India Bersikap Lunak Hadapi Tiongkok

Tentara China dan India. (Foto internet)

India berusaha tenang dan melunak menghadapi kekuatan raksasa Tiongkok pasca bentrokan sengketa wilayah di wilayah perbatasan Lembah Galwan.

Dalam insiden itu, 20 tentara India tewas dan 70 lainnya terluka. Namun, Perdana Menteri India Narendra Modi berusaha menenangkan situasi agar ketegangan dua negara mereda.

Dilansir dari Global Times, Senin (22/6), para analis Tiongkok dan beberapa suara positif di India memperingatkan bahwa New Delhi harus mendinginkan situasi di dalam negeri.

India dinilai akan lebih dipermalukan jika tidak dapat mengendalikan sentimen anti-Tiongkok di dalam negeri dan mengedepankan konflik militer dengan tetangga terbesarnya.

Narendra Modi sebelumnya mengatakan pada Jumat (19/6), bahwa pemerintahnya telah memberikan arahan pada angkatan bersenjata untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Dan ucapannya berusaha menenangkan.

“Tidak ada yang menyusup ke perbatasan kami, tidak ada pergerakan di sana sekarang, juga tidak ada orang di pos kami yang ditangkap,” kata Modi soal bentrokan di Lembah Galwan menurut laporan Reuters.

Pengamat Tiongkok mengatakan, Modi berusaha menanggapi kaum nasionalis dan garis keras dengan pembicaraan keras. Namun, dia memahami negaranya tidak mampu berkonflik lebih lanjut dengan Tiongkok. Sehingga dia juga berupaya untuk meredakan ketegangan.

Seorang profesor di Pusat Studi Asia Selatan Universitas Fudan di Shanghai, Lin Minwang mengatakan kepada Global Times komentar Modi akan sangat membantu untuk meredakan ketegangan. Sebagai perdana menteri, dia telah mengutamakan landasan moral.

Pakar militer yang bermarkas di Beijing, Wei Dongxu mengatakan kepada Global Times bahwa pernyataan Modi adalah untuk menenangkan massa India dan meningkatkan moral pasukan India.

Modi bermain dengan kata-kata untuk menghindari eskalasi karena dia tidak ingin benar-benar mengarahkan pasukannya dengan mendorong mereka untuk memulai bentrokan lanjutan.

Kemampuan Tiongkok yang kuat tidak hanya dalam hal militer, tetapi juga punya pengaruh kuat dalam percaturan internasional yang lebih tinggi dari India.

“Wajar untuk melihat nasionalisme yang memanas di India. Ketika India berkonflik dengan Pakistan atau tetangga lain, nasionalisme mungkin mendorong negara itu untuk mengambil sikap tegas, tetapi ketika berhadapan dengan Tiongkok, itu adalah cerita yang berbeda,” kata Lin.

Pemerintah dan pemimpin militer India memahami betapa kuatnya Tiongkok, sementara nasionalis India terlalu sombong. Untuk saat ini, India harus fokus pada masalah epidemi dan ekonomi sendiri. Menurut Wei, berselisih dengan tetangga tidak akan ada gunanya bagi India.

Tiongkok sedang sangat terkekang dalam upayanya menghindari konflik, tetapi ini tidak membuat Tiongkok takut akan provokasi atau agresi dari negara mana pun, terutama India. Pengamat militer Tiongkok mengatakan bahwa konflik militer berskala besar yang meningkat tidak akan menguntungkan India.

Hal itu karena militer Tiongkok memiliki sistem tempur yang terinformasi yang mengintegrasikan semua pasukan, senjata dan peralatan bersama.

Tiongkok juga memiliki pasukan dan perwira yang sangat disiplin dengan kesadaran taktis yang canggih. Namun, jika konflik pecah, keunggulan besar Tiongkok dalam transportasi dan industri militer mutlak dibanding India.

“Inilah sebabnya India tidak berani melancarkan serangan penuh dalam beberapa dekade tetapi kadang-kadang hanya menciptakan ketegangan tingkat rendah,” katanya.

Ekonom India, Swaminathan Aiyar mengatakan dalam sebuah laporan Economic Times bahwa kesenjangan antara Tiongkok dan India secara militer dan ekonomi lima kali lebih besar daripada tahun 1962. Oleh karena itu, India perlu mempertimbangkan secara matang apabila tetap mencoba beradu kekuatan militer dengan Tiongkok. (jpg)