Korsel bakal Dihantam Gelombang Kedua Korona

Para petugas dilengkapi pakaian pelindung menyemprotkan cairan disinfektan di sebuah pasar di daerah Daegu, Korea Selatan, menyusul meluasnya wabah virus korona di negara itu, Minggu (23/2). (IST)

Kasus penularan Covid-19 di Korea Selatan kembali melonjak setelah adanya dua klaster penularan baru. Sedikit lagi, Negeri Ginseng bakal dihantam gelombang kedua wabah korona. Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) mencatatkan 397 kasus baru pada Sabtu malam (22/8). Ini merupakan jumlah tertinggi sejak Negeri Gingseng berhasil melandaikan jumlah penularan pada Maret.

Sejumlah langkah pembatasan aktivitas warga dan penelusuran kontak dengan mereka yang tertular langsung dilakukan. Sebelumnya, pengetatan pembatasan sesungguhnya telah dilakukan sejak pekan lalu di wilayah ibu kota, Seoul.

Pembatasan dilakukan setelah jumlah kasus harian mencapai 300 kasus dalam dua hari berturut-turut. “Kami berada pada tahap yang sangat genting, di mana kami dapat melihat awal gelombang kedua secara nasional,” terang Menteri Kesehatan Park Neung-hoo.
Dia menambahkan, dua klaster telah ditetapkan sebagai pusat penularan utama beberapa kasus baru di Seoul. Klaster pertama adalah pertemuan anggota partai politik.

Sedangkan klaster kedua merupakan sebuah misa di Gereja Sarang Jeil. Sayangnya, pihak Gereja Sarang Jeil malah menuntut pemerintah karena telah menuduh mereka memiliki jumlah jemaat positif yang banyak.

Gereja Sarang Jeil merupakan kelompok keagamaan kedua yang dituduh menjadi penyebab lonjakan kasus di Negeri Gingseng itu sejak 12 Agustus lalu. Pemerintah menuduh gereja menghalangi upaya untuk mencegah penyebaran wabah dengan tidak memberikan daftar lengkap anggotanya.

Serta menyebarkan berita palsu yang semakin menghambat usaha penanganan wabah sehingga menyebar cepat. Sementara, anggota gereja menyebut diri mereka sebagai korban perburuan penyihir yang bernuansa politis.

Saat kasus infeksi pertama melibatkan jemaat Sarang Jeil diumumkan, pemerintah menjelaskan anggota gereja melanggar instruksi jarak sosial. Tiga hari kemudian, para pemimpin gereja serta jemaat menghadiri unjuk rasa besar anti-Presiden Moon Jae In di Seoul pada 15 Agustus. Dalam unjuk rasa itu Pendeta Jun Kwang Hoon mengatakan, Moon meneror gereja dengan virus Wuhan.

Baca Juga:  Presiden Perintahkan Komite Penanganan Covid-19 Lakukan Mini Lockdown

Merujuk pada kota di Tiongkok tempat awal mula wabah. Kementerian Kesehatan Korsel menyatakan, telah melaporkan Jun karena melanggar aturan isolasi mandiri dengan berpartisipasi dalam unjuk rasa.

Serta menghalangi penyelidikan medis.Pria yang juga dikenal sebagai kritikus pemerintah itu kemudian dites positif Covid-19. Hingga Sabtu (22/8), total kasus Covid-19 melibatkan gereja Sarang Jeil di Seoul utara mencapai 796 orang.

Ini merupakan klaster penularan terkait aktivitas keagamaan terbesar sejak kasus Gereja Yesus Shincheonji melibatkan lebih dari 5.000 jemaat pada akhir Februari. Selain itu kasus gereja Sarang Jeil merupakan lonjakan besar pertama di Korea Selatan belakangan ini. Yang membuat total kasus di negara itu menjadi 16.670 penderita.

Presiden Moon Jumat lalu menyerukan hukuman bagi siapa pun yang menghalangi langkah pencegahan wabah virus corona. Termasuk mereka yang menyebarkan berita palsu. Langkah-langkah pembatasan diperluas. Termasuk pembatasan pertemuan dan pertandingan olahraga yang akan diberlangsungkan tanpa penonton lagi. Semua pantai di Korea Selatan juga akan ditutup.

Sebelumnya, Korsel termasuk salah satu negara yang pertama kali menemukan kasus Covid-19 selain di dataran Tiongkok. Tapi, Korsel berhasi mengendalikannya dengan pelacakan (tracing) dan tes secara masif. (day/jpg)