Perdamaian Israel-UEA-Bahrain Diteken

Menlu UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan (kanan), Menlu Bahrain Abdullatif bin Rashid Al Zayani (kedua dari kanan), Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Balkon Truman, Gedung Putih, Washington. (jawapos.com)

Akhirnya, kesepakatan damai antara Israel dengan dua lagi negara Liga Arab, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain resmi ditandatangani di Gedung Putih, Amerika Serikat (AS).
Dikutip kantor berita Agence France-Presse (AFP), Rabu (16/9), penandatanganan perjanjian damai itu dilakukan antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) UEA, Abdullah bin Zayed Al-Nahyan dan Menlu Bahrain, Abdullatif al-Zayani, dalam sebuah upacara di Gedung Putih, Selasa (15/9) waktu setempat.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, turut hadir menyaksikan penandatanganan tersebut. Selama ini, AS merupakan penengah dalam tercapainya kesepakatan menormalisasi hubungan antara Israel dengan UEA dan Bahrain.

Ratusan tamu ikut hadir dalam seremoni tersebut. “Setelah beberapa dekade mengalami perpecahan dan konflik, kita menandai awal bagi Timur Tengah yang baru,” sebutnya.
Namun, Trump dan Netanyahu tidak pernah menyebut Palestina dalam pidato mereka saat seremoni ini. Berbeda dengan Menlu UEA dan Bahrain, yang sama-sama menyinggung Palestina dalam pidato mereka sebelum penandatanganan dilakukan.

Terima kasih untuk perdamaian dan menghentikan aneksasi wilayah Palestina. Saya berdiri di sini hari ini untuk mengulurkan tangan perdamaian,” ucap Menlu UEA, Abdullah bin Zayed Al-Nahyan, kepada Netanyahu.

Sedangkan Menlu Bahrain, Abdullatif al-Zayani, dalam pidatonya menegaskan, solusi dua negara yang adil, komprehensif dan bertahan lama bagi konflik Palestina-Israel akan menjadi fondasi perdamaian abadi di Timur Tengah.

Baca Juga:  Meski Belum Aman, Ribuan Orang Disuntik Vaksin Covid-19

Saat berbicara kepada jaringan media multinasional konservatif AS, Fox News, Trump menyatakan bahwa perjanjian damai ini akan memberi tekanan pada Palestina untuk juga bernegosiasi atau terancam diabaikan.

“Palestina pada akhirnya akan bergabung juga. Dan Anda akan menemukan perdamaian di Timur Tengah tanpa menjadi bodoh dan menembaki semua orang, dan membunuh semua orang, dan menumpahkan darah di seluruh padang pasir,” cetusnya.

Sementara Netanyahu dalam pidatonya menyebut, hari penandatanganan itu sebagai poros sejarah dan berterima kasih kepada Trump atas kepemimpinannya yang menentukan. “Ini menandai awal baru perdamaian. Pada akhirnya itu bisa mengakhiri konflik Arab-Israel untuk selamanya,” ucapnya.

Sementara itu, Donald Trump menyebut UEA dan Bahrain menjadi negara ketiga dan keempat membuka hubungan diplomatik dengan Israel, setelah Mesir dan Yordania. “Kita sejauh ini sudah berjalan dengan sekitar lima negara, lima negara tambahan,” ungkap Trump, seperti dikutip kantor berita Agence France-Presse (AFP), Rabu (16/9).

Trump tidak menyebut lebih lanjut nama negara-negara tambahan tersebut. Namun saat pembicaraan bilateral dengan Menteri Luar Negeri UEA, Abdullah bin Zayed Al-Nahyan, dia mengisyaratkan, Saudi mungkin ikut serta tanpa menyebutnya secara spesifik. “Kita telah melakukan pembicaraan yang hebat dengan Arab Saudi. Pikiran mereka sangat terbuka,” ucapnya. (day/jpg)