WHO Desak Liburan Akhir Tahun Dibatalkan

10
Tedros Adhanom Ghebreyesus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak setiap orang untuk membatalkan rencana berlibur untuk memproteksi kesehatan masyarakat, di tengah merajalelanya varian Omicron.

Varian anyar Covid-19 ini menyebar lebih cepat dibanding Delta. “Sebuah iven yang dibatalkan, jauh lebih baik ketimbang hidup yang dibatalkan,” ujar bos WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dikutip BBC.

“Itu sebabnya, kita harus membuat keputusan yang sulit. Dalam banyak hal, itu bisa diartikan dengan membatalkan atau menunda berbagai iven acara,” imbuhnya.

Pernyataan ini dilontarkan Tedros, menyusul pengetatan aturan terkait Covid dan penerbitan larangan bepergian untuk menekan laju penyebaran korona. Belanda, misalnya. Negeri Kincir Angin itu telah siap me-lockdown ketat wilayahnya selama periode Natal.

Lain halnya dengan Amerika Serikat. Sejauh ini, Presiden Joe Biden belum berencana menerapkan lockdown. Meski Ahli Penyakit Menular Dr. Anthony Fauci telah mengingatkan, perjalanan di masa Natal bisa meningkatkan penyebaran Omicron, sekalipun terhadap orang yang telah divaksin.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) dan Departemen Luar Negeri mengimbau warga Paman Sam agar tidak bepergian ke 8 negara yang masuk dalam Level 4: Kelompok Risiko Tinggi. Yakni Spanyol, Finlandia, Chad, Lebanon, Bonaire, Monaco, San Marino, dan Gibraltar.

“Saat ini, Omicron adalah varian yang paling mendominasi di AS,” ujar Fauci. Kemarin, Perdana Menteri (PM) Boris Johnson mengatakan, pemerintah Inggris perlu menyiapkan aturan baru di tengah lonjakan kasus Omicron. Namun hingga kini, belum ada pengumuman lebih lanjut terkait hal tersebut.

”Demi keselamatan masyarakat, kami membatalkan perayaan Tahun Baru di London Trafalhar Square,” ujar Wali Kota Sadiq Khan.

Omicron yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada akhir November lalu, telah dikelompokkan dalam golongan varian yang patut diwaspadai (variant of concern) oleh WHO.

Dalam keterangannya pada Senin (20/12), Tedros mengatakan, semua orang tersiksa karena pandemi Covid-19. Semua orang ingin berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Semua orang ingin hidup normal.

“Cara tercepat lepas dari pandemi Covid adalah membuat keputusan sulit untuk melindungi diri kita sendiri dan orang lain. Dalam beberapa kasus, itu berarti membatalkan atau menunda acara. Lebih baik membatalkan sekarang dan merayakannya nanti, daripada merayakan sekarang dan berduka nanti,” papar Tedros.

Tedros optimis, pandemi dapat berakhir pada tahun 2022 dengan memastikan 70 persen populasi di setiap negara telah divaksin pada pertengahan tahun depan. Dalam kesempatan tersebut, Tedros juga meminta Tiongkok sebagai negara yang pertama kali melaporkan Covid pada akhir 2019, untuk memberikan data dan informasi yang relevan.

”Kita perlu melanjutkan sampai kita tahu asal-usulnya. Kita perlu mendorong lebih keras, karena kita harus belajar dari apa yang terjadi saat ini untuk melakukan hal yang lebih baik di masa depan,” tutur Tedros.

Sementara itu, Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan, tidak bijaksana untuk menyimpulkan Omicron adalah varian yang lebih ringan dari yang sebelumnya, hanya berdasarkan temuan awal.

“Dengan jumlah kasus yang meningkat, semua sistem kesehatan akan berada di bawah tekanan,” tegas Swaminathan.

Sementara itu, Varian Omicron kini menyumbang 73 persen kasus Covid-19 di Amerika Serikat. Pemerintah Federal menyebut, angka ini naik 3 persen dibanding jumlah kasus pada pekan lalu.

Bandingkan dengan varian Delta yang sempat membikin heboh dunia. Kala itu, jumlah kasus Delta di AS hanya 27 persen. ”Varian Covid yang memiliki kemampuan mutasi ini telah terdeteksi di seluruh penjuru negara,” kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dalam pernyataan mingguan seperti dilansir Bloomberg.

Lonjakan yang cukup tinggi ini memicu kekhawatiran munculnya gelombang Covid baru, yang akan membebani sistem layanan kesehatan di AS. ABC News melaporkan, pejabat Kesehatan di Texas mengumumkan satu kasus kematian akibat varian Omicron pada Senin (20/12).

Meski varian Omicron kerap disebut tidak menimbulkan penyakit Covid gejala berat, namun lonjakan kasus bisa membuat layanan kesehatan megap-megap. CDC menyebut, varian Omicron diperkirakan mendominasi kasus Covid di New York dan New Jersey dengan angka 92 persen, serta Washington 96 persen.

Biden juga akan menyampaikan pidato terkait situasi Covid terkini di AS. Terkait hal tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki memastikan, Biden tak memiliki rencana lockdown untuk meredam lonjakan kasus Covid.

”Pidato Biden nanti akan menggarisbawahi pentingnya vaksinasi di tengah situasi pandemi, serta langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk merespon lonjakan kasus. Seperti memasifkan jumlah testing dan sebagainya,” jelas Psaki, Senin (20/12).

Sebelumnya, produsen vaksin Moderna mengatakan, vaksin booster keluarannya dapat meningkatkan level antibodi untuk melawan varian Covid. Sementara Pfizer and BioNTEch mengatakan, dosis ketiga pabrikannya dapat membantu menetralisir Omicron. (hes/jpg)