Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Iran Ancam Hancurkan Koalisi Kapal Perang AS di Selat Hormuz

N
Penulis: Novitri Selvia❯

JALUR PENTING: Selat Hormuz jalur penting dari 20 persen energi dunia.
JALUR PENTING: Selat Hormuz jalur penting dari 20 persen energi dunia.

PADEK.JAWAPOS.COM-Ketegangan di kawasan Selat Hormuz masih menjadi perhatian dunia. Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis itu tidak sepenuhnya ditutup.


Advertisement

Pembatasan total hanya diberlakukan bagi kapal AS, Israel, dan negara sekutunya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sudah menyatakan bahwa kapal dari negara lain masih dapat melintasi Selat Hormuz.

“Selat Hormuz hanya ditutup bagi kapal Amerika dan Israel. Banyak kapal tanker dan kapal lain masih bisa melintas,” kata Araghchi, Sabtu (15/3), seperti dikutip The Jerusalem Post.

Meski demikian, banyak kapal memilih menghindari jalur itu karena kekhawatiran keamanan. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair (LNG).

Advertisement

Gangguan di jalur itu memicu ketidakpastian di pasar energi global sejak perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari lalu.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan membentuk koalisi internasional untuk memastikan jalur pelayaran tersebut tetap terbuka.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, sejumlah negara akan mengirim kapal perang untuk mengawal pelayaran di kawasan itu.

Advertisement

Dilansir Al Jazeera, Trump menyebut negara-negara yang terdampak langsung gangguan jalur tersebut antara lain China, Perancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.

Menurutnya, pengawalan diperlukan untuk menjaga keamanan pelayaran. Trump bahkan memperingatkan bahwa Amerika siap membombardir garis pantai Iran jika terjadi serangan terhadap kapal di kawasan Selat Hormuz.

Namun, sejumlah analis menilai rencana tersebut berisiko tinggi. Profesor studi media dari Doha Institute for Graduate Studies Mohamad Elmasry mengatakan, pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz merupakan misi yang sangat berbahaya.

“Kapal tanker bergerak lambat dan menjadi target besar di jalur perairan yang sempit,” katanya.

Menurut dia, Iran memiliki drone Shahed dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer. Drone itu dapat menyerang kapal dari wilayah daratannya.

Risiko serangan itu juga membuat perusahaan asuransi enggan menanggung kapal maupun awak yang melintasi kawasan tersebut.

Sementara itu, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Alireza Tangsiri membantah klaim AS yang menyebut kemampuan militer Iran telah dihancurkan.

Menurutnya, Selat Hormuz belum ditutup secara militer, tetapi tetap berada di bawah kendali Iran. Dia juga menyindir rencana Trump yang akan mengawal kapal tanker di kawasan itu.

“Amerika keliru mengklaim telah menghancurkan angkatan laut Iran. Sekarang mereka bahkan meminta bantuan negara lain,” tulisnya di platform X.

Meski ketegangan meningkat, beberapa kapal masih berhasil melintasi selat tersebut. Dua kapal tanker berbendera India yang mengangkut gas petroleum cair dilaporkan melintas dengan aman setelah memperoleh izin khusus dari Teheran.

Izin itu diberikan setelah pembicaraan langsung antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Selain itu, sebuah kapal milik Turki juga diizinkan melintas setelah negosiasi dengan Iran, meski 14 kapal Turki lainnya masih menunggu persetujuan.

Pembatasan pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran global. Jalur ini bukan hanya penting bagi perdagangan energi, tetapi juga bagi pengiriman gas alam cair yang menjadi bahan baku pupuk nitrogen untuk produksi pangan dunia.

Kepala urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Tom Fletcher memperingatkan bahwa gangguan jalur tersebut dapat mengancam distribusi bantuan kemanusiaan.

“Jutaan orang berisiko jika kargo kemanusiaan tidak dapat melewati selat dengan aman,” katanya.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, sedikitnya 1.444 orang dilaporkan tewas di Iran. Ketegangan juga meluas ke kawasan lain di Timur Tengah dengan serangan drone dan rudal yang terus terjadi di sejumlah negara Teluk.

Pakar keamanan Timur Tengah dari King’s College London Andreas Krieg menilai seruan Trump untuk membentuk koalisi kapal perang lebih merupakan upaya menenangkan pasar daripada solusi nyata.

Menurutnya, tidak ada solusi militer cepat untuk membuka Selat Hormuz. Iran cukup melakukan serangan sporadis untuk membuat perusahaan asuransi menarik perlindungan kapal yang melintas.

“Tanpa kesepakatan diplomatik, mengirim kapal perang hanya akan membuat kapal mahal menjadi target bagi senjata yang jauh lebih murah,” ujarnya. (lyn/oni/jpg)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Trump Komentari Kekalahan Inggris dari Argentina, Soroti Peran Harry Kane

Trump Komentari Kekalahan Inggris dari Argentina, Soroti Peran Harry Kane

Donald Trump kritik taktik Inggris saat kalah 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Harry Kane terlalu difokuskan di pertahanan.

Trump Teken MoU, Iran Tegaskan Uranium dan Rudal Bukan Objek Negosiasi

Trump Teken MoU, Iran Tegaskan Uranium dan Rudal Bukan Objek Negosiasi

Trump meneken MoU dengan Iran di Paris, sementara Teheran menegaskan uranium dan program rudal tidak masuk agenda negosiasi.

Pasar Saham Asia Menguat dan Harga Minyak Turun Setelah AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata

Pasar Saham Asia Menguat dan Harga Minyak Turun Setelah AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata

Pasar saham Asia Pasifik melonjak setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Harga minyak Brent turun dan investor menyambut positif.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer