Retas Laman Propaganda Junta Militer, Hacker Myanmar Tolak Kudeta

24
Seorang pengunjuk rasa memegang poster menolak penangkapan oleh militer di depan kerumunan polisi antihuru-hara dalam aksi di Yangon. (JawaPos.com)

Junta militer Myanmar tidak hanya menghadapi demonstran di dunia nyata. Mereka juga melakukan aksi di dunia maya. Yaitu, dengan cara meretas beberapa website milik pemerintah.

Aksi itu dilakukan Kamis (18/2), sehari setelah ribuan orang turun menuntut Aung San Suu Kyi dibebaskan. Seharusnya, Rabu (17/2) adalah hari terakhir penahanan pemimpin partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) itu.

Dilansir Agence France-Presse, kelompok yang menamakan diri Myanmar Hackers tersebut mengacaukan website milik Bank Sentral, halaman propaganda militer Myanmar, televisi milik pemerintah MRTV, otoritas pelabuhan, serta badan obat dan pangan. ”Kami memperjuangkan keadilan di Myanmar. Ini seperti aksi massa, tapi di depan website milik pemerintah,” bunyi pernyataan Myanmar Hackers di halaman Facebook-nya.

Pakar keamanan siber dari RMIT University, Australia, Matt Warren mengungkapkan bahwa peretasan itu dilakukan untuk mendapatkan publisitas. Yang dilakukan para peretas tersebut adalah hacktivism. Yaitu, menggunakan sistem komputer untuk alasan yang bermotif sosial dan politik. “Dampaknya terbatas. Tapi dengan melakukan peretasan itu, mereka telah meningkatkan kesadaran,” ujar Warrren.

Demonstran di Myanmar memang tidak hanya beraksi dengan cara lama seperti revolusi 1988. Mereka melakukan berbagai hal agar perhatian dunia internasional tetap menyorot terenggutnya demokrasi di Burma.

Massa menggunakan kostum, blokade jalan dengan ratusan mobil, hingga saling menjaga dan memperingatkan jika ada ancaman penangkapan aktivis. Junta militer berusaha melumpuhkan koordinasi massa dengan mematikan sistem internet berkali-kali. Alasan itu pulalah yang membuat para peretas mulai beraksi dan menggunakan kemampuannya.

Baca Juga:  Irjen Minta PPIH Atensi Soal Layanan Kursi Roda dan Jalur Bus Shalawat

Kemarin junta militer juga memblokir internet untuk keempat kalinya. NetBlocks, lembaga yang memantau pemadaman internet di dunia, mengungkapkan bahwa sekitar pukul 01.00 internet di Myanmar mati. Konektivias turun menjadi hanya 21 persen dibandingkan hari biasa. Internet berangsur normal delapan jam kemudian.

”Tindakan tersebut merugikan keselamatan publik dan memicu kebingungan, ketakutan, serta kesusahan di masa-masa sulit,” ujar kelompok yang berbasis di Inggris tersebut.
Sementara itu, aksi massa yang turun ke jalan belum surut.Ketegangan tidak hanya terjadi di Yangon dan Naypydaw, tapi juga di berbagai pelosok negeri. Polisi dikabarkan melakukan penembakan di Mandalay Rabu malam dan melukai satu orang.

Asosiasi Pendampingan untuk Tahanan Politik mengungkapkan, empat masinis yang berpartisipasi dalam aksi ditodong senjata. Mereka dipaksa untuk mengoperasikan kereta dari Mandalay ke Myitkyina.

Kemarin 11 pejabat di kementerian luar negeri juga ditahan gara-gara ikut turun ke jalan. Sejak awal kudeta, 495 orang telah ditangkap. Mereka terdiri atas para aktivis, demonstran, dan tokoh politik. Sebanyak 460 orang masih berada di tahanan. (sha/c6/bay/jpg)