Setelah Kesepakatan di Washington, Israel Gempur Gaza Lagi

16
Asap dan api terlihat setelah roket Israel menghantam Khan Yunis di Jalur Gaza kemarin. Itu balasan Israel atas serangan roket Hamas. (Jawapos.com)

Militer Israel kembali menggempur Jalur Gaza dengan serangan udara pada Rabu (16/9) dini hari, menyebabkan sejumlah kerusakan parah. Ini terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan damai antara Israel dengan dua negara Arab; Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain di Washington, Selasa.

Menurut laporan kantor berita resmi Palestina, Wafa, seperti dikutip Al Jazeera, pesawat tempur Israel menembakkan rudal ke sejumlah tempat di Beit Lahiya di jalur utara, wilayah di Deir al-Balah, sebuah kota di Gaza tengah, serta sebagian Khan Younis di Gaza selatan. Tidak ada laporan korban akibat serangan ini.

Kelompok Hamas, yang mengusai Jalur Gaza merespon, Israel pasti akan menanggung akibat serangan-serangan ini. “Kami akan meningkatkan dan memperluas aksi balasan, selama Israel terus melakukan agresi,” bunyi pernyataan resmi Hamas.

Sementara Israel menyatakan, pihaknya telah melakukan 10 serangan udara terhadap posisi Hamas. Serangan ini dinyatakan juga sebagai balasan terhadap roket yang ditembakkan Hamas ke Israel.

Pada Selasa malam, setidaknya dua roket ditembakkan dari Jalur Gaza. Salah satunya gagal, karena dicegat sistem anti rudal Iron Dome Israel. Sementara roket lainnya, menghantam kota pantai Ashdod di Israel. Akbatnya, dua orang terluka.

Roket tersebut ditembakkan bersamaan dengan penandatanganan perjanjian diplomatik antara Israel, UEA dan Bahrain di Washington. Warga Palestina menilai, kesepakatan yang ditengahi AS itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Bagi mereka, langkah UEA dan Bahrain itu adalah pengkhianatan terhadap Inisiatif Perdamaian Arab atau Arab Peace Initiative yang ditandatangani oleh negara-negara anggota Liga Arab pada 2002 lalu.

Salah satu isi di dalamnya adalah menuntut berdirinya negara Palestina yang merdeka dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Selain itu, juga penarikan kekuasaan Israel dari wilayah yang didudukinya di tanah Arab sejak Juni 1967, termasuk di Tepi Barat. Normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan dilakukan sebelum terjadi perdamaian di Timur Tengah.

”Perdamaian, keamanan, dan stabilitas tidak akan terjadi di wilayah ini (Timur Tengah, red) sampai Israel mengakhiri pendudukannya,” tegas Presiden Palestina Mahmoud Abbas seperti dikutip Agence France-Presse.

Israel tentu saja tidak tinggal diam ketika roket Hamas mendarat di wilayahnya. Mereka menghujani Jalur Gaza dengan bom dan tembakan misil sepanjang malam. Beit Lahiya, Deir al-Balah, dan Khan Younis jadi target. Hingga kemarin pagi (16/9), total ada 15 roket yang ditembakkan Hamas. Sembilan di antaranya berhasil dihalau.

Baca Juga:  PM Thailand Harus Mundur, Demonstran Beri Waktu Tiga Hari

Netanyahu menuding Hamas mencoba menghentikan kesepakatan yang tengah mereka lakukan. Itu adalah kesepakatan damai pertama dengan negara Arab sejak 1994. Yaitu, ketika Israel mengadakan perjanjian damai untuk menghentikan perang dengan Jordania.
Hubungan diplomatik Israel-Jordania terjadi sebelum adanya Inisiatif Perdamaian Arab.

Israel juga memiliki hubungan diplomatik dengan Mesir, negara Arab tetangganya. Dengan kata lain, sejak berdiri pada 1948, hanya empat negara Arab yang mengakui Israel. Yaitu, Mesir, Jordania, UEA, dan Bahrain.

Berdasar website Kementerian Luar Negeri Israel, per Desember 2019, dari 193 negara yang tergabung dengan PBB, hanya 162 yang memiliki hubungan diplomatik dengan negeri zionis tersebut. Mereka yang menolak berhubungan dengan Israel, 19 di antaranya adalah anggota Liga Arab dan 11 lainnya merupakan negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Negara-negara seperti Pakistan, Aljazair, Bangladesh, Brunei, Iran, Iraq, Kuwait, Lebanon, Libya, Malaysia, Arab Saudi, Sudan, Syria, dan Yaman bahkan tak mau menerima orang berpaspor Israel masuk ke negara mereka.

Protes Palestina tidak hanya dilakukan dengan kekerasan. Mereka juga menggelar aksi turun ke jalan di Nablus, Hebron, Ramallah, dan Gaza.Di media sosial Jazirah Arab, ramai penandatanganan Palestine Charter atau Piagam Palestina. Total ada lebih dari 200 ribu pengguna media sosial yang sudah menandatangani dokumen penolakan normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel tersebut.

“Saya menegaskan bahwa Palestina adalah negara Arab yang tengah diduduki dan kebebasan mereka adalah hal yang wajib,” Bunyi salah satu kalimat dalam piagam tersebut.

Iran yang merupakan musuh bebuyutan Israel langsung mengecam. Dalam rapat kabinet kemarin, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa UEA dan Bahrain telah menggandeng rezim yang tiap harinya berbuat kejahatan yang lebih buruk pada rakyat Palestina.

”Beberapa negara di wilayah tersebut, penduduknya adalah muslim yang taat tapi pemimpin mereka tidak memahami agama maupun utang mereka pada negara Palestina,” kata Rouhani menyindir UEA dan Bahrain. (sha/c17/ttg/jpg)