Rekor Dunia, AS Catat 4.491 Kematian Akibat Korona Dalam 24 Jam

Petugas medis AS membawa jenazah pasien Covid-19. AS mencatat rekor kematian terbesar dalam 24 jam akibat Covid-19. (AFP)

Amerika Serikat benar-benar menghadapi krisis terkait wabah virus korona jenis baru atau Covid-19. Teranyar, AS mencatat 4.491 kematian akibat virus korona hanya dalam 24 jam. Itu menjadi rekor dunia lonjakan kematian akibat Covid-19 dalam sehari.

Hingga Kamis (16/4) berdasar data dari Universitas Johns Hopkins, AS mencatat total kematian 32.917 jiwa. Hanya saja, angka kematian dalam sehari yang tercatat 4.491 jiwa tersebut kemungkinan termasuk kematian Covid-19 yang sebelumnya tidak dimasukkan.

AS memiliki angka kematian tertinggi di dunia, diikuti oleh Italia dengan 22.170 kematian meski populasinya hanya seperlima dari Amerika Serikat. Spanyol telah mencatat 19.130 kematian, diikuti oleh Perancis dengan 17.920 kematian. Data ini berdasar yang dicatat oleh Universitas Johns Hopkins pada Kamis (16/4) dan dilansir dari AFP.

Lebih dari 667.800 kasus Covid-19 telah dicatat di AS, yang telah mencatat rekor jumlah kematian selama dua hari terakhir. New York sebagai pusat dari epidemi Covid-19 di negara itu, telah menderita lebih dari 12.000 kematian. Itu terjadi di negara bagian saja.

Meski jumlah kematian terus bertambah, Presiden Donald Trump pada Kamis (16/4) malam waktu AS, mengumumkan rencana untuk membuka kembali jalannya perekonomian. Itu artinya, Trump akan melonggarkan karantina wilayah. Itu memungkinkan gubernur masing-masing negara bagian untuk mengambil pendekatan bertahap untuk membuka kembali karantina negara bagian masing-masing.

Saat ini lebih dari 95 persen dari 330 juta penduduk Amerika berada di bawah perintah tetap di rumah dan lebih dari 22 juta orang Amerika telah memohon tunjangan pengangguran. Trump menilai dengan kondisi seperti itu, penguncian yang berkepanjangan, dikombinasikan dengan depresi ekonomi yang dipaksakan, akan menimbulkan korban besar dan luas pada kesehatan masyarakat.

Trump menambahkan bahwa pemerintahannya mengeluarkan pedoman federal baru yang akan memungkinkan gubernur untuk mengambil pendekatan bertahap untuk membuka kembali negara bagian masing-masing. Trump juga mengatakan warga Amerika yang sehat akan dapat kembali bekerja jika kondisi di lapangan memungkinkan.

“Alih-alih penutupan, kami akan mengejar fokus untuk melindungi individu-individu berisiko tinggi,” kata Trump. “Jika virus kembali pada musim gugur, seperti yang diperkirakan oleh beberapa ilmuwan, mungkin pedoman akan memastikan bahwa negara kita aktif dan berjalan sehingga kita juga dapat memadamkannya secara cepat,” imbuhnya.

Pedoman tersebut dikembangkan oleh para ahli medis terkemuka dari seluruh pemerintahan. Pedoman tersebut memberdayakan gubernur untuk menyesuaikan pembukaan kembali bertahap untuk mengatasi situasi di negara bagian mereka.

Kriteria pedoman menetapkan tolok ukur yang jelas pada kasus-kasus baru, pengujian, dan sumber daya rumah sakit negara bagian untuk dipenuhi sebelum melanjutkan menuju pembukaan karantina kembali secara bertahap. Untuk fase pertama, pedoman merekomendasikan negara bagian melihat kondisi selama 14 hari jumlah kasus virus Korona yang dikonfirmasi sebelum menentukan langkah selanjutnya. (*)