Jepang Cabut Status Darurat Covid-19

36
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. (Reuters)

Di saat banyak negara masih berjuang melawan pandemi Covid-19, Jepang tampaknya mulai bisa mengatasi hal tersebut. Hal itu dibuktikan saat Negeri Sakura resmi mencabut status darurat Covid-19 mulai Senin (25/5) malam waktu setempat.

“Saya telah memutuskan untuk mengakhiri keadaan darurat di seluruh negara,” kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada konferensi pers yang disiarkan televisi lokal dan dikutip dari KyodoNews+, Selasa (26/5).

Adapun alasan pencabutan status darurat Covid-19 oleh Jepang adalah berdasarkan tolok ukur pemerintah dan para ahli apakah infeksi baru telah turun di bawah 0,5 per 100.000 orang.

Dalam seminggu terakhir, semua daerah kecuali dua prefektur Kanagawa dan Hokkaido telah melewati ambang itu sehingga diklaim layak untuk mengambil keputusan mencabut status darurat Covid-19.

Keadaan darurat memberikan wewenang resmi kepada gubernur prefektur untuk meminta orang-orang agar tidak melakukan kegiatan dan bisnis yang tidak penting untuk menunda operasi mereka, meskipun Jepang tidak dapat secara hukum menegakkan penguncian keras seperti yang diterapkan di Eropa dan Amerika Serikat.

Jepang mencabut deklarasi darurat korona kira-kira tujuh minggu setelah diberlakukan di Tokyo, Osaka dan lima daerah perkotaan lainnya pada 7 April lalu selama satu bulan. Langkah itu kemudian diperluas ke 47 prefektur dan diperpanjang hingga 31 Mei.

Sebelum kedaluwarsa, 39 prefektur dibebaskan pada 14 Mei, diikuti oleh Osaka, Kyoto dan Hyogo di Jepang barat Kamis lalu karena penyebaran virus telah dicegah.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike sekarang memulai rencana tiga tahap untuk memungkinkan restoran dan fasilitas kebutuhan primer tetap buka lebih lama dan sekolah secara bertahap melanjutkan kelas.

Pada fase pertama, kemungkinan akan dimulai pada hari Selasa (26/5), museum dan perpustakaan akan dibuka sementara restoran dan fasilitas kebutuhan primer akan diizinkan untuk tetap buka hingga pukul 10 malam setelah sebelumnya hanya diizinkan hanya sampai pukul 8 malam.

Fase kedua mungkin dimulai pada akhir bulan, kata sumber-sumber pemerintah metropolitan, memungkinkan lebih banyak fasilitas seperti bioskop dan toko-toko yang menjual produk selain kebutuhan sehari-hari untuk dibuka kembali.

Namun, beberapa lokasi hiburan seperti ruang-ruang karaoke, tempat musik live, dan pusat kebugaran yang berpotensi menjadi penularan kelompok tinggi diminta tetap tutup.

Jepang sejauh ini menghindari lonjakan infeksi virus dengan lebih dari 17.200 kasus dan 853 kematian dilaporkan di seluruh negara. Penghitungan tersebut mencakup sekitar 700 infeksi dari kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di Yokohama pada bulan Februari.

Sementara situasi infeksi diklaim telah stabil, citra politik Abe tampaknya telah menyusut dalam beberapa bulan terakhir. Abe mendapat kecaman atas tanggapan krisisnya yang menurut para kritikus tidak memadai dan tidak berhubungan dengan publik.
Dengan dicabutnya status darurat Covid-19, diharapkan perekonomian Jepang yang sedang mengalami resesi dapat kembali bergerak.

Pemerintah Jepang juga hampir akan menggandakan ukuran stimulus ekonomi menjadi lebih dari JPY 200 triliun atau USD 1,9 triliun dan setara dengan sekitar 40 persen dari PDB Jepang, karena Abe berjanji untuk melindungi perusahaan dan pekerjaan.

Menteri Revitalisasi Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan pemerintah akan menetapkan masa transisi dan menilai situasi infeksi setiap tiga minggu, yang berarti permintaan bagi orang-orang untuk tinggal di rumah dan menghindari pertemuan besar dapat dikurangi secara bertahap. Orang-orang akan diminta untuk tidak melintasi perbatasan prefektur untuk sisa bulan itu dan permintaan akan dilonggarkan secara bertahap sampai berakhir pada 19 Juni.

Sementara itu, Thailand akan memperpanjang masa darurat terkait wabah Covid-19 hingga akhir Juni 2020. Hal tersebut disampaikan oleh gugus tugas Covid-19 dalam upaya untuk terus menekan angka penularan wabah. Kasus pertambahan di Thailand sendiri mulai menurun.

Dilansir dari Reuters, Selasa (26/5), pusat perbelanjaan dan department store dibuka kembali akhir pekan lalu setelah hampir dua bulan ditutup karena jumlah kasus melambat. Tetapi bar, kelab malam, bioskop, taman bermain dan olahraga luar ruang tetap dilarang beroperasi sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Centre for Covid-19 Situation Administration (CCSA) milik pemerintah Thailand mengajukan usulan perpanjangan sebagai tanggapan terhadap perkembangan pandemi global. Hal itu sekaligus untuk menyediakan waktu mempersiapkan pelonggaran lebih lanjut pada awal bulan depan.

”Alasan untuk memperpanjang masa darurat untuk satu bulan lagi adalah untuk keamanan, kesehatan, dan memungkinkan operasi terpadu dan terus menerus oleh para pejabat dalam situasi pandemi yang belum terselesaikan ini,” ucap juru bicara CCSA Taweesin Wisanuyothin.

Keputusan perpanjangan masa darurat Covid-19 di Thailand juga telah disetujui kabinet. Pemerintah telah memperpanjang larangan penerbangan penumpang internasional, yang telah berlaku sejak April, hingga akhir Juni mendatang.

Sekolah tetap ditutup dan dijadwalkan dibuka kembali pada Juli. Thailand sendiri telah mencatat infeksi harian dalam satu digit untuk sebagian besar bulan lalu dan pada Jumat pekan lalu melaporkan tidak ada lagi infeksi baru Coronavirus atau kematian. Total kasus yang dikonfirmasi adalah 3.037 orang, 56 di antaranya meninggal, dan sebanyak 2.910 dinyatakan sembuh. (jpg)