Italia Lockdown, Prancis Darurat Ruang ICU

35
Sejumlah negara kembali menerapkan kebijakan lockdown menyusul meningkatnya kasus terpapar Covid-19. (net)

Lonjakan kasus Covid-19 di Eropa kembali merangkak naik. Mulai kemarin, Italia memberlakukan lockdown di dua per tiga wilayahnya. Itu disebabkan ada kenaikan penularan sekitar 15 persen pekan lalu. Penyebabnya ditengarai varian dari Inggris B.1.1.7 yang mudah menular tersebut.

Perdana Menteri (PM) Italia Mario Draghi mengungkapkan bahwa dirinya sadar keputusan lockdown bakal berdampak pada pendidikan siswa, ekonomi, dan psikologis penduduk.
”Tapi, keputusan (lockdown, red) itu perlu untuk menghindari situasi yang lebih buruk dan membuat langkah-langkah lebih ketat terpaksa diambil,” tegasnya seperti dikutip The Straits Times.

Draghi menegaskan, satu-satunya cara keluar dari situasi yang sulit seperti sekarang ini adalah vaksinasi massal. Sayangnya, baru 2 juta penduduk yang mendapatkan vaksin penuh. Itu disebabkan adanya masalah distribusi.

Situasi di Perancis hampir sama. Sistem kesehatan di kota-kota besar di Prancis nyaris ambruk. Paris, salah satunya. Ada sekitar 4.100 pasien Covid-19 yang dirawat di ICU di seluruh Perancis. Sebanyak 1.100 di antaranya berada di Paris. ICU di berbagai rumah sakit sudah penuh.

Pemerintah berencana memindahkan sekitar 100 pasien Covid-19 yang dirawat di ICU di Paris ke berbagai wilayah lain. Dua di antaranya akan diterbangkan ke Bordeaux.
”Dua kereta api khusus akan dipakai untuk mentransfer beberapa lusin pasien ke wilayah yang tidak terlalu terdampak pandemi,” terang Juru Bicara Pemerintah Prancis Gabriel Attal.

Sementara itu, Direktur Oxford Vaccine Group Andrew Pollard mengatakan vaksin Oxford-AstraZeneca aman. Tidak ada bukti bahwa vaksin tersebut bisa mengakibatkan pembekuan darah pasca vaksinasi.

Baca Juga:  Hasil USG Kembar 7, saat Lahir Kembar 9

”Sejauh ini tidak ada fenomena pembekuan darah di Inggris di mana sebagian besar dosis untuk wilayah Eropa dipakai di sini,” ujar Pollard menyikapi beberapa negara memutuskan menghentikan penggunaan vaksin yang diberi nama AZD1222 itu.

Berdasar data yang didapatkan dari regulator masing-masing negara, belum ada laporan adanya masalah dengan vaksin AstraZeneca. Mereka pun sudah menganalisis 17 juta dosis vaksin yang sudah disuntikkan.

Memang ada 15 kejadian trombosis vena dalam (DVT) dan 22 kejadian emboli atau penyumbatan paru-paru di antara mereka yang diberi vaksin. Namun, itu jauh lebih rendah daripada yang terjadi secara alami, pada populasi umum tanpa vaksin.

“Dalam hal kualitas, juga tidak ada masalah yang dikonfirmasi terkait dengan batch vaksin kami yang digunakan di seluruh Eropa maupun di seluruh dunia,” tambah Kepala Petugas Medis AstraZeneca Ann Taylor seperti dikutip Agence France-Presse.

Baik WHO maupun Badan Obat Eropa (EMA) sama-sama menyatakan tidak ada bukti pembekuan darah. Namun, beberapa negara tetap menghentikan penggunaan AZD1222. Yang terbaru adalah Irlandia dan Belanda. Denmark, Norwegia, Islandia, Bulgaria, Thailand, Austria, dan Republik Kongo sudah lebih dulu menghentikan penggunaan AstraZeneca.

Italia, Estonia, Lithuania, Latvia, dan Luxembourg mengambil langkah serupa. Di Bulgaria, ada perempuan yang meninggal setelah divaksin. Setelah diotopsi, dia ternyata gagal jantung dan kematiannya tidak terkait vaksin. (sha/c13/bay/jpg)

Previous articleDaihatsu Sediakan Low Cost Service hingga Diskon
Next articleEks-Menpora Tetap Dibui Tujuh Tahun