Warga Singapura Dilarang Silaturahmi saat Lebaran

Warga Singapura melintas dengan mengenakan masker di depan patung Merlion. Warga Singapura dilarang bersilaturahmi saat Lebaran nanti karena masih berlangsung kebijakan semi lockdown (Ee Ming Toh-AP)

Singapura masih memberlakukan kebijakan semi lockdown atau pemutus sirkuit (circuit breaker) selama pandemi Covid-19. Karena itu, warga Muslim pun dilarang agar tidak mengadakan kunjungan silaturahmi selama perayaan Idul Fitri tahun ini.

Masyarakat diminta bersilaturahmi dengan keluarga hanya lewat gadget dan media sosial. “Seharusnya tidak ada kunjungan atau pertemuan Hari Raya selama periode pemutus sirkuit tahun ini, dan para peziarah Singapura harus menunda ziarah haji tahunan ke Makkah hingga 2021, mengingat pandemi Covid-19,” tegas Dewan Agama Islam dari Singapura (Muis).

Umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri pekan depan. Menjelang Hari Raya, masyarakat di Singapura boleh melafalkan takbir di rumah mereka sendiri bersama dengan anggota keluarga, yang dipimpin oleh Mufti dan berbagai asatizah (guru agama) melalui YouTube Live dan Facebook Live di halaman Muis dan masjid seperti dilansir dari Straits Times.

Dan, tak seperti tahun-tahun biasanya, Lebaran kali ini umat Islam di Singapura akan merayakan Lebaran di rumah mereka dengan anggota keluarga dari rumah tangga yang sama. Semua tempat ibadah termasuk 70 masjid di Singapura tetap ditutup.

Tahun ini, mereka dapat bergabung dalam takbir langsung melalui stasiun radio atau online melalui halaman Facebook masjid lokal. Setelah salat tradisional di rumah, maka ceramah akan disiarkan melalui radio, dan berbagai saluran online.

Langkah-langkah pemutus sirkuit untuk mengekang penyebaran virus korona mulai berlaku di Singapura pada 7 April. Tindakan itu akan berlangsung hingga 4 Mei, tetapi kemudian diperpanjang sebulan hingga 1 Juni. Lebih dari 26 ribu orang di Singapura telah terinfeksi Coronavirus sejauh ini, mayoritas dari mereka adalah pekerja asing yang tinggal di asrama.

“Muslim harus mematuhi pembatasan nasional pada pertemuan di ruang publik dan pribadi, dan karena itu menahan diri dari kunjungan tradisional Hari Raya dan pertemuan di seluruh rumah tangga. Orang keluar untuk membeli yang memang penting, harus dilakukan secara individual dan menjaga perjalanan mereka sesingkat mungkin,” tegas pernyataan Muis.

“Kunjungan kepada orang-orang yang dicintai di rumah tangga yang berbeda, terutama anggota keluarga lanjut usia, harus ditunda sampai pembatasan kunjungan dicabut,” tegasnya.

Muis menambahkan teknologi telah memberi banyak kesempatan untuk secara kreatif menggunakan alat telekonferensi dan aplikasi seluler untuk memenuhi kewajiban agama. Dan bahkan bisa melakukan kunjungan Hari Raya ‘virtual’ kepada orang-orang yang dicintai, untuk menjaga ikatan dan tradisi tetap hidup.

“Ini akan menjadi musim spesial Hari Raya yang mengharuskan kita semua untuk tetap waspada, ulet dan bersatu. Kita harus mengambil pandangan serius terhadap ancaman Covid-19, menjalankan tanggung jawab sosial, dan menjaga orang-orang yang kita cintai dan masyarakat Singapura yang lebih besar tetap aman,” katanya. (jpg)