Singapura Hadapi Lonjakan Kasus Baru Covid-19

Ambulans di salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di Singapura selalu siap siaga. Kesiapan sistem kesehatan Singapura diuji dengan lonjakan kasus baru. (Reuters)

Kasus baru positif Covid-19 di Singapura terus bertambah. Itu karena otoritas setempat semakin banyak melakukan pengujian. Efeknya, kasus baru juga semakin banyak ditemukan di tengah kebijakan semi lockdown yang masih diberlakukan. Siapkah Singapura menghadapi lonjakan pasien?

Singapura mulai memutuskan menutup hampir semua pusat bisnis dan pendidikan ketika kasus sudah melebihi dari 1.000 orang pada 1 April. Kemudian naik hampir enam kali lipat menjadi 5.992 pada Sabtu (19/4). Pihak berwenang waspada untuk memastikan sistem perawatan kesehatan dapat menahan tekanan yang semakin meningkat.

Para ahli seperti spesialis penyakit menular Leong Hoe Nam mengatakan rumah sakit dapat mengatasi saat ini. Tapi, mereka khawatir jumlah pasien yang masuk melebihi dari yang sembuh. Pada Sabtu (19/4) ada 2.563 pasien Coronavirus di rumah sakit dan 2.678 lainnya di fasilitas isolasi komunitas yang baru dengan 740 telah sembuh.

Singapura memiliki 11.321 tempat tidur perawatan penyakit akut di rumah sakit umum dan swasta. Data resmi untuk bulan lalu menunjukkan dari 8 rumah sakit umum setidaknya tiga perempat sudah penuh. Saat itu baru 802 kasus virus korona dan seperempat dari pasien telah pulih, dengan beberapa dirawat di fasilitas isolasi dan 420 di rumah sakit.

“Rumah sakit umum di Singapura penuh,” kata Dekan Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di National University of Singapore (NUS), Profesor Teo Yik Ying, seperti dilansir dari AsiaOne, Selasa (21/4).

Associate Professor Jeremy Lim, dari kampus yang sama, mengatakan pekan lalu ketika ada hampir 2 ribu kasus di rumah sakit, sudah membuat lebih dari 15 persen tempat tidur rumah sakit penuh.

Kasus positif terbesar ditemukan pada komunitas pekerja migran, 323 ribu di antaranya tinggal di 43 asrama dan 1.200 yang lebih kecil di seluruh pulau. Sekitar 4.162 dari pekerja tersebut terinfeksi virus dan ini 70 persen dari kasus positif di Singapura.

Penyebaran dipicu karena asrama yang penuh sesak, dengan 12 hingga 20 orang di setiap kamar. Pemerintah saat ini secara agresif menguji pekerja. Sementara itu, Teo mengatakan beberapa tekanan pada rumah sakit umum dikurangi dengan rumah sakit swasta menerima kasus yang lebih ringan.

D’Resort NTUC di Pasir Ris sudah diubah menjadi fasilitas isolasi komunitas dengan kapasitas untuk 500 pasien bergejala ringan sedang dan dinyatakan positif Covid-19. Dua aula di Singapore Expo Convention dan Exhibition Centre juga dikonversi untuk merawat 950 pasien. Sementara pembukaan aula ketiga segera dilakukan. Fasilitas komunitas Bright Vision Hospital juga memindahkan pasiennya ke fasilitas lain sehingga dapat menerima sekitar 200 pasien.

Menteri Kesehatan Gan Kim Yong pada Selasa (21/4) mengakui bahwa peningkatan infeksi baru-baru ini telah memperluas sumber daya perawatan kesehatan. “Kami masih dapat mengatasinya,” klaim Menteri Gan.

Jumlah korban meninggal di Singapura akibat Covid-19 sejauh ini 11 orang. Kekurangan yang bisa dihadapi Singapura adalah obat untuk pasien dan alat pelindung untuk petugas kesehatan. Seperti banyak negara, Singapura menggunakan obat kombinasi untuk mengobati kasus yang parah, seperti Lopinavir dan Ritonavir, yang biasa digunakan untuk pasien HIV.

Para pakar kesehatan di Asia pada pekan ini melakukan konsolidasi dan tidak ingin berspekulasi tentang kapan sistem perawatan kesehatan Singapura akan mencapai titik puncaknya. Transmisi penyakit secara luas yang menyebabkan lonjakan berkelanjutan membuat strategi pemerintah harus berubah. (*)