PM Prayuth Gagal Dilengserkan, Demonstran Serbu Parlemen Thailand

11
Warga memadati halaman gedung parlemen untuk memprotes lolosnya Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha dari mosi tak percaya. (net)

Kondisi politik di Thailand, memanas lagi. Kelompok oposisi di negeri tersebut menggeruduk gedung parlemen pasca-Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-ocha dan sembilan menteri, lolos dari usulan mosi tak percaya.

Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di luar Gedung parlemen Thailand, hingga Sabtu malam (20/2), usai pengumuman parlemen menolak usulan menjatuhkan opsi mosi tak percaya terhadap PM Prayuth Chan-ocha dan sembilan menteri Negeri Gajah Putih.

Hasil keputusan itu, sudah diprediksi. ”Itu mengecewakan, tapi sudah diduga,” kata pemimpin protes, Attapon Buapat, dikutip dari Channel News Asia, kemarin.
Koordinator aksi menjamin unjuk rasa mereka tidak akan berubah menjadi kekerasan. ”Tidak ada alasan bagi polisi untuk membubarkan demonstrasi ini,” ucap Panusaya ”Rung” Sithijirawattanakul.

Wakil juru bicara polisi, Kissana Pattanacharoen, mengatakan, para demonstran telah melanggar keputusan darurat untuk mengendalikan pandemi korona. ”Tugas polisi adalah menjaga ketertiban,” ujarnya saat ditanya apakah akan ada penggunaan kekerasan.

Dalam pemungutan suara, mayoritas anggota dewan menyatakan dukungan terhadap Prayuth dan menteri lainnya. ”Hasil perhitungan suara masih ada rasa percaya (pada Perdana Menteri),” kata Chuan Leekpai, Presiden Dewan Nasional, saat mengumumkan hasil perhitungan suara.

Sementara, legislator oposisi kecewa dengan hasil pemungutan suara. “Kami telah membuka luka dan sekarang akan menabur garam di atasnya,” kata Pita Limjaroenrat, ketua Partai Pergerakan, pihak oposisi, setelah pengumuman suara.

Pita mengatakan, Pemerintah lambat dalam menjalankan program vaksinasi dan kebijakan ekonomi. Ditegaskannya, pihaknya akan terus menyelidikinya. Prayuth adalah mantan panglima angkatan bersenjata. Dia menggulingkan PM terpilih pada 2014.

Dia tetap menjabat setelah pemilu 2019. Lolosnya Prayuth dari usulan mosi tidak percaya sudah diperkirakan banyak kalangan. Sebab, koalisi pendukung Pemerintah mengisi mayoritas kursi di Majelis Rendah.

“Debat berjalan lancar, tapi pemerintah harus melanjutkan pekerjaannya. Saya ingin meminta semua rakyat Thailand untuk bekerja sama untuk memajukan negara,” kata Prayuth dalam podcast setelah pemungutan suara.

Massa Demo Lagi
Sementara itu, kekisruhan politik di Myanmar belum menunjukkan akan mereda. Puluhan ribu penentang kudeta militer kembali berkumpul, kemarin. Sehari sebelumnya, dua demonstran tewas di kota Mandalay, saat polisi menembaki para pengunjuk rasa penentang kudeta militer pada 1 Februari, lalu.

Setelah peristiwa berdarah itu, platform media sosial Facebook memutuskan untuk membekukan akun berita di Facebook milik militer Myanmar atau yang dijuluki Tatmadaw karena dianggap menghasut dan mengarahkan opini publik. (pyb/jpg)