Pandemi Covid-19 Guncang Dana Kesehatan

7
Ilustrasi. (net)

Pandemi Covid-19 tidak hanya merenggut nyawa secara langsung, tapi juga tidak langsung. Unicef memperkirakan 917 ribu nyawa ibu dan anak-anak melayang dalam 12 bulan ke depan di Asia Selatan. Sebanyak 881 ribu di antaranya balita.

Mereka tewas bukan karena tertular Covid-19. Melainkan karena tidak mendapatkan imunisasi, nutrisi yang memadai, dan layanan kesehatan lainnya. Banyak negara maupun lembaga yang mengalihkan anggaran bantuan untuk kegiatan tersebut ke penanganan Covid-19.

“Efek samping pandemi di Asia Selatan telah menghancurkan anak-anak dalam berbagai cara,” ujar Direktur Regional Asia Selatan Unicef Jean Gough dalam laporan yang dirilis Selasa (23/6).

Mayoritas kematian bakal terjadi di India dan Pakistan. Bangladesh serta Afghanistan juga bisa mengalami hal serupa. Sebagai contoh, setidaknya 1,5 juta anak-anak di Uttar Pradesh, India, tidak menjalani vaksinasi karena pemerintah menerapkan lockdown nasional.

Pendapatan yang menurun dan perekonomian yang terpuruk juga berdampak pada kemampuan finansial tiap keluarga untuk memberikan makanan yang bergizi, pemeriksaan kesehatan, dan pendidikan.

Dilansir Agence France-Presse, hampir 258 juta anak-anak tidak memiliki akses pendidikan pada 2018 karena faktor kemiskinan. Mayoritas ada di negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah, dan Sub-Sahara Afrika. Pandemi Covid-19 memperparah situasi yang sudah ada tersebut. Sebab, 90 persen populasi siswa di dunia harus belajar di rumah karena sekolah-sekolah ditutup.

Situasi tersebut tidak bermasalah bagi anak-anak dari keluarga mampu. Mereka bisa tetap sekolah via daring dari rumah dengan menggunakan laptop, telepon genggam, dan akses internet yang kencang. Namun, jutaan lainnya tidak mampu melakukannya. Sebab, mereka tinggal di area pedesaan, bahkan pedalaman yang belum terjangkau internet.

”Tanpa tindakan segera, Covid-19 bisa menghancurkan harapan dan masa depan seluruh generasi,” tegas Gough. Dirjen Unesco Audrey Azoulay meminta tiap negara belajar dari masa lalu. Termasuk ketika ebola mewabah. Yaitu, krisis kesehatan bisa membuat banyak pihak tertinggal. Terutama remaja putri di negara-negara miskin yang berakhir dengan tidak pernah kembali ke sekolah.

Sementara itu, Afrika Selatan akan melakukan uji coba vaksin pekan ini. Vaksin yang dikembangkan Oxford Jenner Institute itu adalah yang pertama berhasil memasuki fase uji coba di Benua Afrika. Vaksin bernama ChAdOx1 nCoV-19 tersebut sudah dievaluasi di Inggris dan ada 4 ribu partisipan yang setuju untuk menjadi relawan percobaan. ”Relawan pertama akan divaksin pekan ini,” bunyi pernyataan Profesor Vaksinologi University of Witwatersrand (Wits) Shabir Madhi. (sha/c19/dos/jpg)