Inggris Tes Antibodi Penyintas Covid-19

Warga Inggris beraktivitas dengan mengenakan masker. Inggris membiarkan penduduk kembali bekerja seperti semula. Namun, sebelumnya, pemerintah akan mengetes antibodi mereka (LINDSEY PARNABY / AFP)

Inggris tak ingin perekonomiannya terus terpuruk. Pelan tapi pasti, negara yang dipimpin Ratu Elizabeth II itu ingin kembali normal meski pandemi masih melanda. Salah satunya caranya, membiarkan penduduk kembali bekerja seperti semula. Namun, sebelumnya, pemerintah akan mengetes antibodi mereka.

Inggris berencana untuk melakukan tes antibodi pada penduduk. Mereka kini tengah membahas rencana pembelian alat uji tersebut ke perusahaan farmasi asal Swiss Roche Holding AG.

Negosiasi dilakukan setelah Public Health England mengungkap bahwa alat tes milik Roche Holding AG bisa dengan akurat mendeteksi antibodi yang produksinya dipicu virus penyebab Covid-19.

Laboratorium yang melayani pemerintah Inggris itu sejatinya sudah memaparkan data tersebut pada 7 Mei, tapi baru Rabu (13/5) ia diungkap ke publik.

The Telegraph mengungkapkan bahwa tes antibodi itu berbeda dengan tes swab. Ia bisa mendeteksi seseorang sudah pernah terjangkit Covid-19 dan sembuh. Karena itu, antibodinya bisa dideteksi. Sedangkan tes swab hanya mendeteksi seseorang terjangkit Covid-19. Hasil uji swab juga lama keluarnya.

Nah, jika tes antibodi dilakukan pada para pekerja, perekonomian bisa kembali bergerak. Mereka yang sudah memiliki antibodi diyakini punya kekebalan dan bisa melawan virus tersebut.

Dengan kata lain, peluang tertular lagi kecil. Meski para ilmuwan belum bisa menentukan berapa lama kekebalan tubuh para penyintas Covid-19 itu bakal bertahan, peluang tersebut layak dicoba.

“Saya mengharapkan ini akan dilakukan dalam beberapa hari atau pekan depan,” ujar Wakil Kepala Petugas Kesehatan Pemerintah Inggris Jonathan Van-Tam seperti dikutip Al Jazeera.

Dia berharap agar para petugas di Badan Layanan Kesehatan Nasional (NHS) dan para perawat bisa mendapatkan prioritas untuk diuji lebih dulu. Van-Tam menegaskan bahwa tes antibodi adalah kebijakan yang baik agar Inggris bisa terus maju.

Sejatinya Inggris sudah memesan alat uji antibodi dari supplier di Tiongkok. Namun, alat yang disediakan Negeri Panda itu gagal melalui uji sensitivitas dan spesifikasi. Roche Holding AG di lain pihak menyatakan mampu memproduksi ratusan ribu alat tes per pekan untuk Inggris.

Jerman sudah melakukan uji antibodi lebih dulu. Negara tersebut bulan ini sudah mendapatkan pengiriman 3 juta alat tes antibodi yang mereka pesan. Setelah Juni, per bulan akan dikirimkan 5 juta alat.

Sementara itu, tiga penelitian menunjukkan bahwa pengobatan pasien Covid-19 dengan Hydroxychloroquine (HCQ) tidak membawa dampak positif. Alih-alih, itu hanya menyebabkan komplikasi kesehatan. HCQ adalah obat malaria yang diklaim Presiden AS Donald Trump mampu mengobati Covid-19.

Para peneliti Prancis, Jumat (15/5) mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan antara pasien yang diberi HCQ dan yang tidak. Mereka memonitor 181 pasien Covid-19 yang mengalami pneumonia dan membutuhkan oksigen. Sebanyak 94 orang diberi HCQ dan 97 tidak.

Dua kelompok itu sama-sama memiliki akhir yang tragis. Entah itu meninggal dalam 7 hari atau mengalami sindrom kesulitan bernapas akut dalam waktu 10 hari. (sha/c10/dos/jpg)