,” katanya, seperti dikutip dari CGTN, Minggu (14/6).

Wabah Covid-19 dan penutupan tambang menjadi masalah yang sangat sensitif menjelang pemilihan presiden di Polandia pada 28 Juni mendatang, di mana para penambang masih merupakan blok suara yang kuat.

Pada awalnya pemungutan suara dijadwalkan pada 10 Mei 2020, namun mengalami penundaan akibat pandemik Covid-19. “Kami berharap pemerintah akan terus memulihkan sektor pertambangan,” ujar Dominik Kolorz, kepala serikat pekerja Solidaritas untuk cekungan batubara Silesia, mengatakan kepada AFP.

Dirinya khawatir, penutupan tambang akibat  virus itu akan menjadi dalih untuk melakukan penutupan permanen beberapa tambang di seluruh negeri. Tetapi menutup tambang di negeri itu bukanlah tugas yang mudah.

“Anda tidak bisa hanya menutup tambang dengan menekan tombol. Ini adalah pekerjaan besar untuk mengisolasi dan mengamankan area besar untuk menghindari poros menutup lagi dan menghindari kebakaran,” kata Sylwester Wilczek, wakil kepala layanan kesehatan di tambang Knurow Szczyglowice.

Ke-12 tambang yang menghadapi penutupan semua milik kelompok pertambangan JSW dan konglomerat PGC, yang merupakan dua perusahaan batubara terbesar di Eropa.
Keduanya mempekerjakan ribuan orang. Banyak penambang dilaporkan menganggap remeh tingkat keparahan virus di tambang karena mereka khawatir akan kehilangan pekerjaan.

“Saya tidak tahu harus berpikir apa,” kata seorang penambang bernama Krzysztof.
“Tambang saya bekerja dengan baik. Saya tidak tahu mengapa mereka menutupnya,” tuturnya.

Sebanyak 80 persen kebutuhan energy Polandia bergantung pada batu bara. Namun penutupan tambang itu tidak akan terlalu berpengaruh sebab mereka telah memiliki cadangan prouksi yang cukup.

Ketergantungan Polandia pada batubara adalah masalah kontroversial di Uni Eropa. Warsawa telah menolak untuk menerapkan target blok itu menjadi karbon netral sepenuhnya pada tahun 2050.

Polandia telah menuntut lebih banyak waktu untuk melakukan transisi ke energi hijau , dengan perpanjangan hingga 2070, menurut beberapa sumber. Pemerintah Polandia mulai mengurangi pembatasan coronavirus pada bulan lalu, dan membuka kembali beberapa restoran di negara itu.

Batas pertemuan publik juga ditingkatkan menjadi 150 orang dan aturan memakai masker tidak lagi diwajibkan bagi mereka yang mematuhi aturan jarak sosial. Kampanye menjelang  pemilihan presiden juga tetap dilaksanakan ketika pelonggaran mulai diberlakukan.

Menteri Kesehatan Polandia, Lukasz Szumowski, dengan meningkatnya kasus baru virus korona, pembatasan kemungkinan akan kembali dilakukan di seluruh negeri untuk mencegah penyebaran virus. (jpg)