Kematian akibat Virus Covid-19 Melonjak, Lebanon Perpanjang Lockdown

52

Lebanon memperpanjang penguncian penuh atau lockdown selama dua Minggu hingga 8 Februari karena jumlah kematian akibat Covid-19 melonjak.

Negara tersebut menerapkan penguncian nasional dengan jam malam pada 7 Januari lalu dengan sejumlah pengecualian.

Namun, catatan harian kasus baru terus meningkat dan memicu protes dari para profesional kesehatan sehingga kemudian diberlakukan penguncian ketat dengan jam malam selama 24 jam sejak 14 Januari.

Awalnya dijadwalkan hanya 11 hari, tapi penguncian diperpanjang pada Kamis (21/1/2021) waktu setempat. Diperpanjang hingga 8 Februari.

Di bawah langkah-langkah ketat itu kebanyakan bisnis dan pabrik harus tutup di negara yang tengah mengalami krisis keuangan tersebut. Supermarket dan restoran hanya dapat beroperasi melalui layanan pengiriman ke rumah.

Assem Araji, Kepala Komite Kesehatan Parlemen Lebanon mengatakan, penguncian dapat diperpanjang jika jumlah kasus tetap tinggi.

Dalam seminggu terakhir, dari 14 Januari hingga 21 Januari, rekor kematian harian dipecahkan lima hari dari tujuh hari, dengan total 411 orang meninggal. Seminggu sebelumnya, totalnya 159 orang.

“Ini semakin buruk,” kata seorang dokter unit perawatan intensif (ICU) Beirut kepada Al Jazeera. Sejauh ini tidak ada tempat tidur ICU yang tersisa di ibu kota dan bahkan ruang gawat darurat telah penuh sesak.

Baca Juga:  Mendag Lutfi Bertemu Dubes USTR Bahas Pemberdayaan Ekonomi Digital

Banyak rumah sakit telah mengumumkan bahwa mereka hanya akan melakukan prosedur terhadap pasien non-Covid dalam kasus yang mendesak.

“Kami harus menolak pasien… Banyak yang di rumah menggunakan oksigen dan dalam daftar tunggu. Orang-orang benar-benar berjuang untuk menemukan rumah sakit di daerah mereka,” kata dokter tersebut tanpa mau menyebut nama karena sensitivitasnya dari masalah ini.

Lebanon sejauh ini telah memesan atau hampir melakukan pemesanan untuk lebih dari enam juta dosis vaksin. Sebanyak 2,1 juta vaksin dari Pfizer, lebih dari 2,5 juta vaksin melalui program COVAX Organisasi Kesehatan Dunia, dan dua juta lagi dari Astra-Zenica. “Cukup untuk tiga juta penduduk,” kata Araji.

Bank Dunia pada Kamis (21/1/2021) mengumumkan telah menyetujui pinjaman USD 34 juta untuk membayar vaksin bagi lebih dari dua juta orang di Lebanon.

Araji mengatakan bahwa 250.000 dosis vaksin Pfizer akan tiba pada kuartal pertama tahun ini; 350.000 kuartal kedua; 800.000 kuartal ketiga; dan 600.000 kuartal keempat.

“Vaksin untuk sumber lain juga akan diluncurkan dalam periode waktu yang sama, tetapi metode pastinya belum jelas,” katanya. (AlJazeera/idr)