Hanya dalam 14 Hari, Positif Covid-19 Bertambah 1 Juta Kasus

Warga memakai masker dan jaga jarak ketika mereka menunggu dalam antrean beras gratis di Hanoi. (IST)

Dirjen WHO Tedros Ghebreyesus mengungkapkan pandemi Covid-19 ini terus meningkat. Saat ini total kasus secara global sudah mencapai 16 juta dan korban jiwa mencapai 640 ribu jiwa. “Dalam empat hari terakhir, ada penambahan satu juta kasus. Itu adalah rekor tersendiri,” ujarnya.

AS menjadi penyumbang terbesar, baik kasus maupun kematian. Selama lima hari terakhir, korban jiwa di negara yang dipimpin Presiden AS Donald Trump tersebut selalu di atas seribu orang.

Meski begitu, banyak penduduk yang tetap abai. Di Miami misalnya. Selama sepuluh hari terakhir polisi telah mengeluarkan surat denda pada lebih dari 300 orang dan tempat bisnis yang tidak menerapkan kebijakan pemakaian masker. Padahal, Miami merupakan salah satu episentrum penularan.

Peningkatan kasus juga terjadi di Hongkong. Pemerintah mengeluarkan kebijakan lebih ketat pada Senin (27/7). Maksimal orang berkumpul hanya dua. Kebijakan itu berlaku mulai Rabu (29/7) hingga 7 hari ke depannya. Kemarin ada penambahan 145 kasus di wilayah otonomi khusus Tiongkok tersebut. Sebanyak 142 di antaranya adalah penularan lokal. “Situasinya saat ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Chief Secretary Matthew Cheung seperti dikutip Channel News Asia. Ledakan penularan yang terjadi saat ini adalah yang paling parah di Hongkong sejak pandemi terjadi.

Prancis juga sudah mulai waswas dengan lonjakan kasus. Jam malam diberlakukan untuk pantai-pantai di sepanjang resor Brittany, Quiberon. Selama sepekan ini ada penambahan 54 kasus di Quiberon. Taman-taman juga bakal ditutup saat malam untuk menghindari anak-anak muda berkumpul. Saat ini per hari ada penambahan seribu kasus di Prancis.

Vietnam yang sukses mencegah penularan lokal juga mulai kelimpungan. Kemarin mereka mengevakuasi sekitar 80 ribu orang dari Da Nang, kota yang terkenal akan resornya. Langkah itu ditempuh setelah tiga penduduk Da Nang dipastikan positif Covid-19.

Sementara itu, Korea Selatan (Korsel) menampik tudingan Korea Utara (Korut) bahwa pembelot yang kembali pulang ke Pyongyang tidak tertular Covid-19. Dia bukan pasien Covid-19 dan tidak melakukan kontak dengan orang yang positif. Korsel terkenal melakukan pelacakan dan tes masif untuk menekan angka penularan.

Sebelumnya, Korut mengaku bahwa ada kasus Covid-19 pertama di negaranya. Mereka menyalahkan si pembelot yang balik pulang sebagai pembawa virus. Mantan analis Korut untuk pemerintah AS Rachel Lee mengungkapkan bahwa Korut mencoba menyalahkan Korsel untuk persebaran yang sudah terjadi di Pyongyang. (jpg)