AS Terancam Digulung Kerusuhan Rasial Lagi

ilustrasi. (net)

Amerika Serikat (AS) terancam kembali digulung kerusuhan rasial. Penyebabnya, Senin (24/8) polisi menembak pria kulit hitam yang duduk di mobil SUV bersama tiga anaknya. Jika hal ini tak ditangani dengan baik, AS bisa kembali membara seperti yang terjadi usai penganiayaan George Floyd.

Insiden penembakan pria bernama Jacob Blake, 29 ini terjadi di Kota Kenosha, Wisconsin. Ini merupakan kasus kesekian dari aksi polisi Negeri Paman Sam yang menganiaya warga kulit hitam.

Akibat kejadian ini, puluhan orang berkumpul di gedung pengadilan daerah Kenosha untuk berunjuk rasa pada Senin malam, atau, beberapa menit sebelum jam malam diberlakukan.
Beberapa dari mereka yang hadir berhadapan dengan polisi anti huru-hara yang mengenakan alat pelindung. Pengunjuk rasa yang marah akibat kejadian itu membakar mobil, memecahkan jendela, dan bentrok dengan petugas anti huru-hara pada Minggu malam waktu setempat.

Ketegangan juga terjadi pada Senin pagi waktu setempat setelah konferensi pers Wali Kota Kenosha, John Antarmian, yang semula akan diadakan di taman, lalu dipindahkan ke dalam gedung keamanan publik kota.

Ratusan pengunjuk rasa bergegas menuju gedung, hingga akhirnya polisi anti huru-hara menyemprot kerumunan, termasuk seorang fotografer Associated Press, dengan gas air mata.

Dalam rekaman video ponsel yang tersebar luas, Blake terlihat ditembak dari belakang saat ia bersandar di mobil SUVnya. Sementara ketiga anaknya duduk di dalam kendaraan.
Saat ini Blake dirawat di rumah sakit dalam kondisi parah. Pria yang mengaku merekam penembakan itu, Raysean White, 22 mengatakan, dia melihat Blake berkelahi dengan tiga petugas dan mendengar mereka berteriak “Jatuhkan pisaunya! Jatuhkan pisaunya!” sebelum bunyi tembakan.

Dia mengatakan tidak melihat pisau di tangan Blake. Penembakan itu terjadi pada Minggu sekitar pukul 17.00 sore waktu setempat. Dalam rekaman video, Blake terlihat berjalan dari trotoar di sekitar bagian depan SUV-nya ke pintu sisi pengemudi saat petugas mengikutinya dengan senjata mengarah dan berteriak padanya.

Baca Juga:  Dikirimi Surat Berisi Racun Mematikan, Trump jadi Target Pembunuhan

Saat Blake membuka pintu dan bersandar di SUV, seorang petugas menarik kemejanya dari belakang dan melepaskan tembakan, sementara Blake membalikkan punggungnya.
Tujuh tembakan terdengar, meskipun tidak jelas berapa tembakan yang mengenai Blake atau berapa banyak petugas yang melepaskan tembakan.

Polisi mengatakan, mereka menanggapi panggilan adanya perselisihan, mereka tidak mengatakan apakah Blake bersenjata atau mengapa polisi melepaskan tembakan.
Polisi juga tidak merilis rincian tentang perselisihan itu dan tidak segera mengungkapkan ras ketiga petugas polisi di tempat kejadian penembakan Blake.

Untuk menghindari kerusuhan, Gubernur negara bagian Wisconsin, Tony Evers berinisiatif memanggil Korps Garda Nasional, untuk mengantisipasi ketegangan di Kota Kenosha.
Dia khawatir, Kenosha bisa menjadi titik baru kerusuhan rasial akibat kejadian itu, usai gelombang demo akibat kematian George Floyd akibat kekerasan polisi di Minneapolis, Minnesota.

Diberitakan New York Post, Selasa (25/8), Evers mengatakan 125 anggota Korps Garda Nasional berada di Kenosha pada malam hari dan bertugas menjaga infrastruktur dan memastikan petugas pemadam kebakaran dan orang lain yang terlibat terlindungi.

Pemerintah daerah setempat juga mengumumkan menerapkan jam malam mulai pukul 20.00 waktu setempat. Evers mengatakan, belum mendapat informasi yang menunjukkan bahwa Blake memiliki pisau atau senjata lain saat kejadian.

Namun, kasus itu masih diselidiki oleh Departemen Hukum Negara Bagian Wisconsin. Evers mengutuk insiden itu dengan mengatakan, meski tidak semua detail diketahui, yang kami tahu dengan pasti adalah, dia bukanlah orang atau orang kulit hitam pertama yang ditembak atau terluka atau dibunuh tanpa ampun di tangan aparat hukum di negara bagian atau negara kita.

Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, mendesak supaya kejadian itu segera diusut secara transparan. Dia mengatakan para perwira polisi harus dimintai pertanggungjawaban. (day/jpg)