Ratusan Pasien Covid-19 di Korea Selatan Positif Lagi

Petugas medis di Korea Selatan saat memeriksa Covid-19. (AFP)

Pada akhir Februari, kasus Covid-19 di Korea Selatan mulai menunjukkan fenomena aneh. Banyak pasien setelah tertular dan pulih dari virus korona, tapi kemudian dinyatakan positif untuk kedua kalinya.

Dalam beberapa minggu, jumlah pasien yang dites positif kedua kalinya terus meningkat dan tren menjadi jelas. Hingga Kamis (16/4), setidaknya 141 orang di Korea Selatan telah melakukan tes ulang positif untuk virus yang secara resmi disebut SARS-CoV-2 itu.

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (16/4), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea, menjelaskan kebanyakan dari pasien itu berasal dari Daegu dan Provinsi Gyeongsang Utara. 55 kasus di antaranya adalah orang berusia 20-an atau 30-an.

“Dalam kasus Sars dan Mers, kami tidak melihat orang positif lagi setelah pulih. Coronavirus ini tampaknya sangat jahat dan lihai,” kata Wakil Direktur KCDC Kwon Jun-wook.

Fenomena ini telah menimbulkan pertanyaan bagi pejabat kesehatan masyarakat di seluruh dunia yang berjuang untuk memahami virus ini.

Lebih dari setengah kasus di Korea Selatan adalah orang-orang berusia 50-an atau lebih muda. Meski begitu kini Korea Selatan semakin berhasil menurunkan virus itu hanya 2 lusin per hari.

Para ilmuwan menganalisa bahwa fenomena ini bisa terjadi karena pasien saat awal pengujian hasilnya keliru. Atau efek pelepasan virus oleh pasien bisa ‘diaktifkan kembali’.

Meskipun mungkin, banyak ahli skeptis tentang apakah tren tersebut mewakili kasus-kasus terinfeksi ulang. Kondisi itu menimbulkan keraguan serius tentang kemampuan mengembangkan vaksin. Berdasarkan pengetahuan yang ada tentang virus korona lain, pada umumnya orang bisa kebal setidaknya satu tahun setelah terinfeksi.

Bukan hal yang tidak pernah terjadi jika virus berhibernasi pada pasien dalam jangka waktu lama atau tetap aktif di bagian tubuh tertentu.

Ebola tetap dapat ditularkan secara seksual pada pasien setelah pemulihan. Atau campak pada seorang anak dapat muncul kembali bertahun-tahun kemudian selama masa dewasa sebagai herpes zoster.

Seorang ahli penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Korea, Kim Woo-joo, mengatakan kemungkinan virus bermutasi adalah masalah utama mengapa Covid-19 bisa kambuh.

“Sekitar seperlima dari pasien adalah orang sehat dengan sistem kekebalan tubuh yang baik tetapi mereka masih dinyatakan positif virus setelah mereka awalnya didiagnosis sembuh,” kata Kim.

“Para peneliti sedang menguji sampel darah untuk menentukan apakah pasien terinfeksi ulang karena mereka memiliki masalah dengan sistem kekebalan mereka sendiri atau virus telah bermutasi entah bagaimana untuk menghindari sistem pertahanan tubuh,” ujarnya.

Meskipun KCDC belum merilis informasi terperinci tentang berapa banyak dari mereka yang dites positif untuk kedua kalinya bergejala. Untungnya beberapa dari mereka dilaporkan memiliki gejala ringan seperti demam. Ahli penyakit menular yang berbasis di AS William Schaffner mengatakan, masalah ini akan menjadi perhatian khusus jika pasien kambuh disertai dengan gejala.

“Ini menimbulkan pertanyaan, apakah perawatan pengobatan penyakit itu membuat Anda merasa lebih baik, tetapi tidak mampu menghilangkan virus sepenuhnya dari tubuh,” kata Schaffner.

Kondisi penyakit Covid-19 yang kambuhan akan menambah ketegangan pada sistem kesehatan. Tentunya akan membuat pasien memerlukan tindak lanjut setelah keluar dari rumah sakit. (*)