Prioritas untuk Penduduknya, India Perketat Ekspor Vaksin AstraZeneca

9
ilustrasi vaksin Astrazeneca. (net)

Suplai vaksin AstraZeneca bakal tersendat. Itu terjadi karena India tampaknya menghentikan sementara ekspor vaksin ke luar negeri. Mereka ingin memprioritaskan penduduknya lebih dulu. Terlebih, saat ini penularan Covid-19 di negara tersebut tengah meroket. Di pihak lain, target vaksinasi belum terpenuhi.

Dilansir Agence France-Presse, saat ini ada varian virus baru di India yang ditengarai lebih menular. Kamis (25/3) untuk kali pertama sejak November, kasus harian Covid-19 di India mencapai lebih dari 54 ribu.

Situasi di India sempat terkendali dan kehidupan penduduk berangsur normal. Tapi, kini lockdown lokal terjadi di berbagai tempat. Pemerintah juga melakukan pengecekan Covid-19 secara acak yang berbayar. Total kasus Covid-19 di India saat ini sudah mendekati 12 juta dan lebih dari 160 ribu kematian.

Pemerintah India menargetkan vaksinasi 300 juta penduduk hingga Agustus nanti. Namun, hingga saat ini baru 53 juta vaksin yang sudah diberikan. India merupakan supplier vaksin utama ke berbagai negara.

Mereka juga supplier vaksin untuk program Covax yang digagas WHO dan Gavi. Dalam program Covax itu mayoritas menggunakan vaksin AstraZeneca. Vaksin AstraZeneca di India diproduksi Serum Institute of India (SII). Sejauh ini, India sudah mengeskpor lebih dari 60 juta dosis vaksin ke 76 negara.

Jubir Gavi menyatakan, SII mengakui ada masalah pengiriman karena kendala izin ekspor dari pemerintah India. Penyebabnya adalah tingginya permintaan di negara yang dipimpin Narendra Modi tersebut.

Negosiasi dengan pemerintah India tengah dilakukan agar vaksin bisa dikirim secepatnya. Mereka yang ikut program Covax rata-rata negara kurang mampu yang tidak bisa bersaing membeli vaksin dalam jumlah besar. Misalnya, beberapa negara Afrika, Asia, dan wilayah-wilayah konflik.

Di sisi lain, mutasi Covid-19 di India ditengarai memiliki mutasi ganda. Berdasar sampel yang didapatkan dari wilayah Maharashtra, diketahui bahwa ada mutasi di E484Q dan L452R. Mutasi ganda seperti itu bisa mengakibatkan menurunnya imunitas dan efektivitas vaksin.

Baca Juga:  Mo Salah Minta Pemimpin Dunia Hentikan Pembunuhan di Gaza

E484Q serupa dengan mutasi E484K yang terdapat pada varian virus di Afrika Selatan dan Brasil. Sementara itu, mutasi L452R ditemukan dalam varian di California, AS. Sekitar 20 persen kasus di Maharashtra disebabkan virus varian baru.

Peningkatan kasus serupa juga terjadi di Brasil. Tingginya angka pasien yang dirawat di rumah sakit mengakibatkan banyak negara bagian kekurangan tabung oksigen. Mereka terpaksa meminjam tabung oksigen dari tempat lain atau mengirim pasien ke rumah sakit yang masih memiliki stok berlebih.

Dari 26 negara bagian dan distrik federal di Brasil, mayoritas mengalami kelebihan beban di ICU-nya. Beberapa kapasitasnya sudah mentok 100 persen. Muncul beberapa laporan pasien yang meninggal di rumah sakit karena tidak mendapatkan tempat.

“Masalah pasokan oksigen yang rendah tidak terbatas pada rumah sakit atau negara bagian kami, ini masalah nasional,” ujar pejabat di Hospital Lauro Reus Lannes Osorio. Pekan lalu, enam pasien di RS itu meninggal karena tidak ada stok oksigen.

Terpisah, pemimpin negara-negara Uni Eropa (UE) menggelar rapat virtual untuk membahas pasokan vaksin dan meningkatkan vaksinasi di 27 negara anggota. Komisi Eropa bakal meminta persetujuan pengetatan ekspor vaksin. Hal itu akan berpengaruh pada ekspor AstraZeneca ke Inggris.

Saat ini vaksinasi di negara-negara anggota UE memang jauh lebih rendah daripada Inggris. Itu disebabkan AstraZeneca tidak mampu memenuhi pasokan ke UE seperti kesepakatan awal. Dari keseluruhan ekspor vaksin yang diproduksi di UE, seperempatnya dikirim ke Inggris. (sha/c7/bay/jpg)

Previous articlePerketat Pengamanan Rumah Ibadah-Pusat Keramaian
Next articleVaksin Covid-19 Menipis