Bentrok, 20 Tentara India Tewas

31
Konvoi tentara India di sepanjang jalan menuju Leh, perbatasan Tiongkok, di Gagangir kemarin. Pemerintah India mengirim ratusan tentara bantuan setelah konflik yang menewaskan 20 tentaranya pada Senin (15/6). (Foto: IST)

Permasalahan terpendam dua negara dengan penduduk terbanyak di dunia nomor satu dan dua meledak sudah. Tiongkok dan India tersapu konflik perbatasan setelah 20 tentara India dilaporkan meninggal. Mereka terlibat perkelahian dengan tentara Tiongkok di Lembah Galwan.

Setelah diam selama dua hari, Perdana Menteri India Narendra Modi berbicara. Dia mengambil sikap tegas atas perselisihan berdarah yang terjadi di wilayah Pegunungan Himalaya Senin (15/6) malam lalu itu. ”Mereka (korban jiwa, red) tak akan mati sia-sia,” tegasnya dalam pidato yang dilansir BBC.

Sikap Modi itu sesuai dengan perkiraan. Pentolan Bharatiya Janata Party (BJP) tersebut mendapatkan suara rakyat dengan pidato pronasionalisme. Yang berarti harga diri negara menjadi aset paling berarti.

Kematian 20 tentara India yang menjaga perbatasan merupakan hal yang memicu kemarahan massa pronasionalisme dan patriotisme. Apalagi, versi peristiwa yang diceritakan militer India sangat mengundang emosi.

Menurut pernyataan aparat, konflik dimulai saat tentara Tiongkok mendirikan tenda di Lembah Galwan yang masih diperebutkan. Tentara India tak terima dan merobohkan tenda itu.

Namun, tentara Tiongkok juga tak terima dengan tindakan tersebut. Pada 15 Juni malam mereka pun membawa bala bantuan dan menyerang pasukan India. Menurut salah satu sumber internal, 55 tentara India dikeroyok 300 tentara Tiongkok. “Kematian tentara di Galwan sangatlah menyakitkan,” cetus Menteri Pertahanan India Rajnath Singh menurut CNN.

Perselisihan itu berlangsung selama tiga sampai empat jam. Pasukan Tiongkok dikabarkan bersenjata tongkat, batu, dan batang bambu. Pemerintah memastikan tidak ada senjata api dalam konflik tersebut. Sebab, kedua negara sepakat tak membawa senjata api dalam radius 2 kilometer di Line of Actual Control (LAC).

Awalnya Angkatan Bersenjata India menyatakan bahwa tiga personel mereka meninggal. Selasa (16/6) mereka merevisi angka korban jiwa karena 17 tentara yang sempat kritis dinyatakan sudah tak bernyawa. Tentu hal tersebut membuat semua warga India marah. ”Beraninya Tiongkok membunuh tentara kami dan mengambil tanah air kami,” ujar pentolan partai oposisi, Congress Party, Rahul Gandhi.

Sementara itu, Tiongkok belum mengeluarkan pernyataan provokatif. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian mengatakan bahwa Tiongkok tak punya niat untuk terus berselisih dengan India. Di saat yang sama, dia juga menegaskan, Tiongkok bukan pihak yang salah.

Menurut versinya, pasukan India beberapa kali melewati batas demarkasi dan memprovokasi pasukan Tiongkok. “Kami meminta India bisa mengarahkan pasukan di garis depan agar tak melakukan tindakan yang provokatif,” tuturnya.

Ini bukanlah konflik perbatasan di antara kedua negara nuklir yang pertama. Pada 1975 empat tentara India ditembak mati oleh pihak Tiongkok di Negara Bagian Arunachal Pradesh. Namun, sejak itu mereka mempertahankan status quo. Terutama saat perjanjian bilateral perbatasan ditandatangani pada 1996.

Konflik kembali muncul saat pemerintah India membangun jalan baru di Ladakh. Wilayah perbatasan Aksai Chin-Ladakh merupakan daerah yang diklaim India, tapi dikuasai Tiongkok. Dari dulu India menyatakan bahwa Tiongkok menguasai 38 ribu kilometer persegi lahan yang seharusnya milik India. Proyek tersebut memancing kemarahan Tiongkok. Mereka pun mulai mengerahkan pasukan dan membangun infrastruktur di wilayah perseteruan. (bil/c9/ayi/jpg)