Demonstran Thailand Cuekin Dekrit Darurat

31
ilustrasi. (net)

Kebijakan tangan besi Pemerintah Thailand menyikapi aksi massa, ternyata tak menyurutkan niat demonstran menggelar unjuk rasa. Demi meredam unjuk rasa yang telah berlangsung sejak tiga bulan belakangan, pemerintahan Perdana Menteri Prayuth Chan- ocha sebenarnya telah menerbitkan Dekrit Darurat di Bangkok, Kamis (15/10) lalu.

Dekrit itu melarang warga berkumpul lebih dari lima orang. Tak hanya itu, peredaran informasi dan berita online yang menciptakan rasa takut dan kekhawatiran pun akan disensor, bahkan dihapus.

Kamis itu juga, menurut kelompok Hak Azazi Manusia, aparat menangkap sejumlah tokoh demonstran. Di antaranya, Arnon Nampa, karena pidatonya di Chiang Mai. Panupong Jadnok juga ditahan, namun kemudian dibebaskan.

Unjuk rasa yang semula digelar di depan Kompleks Pemerintahan atau Government House pun dihentikan. Tapi massa kemudian pindah dana tumpah ruah ke kawasan bisnis Ratchaprasong, di pusat kota Bangkok yang sibuk.

Unjuk rasa itu diikuti sekitar 10 ribu orang. Karyawan toko, karyawan kantor, hingga ma- hasiswa turut berbaur. Mereka mengecam diterbitkannya Dekrit Darurat yang berlaku hingga tiga bulan ke depan.

”Prayuth, turun!”, “Bebaskan teman kami!”, teriak para demonstran saat berhadap-hadapan dengan polisi. “Anda mendorong kami ke pojok seperti anjing,” kata Pa- nupong. Tak henti-hentinya dia mengatakan hal itu pada kerumunan massa.

Pengunjuk rasa terus melambaikan ponsel mereka yang menyala di udara. Ribuan orang duduk di atas lembaran plastik di jalanan, sambil mengemil jajanan jalanan. Mereka yang menonton dari trotoar, jumlahnya terlihat malah lebih banyak lagi. Unjuk rasa akan terus berlanjut.

”Saya tidak takut. Darurat atau tidak, saya tidak punya kebebasan,” kata salah seorang peserta aksi protes, Thanatpohn Dejkunchorn. Dia sengaja pulang kerja lebih awal untuk ikut aksi bersama teman-temannya.

Dejkunchorn mengaku ingin kebebasan ada di Negeri Gajah Putih itu. “Saya ingin bebas dari lingkaran setan ini,” tegasnya. Pedagang mie daging juga ikut berunjuk rasa. “Saya tidak takut. Saya pernah ditodong senjata,” aku Thawat Kijkunasatien, 57. Ia pernah ikut pada unjuk rasa berdarah di kawasan itu pada 1992 lalu.

“Ke mana pun anak-anak (muda demonstran) pergi, saya pergi,” katanya saat protes sambil menyeruput sekaleng bir. Aksi protes ini telah dimulai sejak pertengahan Juli lalu. Massa menghendaki Prayuth turun dari jabatannya. Selain itu, mereka juga menuntut kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn dibatasi. Namun kemarin, Juru Bicara Pemerintah Anucha Burapachaisri mengatakan, ada informasi yang tidak lengkap yang disampaikan pemimpin aksi pada peserta.

Baca Juga:  Mendag Lutfi Bertemu Dubes USTR Bahas Pemberdayaan Ekonomi Digital

”Kami harus menciptakan pemahaman dengan para pengunjuk rasa,” kata Bura-pachaisri, dikutip Reuters. Polisi mengatakan, mereka akan menangkap semua pengunjuk rasa. Meskipun mereka tidak menjelaskan bagaimana mereka akan menuntut puluhan ribu demonstran itu. Istana Kerajaan juga menolak mengomentari para pengunjuk rasa atau tuntutan mereka.

Pemerintah menyebut, aksi massa ini memicu risiko terhadap keamanan nasional dan ekonomi. Termasuk bahaya penyebaran virus korona. Karena itulah, Dekrit Darurat pun akhirnya diterbitkan.

Setidaknya, ada sekitar 40 penangkapan dalam sepekan terakhir. Belakangan, para pimpinan mahasiswa menggunakan media sosial untuk mendesak pendukung turun ke jalan. Bahkan, di antara demonstran ini ternyata juga ada siswa sekolah menengah, yang bergabung, namun menutupi nama mereka di seragam dengan lakban.

”Jelas, negara ingin menggunakan kekuasaan yang berlebihan yang tidak perduli pada rakyat,” kata seorang pelajar, Pattanun Arunpreechawat. Demonstran lainnya, Katherine, mengaku ingin ada demokrasi untuk negaranya. “Saya ingin menjadi bagian dari perubahan besar,” kata peserta aksi berusia 13 tahun itu.

Polisi memperkirakan, 10 ribu orang menghadiri aksi protes Kamis malam itu. Demonstran mulai membubarkan diri pada pukul 22.00 waktu setempat. ”Semua orang yang berkumpul hari ini, melanggar hukum,” kata Wakil Juru Bicara Polisi, Kolonel Kissana Phathanacharoen.

Prayuth pertama kali mengambil alih kekuasaan pada kudeta 2014. Prayuth pun dituding sengaja merancang Undang-Undang demi mempertahankan posisinya. Meski tuduhan ini dia bantah.

Melanggar tabu yang sudah lama ada, pengunjuk rasa juga menentang pihak Kerajaan. Istana dituding telah membantu memperkuat pengaruh militer selama beberapa dekade.
Salah satu ciri dari protes Thailand terbaru adalah, aksi dipimpin mahasiswa dan kaum muda lainnya. Sebagian besar pemimpin demo berusia sekitar 20-an.

Namun, mereka yang lebih muda pun terlihat mengikuti aksi itu. Sejumlah simbol mereka tunjukkan saat beraksi. Mulai dari memberi salam tiga jari saat protes, hingga mengikat pita di rambut dan di tas sekolah. (pyb/jpg)