Pasien Korona Melonjak, Eropa Lockdown Lagi

13
ilustrasi lockdown. (net)

Sejumlah negara di Eropa kembali menerapkan lockdown untuk beberapa pekan ke depan. Kebijakan ini diambil merespons meningkatnya penularan Covid-19 sekaligus mencegah mobilitas warga pada libur Paskah pada pekan ini.

Libur Paskah berpotensi dimanfaatkan warga untuk bertemu keluarga. Karena itu, otoritas di Benua Biru meyakini kebijakan lockdown sebagai keputusan tepat. ”Kita berada pada awal gelombang ketiga di Eropa, dan di banyak negara anggota Eropa, penularan meningkat lagi,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen setelah pertemuan puncak para pemimpin Uni Eropa secara virtual.

Belanda, salah satu negara yang menerapkan lockdown. Pemerintah Negeri Kincir Angin itu memperpanjang lockdown hingga 20 April menda­tang. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menjelaskan, lockdown diperpanjang karena meningkatnya jumlah kasus infeksi Covid-19 dan rawat inap di rumah sakit.

“Jumlah pasien yang mendapat perawatan intensif semakin meningkat. Gelombang ketiga mulai terlihat. Oleh karena itu, paket tindakan lockdown saat ini diperpanjang,” ujar Rutte dikutip Bloomberg, kemarin.

Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda mengatakan, pada Selasa pekan lalu, 46.005 orang positif Covid-19. Selama periode 17 hingga 23 Maret, pasien positif naik 16 persen dari pekan sebelumnya.

Jerman juga menerapkan kebijakan serupa. Kanselir Angela Merkel mengumumkan, Jerman kembali lockdown karena adanya lonjakan baru penderita Covid-19. Jerman meminta warganya untuk tidak berpergian selama libur Paskah.

”Situasinya serius. Jumlah kasus meningkat secara eksponensial dan tempat tidur perawatan intensif terisi lagi,” ungkap Merkel.Di Eropa, Polandia, tercatat mengalami jumlah kasus harian terbanyak sejak November 2020. Hal itu membuat Pemerintah Polandia memaksa tutup toko-toko dan fasilitas non-esensial, selama tiga pekan.

Toko-toko non-esensial juga tutup di Ibu Kota Ukraina, Kiev. Hanya pasar makanan yang diper­bolehkan buka. Sementara itu, sekitar sepertiga populasi Perancis, di Paris dan beberapa kawasan lain di sebelah utara dan selatan negara itu, telah melakukan lockdown sejak 19 Maret lalu.

Situasi epidemi Covid-19 di Perancis masih parah, dengan rata-rata angka kasus penularan harian di atas 30.000 pada pekan lalu. Sebagian besar toko, restoran dan sekolah kembali ditutup di lebih dari separuh wilayah Italia, termasuk di Roma dan Milan. Orang diharuskan untuk tinggal di rumah.

Baca Juga:  Hasil USG Kembar 7, saat Lahir Kembar 9

Perjalanan ke luar rumah diperbolehkan asal untuk urusan darurat. Selama tiga hari selama Paskah (3-5 April), akan ada penutupan total di seluruh negeri. Sementara, Pemerintah Denmark mengusulkan “tiket korona” untuk semua orang yang berusia di atas 15 tahun.

Kartu ini, tersedia di ponsel dan di atas kertas, untuk menunjukkan apakah orang telah divaksinasi, sebelumnya terinfeksi, atau memiliki tes negatif dalam 72 jam terakhir.
Langkah ini akan memungkinkan orang memenuhi persyaratan untuk pergi ke penata rambut, restoran, atau tempat lain, karena negara secara bertahap mencabut pembatasan.

Sementara itu, sekolah di seluruh Yunani kembali ditu­tup selama dua pekan mulai 16 Maret. Di daerah dengan tingkat infeksi tinggi “zona merah”, yang mencakup Athena, toko-toko non-esensial, penata rambut dan salon kecantikan juga tutup.

Orang hanya boleh berbelanja barang-barang penting dalam radius 2 kilo meter (km) dari rumah mereka. Warga tidak dapat bepergian ke luar daerah mereka. Jam malam dari pukul 21.00 sam­pai 05.00 diberlakukan selama seminggu dan dari pukul 19.00 sampai 05.00 di akhir pekan.

Ceko juga menutup sekolah untuk anak-anak yang lebih kecil dan mereka yang memiliki disabilitas. Tes massal wajib bagi karyawan pabrik dan perusahaan yang tetap buka.
Kebijakan lockdown juga diberlakukan di Belgia. Di negeri ini lockdown diperpanjang hingga 1 April depan.

Warga dilarang melakukan perjalanan yang tidak penting. Bila ingin bertamu, hanya diperbolehkan satu orang. Untuk pertemuan empat orang harus dilakukan di luar rumah.
Sekolah dan toko tetap buka, tetapi orang harus berbelanja sendiri tidak lebih dari 30 menit. Masker harus dipakai di semua ruang publik dalam ruangan mau­pun di area ramai di luar. (day/jpg)

Previous articleTangkap 13 Terduga Teroris di 3 Daerah
Next articleBupati Pessel Minta PSDA Rumuskan Solusi Banjir di Tapan