15 Orang Tewas Dihantam Bom di Filipina

Tentara yang terluka dievakuasi ke ambulans dengan menggunakan tandu. Ledakan di Jolo pada Senin (24/8) terjadi saat militer Filipina mengadakan operasi keamanan. (net)

Sedikitnya 15 orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka, setelah dua ledakan menghantam Kota Jolo di Filipina selatan. Menurut pihak berwenang Filipina, salah satunya dilakukan oleh seorang perempuan pembom bunuh diri.

Jolo adalah salah satu rangkaian pulau yang mayoritas penduduknya Muslim di barat daya Filipina yang mayoritas warganya menganut agama Katolik Roma. Kepala Palang Merah Filipina, Richard Gordon mengatakan, ledakan pertama terjadi sekitar tengah hari pada Senin (24/8) di Ibu Kota Sulu, salah satu provinsi paling selatan negara itu.

Gordon, yang juga seorang senator, mengatakan, sebuah sepeda motor yang memuat bahan peledak rakitan meledak di dekat sebuah truk militer. Sementara kantor Palang Merah di Jolo terletak di dekat lokasi ledakan.

Menurut laporan sejumlah media yang dihimpun kantor berita Al Jazeera, ketika pihak berwenang mengepung daerah tersebut, ledakan kedua dilaporkan dilakukan oleh seorang perempuan pembom bunuh diri.

“Seorang perempuan pembom bunuh diri meledakkan diri, saat seorang tentara menghentikannya memasuki daerah yang dikepung,” kata Juru Bicara militer, Letnan Kolonel Ronaldo Mateo, kepada stasiun radio DZMM Manila.

Menurut channel milik pemerintah Filipina, PTV, ledakan itu terjadi tak jauh dari lokasi ledakan besar yang menewaskan lebih dari 20 orang di dalam sebuah gereja Katolik pada awal 2019.

Gambar yang diposting oleh PTV di media sosial pada Senin (24/8) menunjukkan puing-puing dan mayat tergeletak di jalan di samping kendaraan militer. Dilansir CNN, ledakan terjadi pada pukul 11.53. Kepala Komando Mindanao Barat Letjen Corleto Vinluan mengungkapkan bahwa seseorang meninggalkan sepeda motor yang ditempeli alat peledak di depan Paradise Food Shop.

Pada saat kejadian, supermarket itu ramai. Militer Filipina tengah melaksanakan operasi keamanan. Tiba-tiba saja, bom rakitan di sepeda motor tersebut meledak. Beberapa orang tewas dan luka-luka.

Pengamanan langsung dilakukan. Jalan-jalan ditutup. Militer dan petugas kepolisian dikerahkan ke lokasi. Namun, sekitar pukul 13.00, ledakan kedua terjadi di jalan yang sama dekat Development Bank. Korban tewas maupun luka kembali berjatuhan. Serangan kedua adalah bom bunuh diri.

Baca Juga:  Hasil Modifikasi Obat Kanker, Singapura Siapkan Vaksin Covid-19

Pelaku berusaha masuk ke area yang sedang disterilkan. Seorang tentara berupaya menghentikannya. Namun, perempuan yang identitasnya belum diketahui itu lebih dulu meledakkan diri. Pelaku dan tentara tersebut tewas di lokasi kejadian.

Insiden ini adalah satu dari setidaknya enam peristiwa pemboman bunuh diri dalam tiga tahun terakhir, modus serangan yang sebelumnya jarang terjadi di Filipina. Tidak ada klaim siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini. Sementara Kepala Polisi Filipina, Jenderal Archie Francisco Gamboa menyatakan, dia telah memerintahkan penyelidikan atas insiden mematikan tersebut.

Sulu dikenal sebagai markas kelompok Abu Sayyaf, kelompok bersenjata yang telah bersekutu dengan ISIL (ISIS). Abu Sayyaf telah lama berjuang untuk kemerdekaan di wilayah selatan Mindanao, yang mereka anggap sebagai tanah air leluhur mereka sejak masa penjajahan pra-Spanyol. Kelompok ini terkenal dengan berbabagi aksi penculikan, perampokan hingga pemboman yang mematikan.

Sementara Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte melalui Juru Bicara Kepresidenan, Harry Roque menyatakan mengutuk keras kejadian ini. “Pihak berwenang sekarang sedang melakukan penyelidikan, termasuk mengidentifikasi individu atau kelompok di balik serangan pengecut ini,” tegasnya.

Juni lalu, empat tentara tewas di Jolo, menyusul dugaan konfrontasi dengan petugas polisi, yang memicu ketegangan antara kedua pasukan pemerintah tersebut. Tentara itu dilaporkan sedang mengejar tersangka pejuang bersenjata, ketika mereka dihentikan oleh polisi yang menyebabkan insiden mematikan itu.

Sebelumnya, seorang komandan militer di Mindanao, Mayor Jenderal Vinluan mengatakan kepada para senator di Manila, bahwa mungkin bahwa petugas polisi yang terlibat dalam penembakan itu memiliki hubungan darah dengan tersangka kelompok Abu Sayyaf yang dikejar oleh militer. “Itu mungkin. Karena hampir semua orang berhubungan satu sama lain di Sulu. Ada ASG (Kelompok Abu Sayyaf) yang punya kerabat di kepolisian. Sulu itu kecil,” ujarnya. (day/jpg)