2060 Arab Saudi Targetkan Emisi Nol Bersih, Produksi Minyak Jalan Terus

8
Mohammed bin Salman.(REUTERS)

Eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi, telah berjanji untuk menyusutkan emisi karbonnya menjadi nol pada tahun 2060.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mengatakan, pihaknya akan menginvestasikan lebih dari 180 miliar dolar AS untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, produksi minyak tetap akan dilakukan dalam beberapa dekade mendatang.

Pengumuman ini disampaikan MBS, beberapa hari sebelum KTT Perubahan Iklim COP26, yang menjadi pertemuan para pemimpin dunia dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, serta menekan pemanasan global.

Arab Saudi kini bergabung dengan lebih dari 100 negara, yang telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih. Nol bersih berarti tidak menambah jumlah gas rumah kaca di atmosfer.

Ini dicapai dengan kombinasi pengurangan emisi sebanyak mungkin – terutama dengan mengurangi gas seperti karbon dioksida (CO2), yang menjadi output penggunaan bahan bakar fosil. Serta apa yang disebut tindakan penyeimbang, seperti penanaman pohon dan teknologi penangkapan karbon.

Sementara Tiongkok dan Rusia memiliki rencana untuk mencapai nol bersih pada tahun 2060, negara-negara lain termasuk AS, Inggris, Uni Emirat Arab, dan produsen minyak utama lainnya menargetkannya 10 tahun lebih awal.

Langkah Saudi ini menandai suatu perubahan nyata, dari penghasil karbondioksida terbesar ke-10 di dunia. Selama ini Saudi selalu menolak seruan untuk memangkas investasinya dalam bahan bakar fosil.

Namun pekan ini, dokumen yang bocor ke BBC mengungkapkan, pejabat Saudi telah meminta PBB untuk menurunkan kebutuhan terhadap bahan bakar fosil, menjelang pertemuan COP26, yang dimulai di Glasgow pada 31 Oktober mendatang.

Baca Juga:  Mendag Lutfi Bertemu Dubes USTR Bahas Pemberdayaan Ekonomi Digital

Dalam acara peluncuran konferensi iklim di Riyadh, MBS yang merupakan penguasa de facto Arab Saudi mengaku siap mencapai target, tanpa mempengaruhi stabilitas pasar energi global. Selain itu, MBS juga menegaskan tekadnya, untuk mengurangi emisi metana hingga 30 persen pada tahun 2030.

“Rencana tersebut akan tergantung pada ketersediaan teknologi yang diperlukan untuk mengelola dan mengurangi emisi,” kata MBS kepada BBC, Sabtu (23/10).

Terkait hal ini Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman memaparkan, Saudi akan menggunakan penangkapan karbon teknologi yang mengekstrak CO2 dari udara untuk membantu mencapai tujuan.

Awal tahun ini, Saudi menyatakan siap mengurangi emisi karbon dengan beralih ke energi terbarukan dan menanam miliaran pohon. Richard Black, rekan senior di Unit Intelijen Energi dan Iklim (ECIU), sebuah lembaga think tank yang berbasis di Inggris, sangat mengapresiasi target nol bersih Arab Saudi.

Untuk menguatkan tujuan tersebut, Black menilai pentingnya menerbitkan rencana yang menjelaskan upaya mencapai tujuan tersebut.

”Saya masih melihat adanya ketidakjelasan. Akan sangat baik, jika hal itu menjadi jelas. Komitmen penangkapan karbon yang dipaparkan pun, tampaknya masih bersifat spekulatif,” tuturnya.

Karena target nol bersih hanya berlaku untuk emisi domestik, kemungkinan Saudi tidak perlu mengurangi produksi minyak dan gasnya. Emisi karbon dari bahan bakar fosil yang dibakar oleh negara importir, tidak akan dihitung.

”Ada banyak orang yang akan bersikap sinis tentang hal ini. Kecuali, Saudi berencana menurunkan produksi minyak dan gasnya dalam rencana menuju target nol bersih,” tandas Black. (hes/jpg)