Daripada Pasien Bergejala, Pasien OTG lebih Cepat Kehilangan Antibodi

69
ilustrasi pasien OTG tengah menjalani isolasi. (jawapos.com)

Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19 mendominasi pasien yang terpapar virus korona. Mayoritas tidak merasakan gejala, tetapi terbukti positif saat diuji. Memang, OTG tak merasakan sakit. Tapi ternyata, penelitian terbaru membuktikan bahwa para OTG bisa kehilangan antibodi.

Menurut penelitian di Inggris yang dirilis pada Selasa (27/10), penderita virus korona tanpa gejala cenderung kehilangan antibodi yang dapat diamati lebih awal daripada orang yang telah menunjukkan gejala Covid-19.

Hasil penelitian Imperial College London dan perusahaan analisis pasar Ipsos Mori juga menunjukkan bahwa pada usia 18-24 tahun, mengalami penipisan antibodi yang lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang berusia 75 tahun ke atas.

Para ilmuwan juga telah melacak tingkat antibodi pada populasi Inggris setelah gelombang pertama infeksi Covid-19 pada Maret dan April. Secara keseluruhan, sampel dari ratusan ribu orang di seluruh Inggris menemukan bahwa prevalensi antibodi virus turun lebih dari sepersepuluh.

Laporan tersebut ditugaskan oleh pemerintah Inggris. Hasilnya menyiratkan bahwa kekebalan orang terhadap Covid-19 menurun seiring waktu setelah infeksi. ”Penelitian ini penting, membantu kita memahami sifat antibodi Covid-19 dari waktu ke waktu,” kata Menteri Kesehatan James Bethell seperti dilansir dari Science Times, Rabu (28/10).

Tetapi para ilmuwan prihatin memperingatkan bahwa sesuatu tentang reaksi antibodi jangka panjang orang terhadap virus masih belum jelas. “Masih belum jelas tingkat imunitas apa yang disediakan antibodi, atau berapa lama imunitas ini bertahan,” kata peneliti Paul Elliott, dari Imperial’s School of Public Health.

Baca Juga:  Covid-19, Semen Padang Fasilitasi Karyawan Vaksin Booster Gelombang Ketiga

Penelitian dilakukan antara 20 Juni dan 28 September. Analisis tersebut melibatkan 365 ribu individu yang dipilih secara acak dengan pemeriksaan sidik jari untuk antibodi virus korona di rumah.

Penemuan tersebut mengungkapkan bahwa jumlah individu dengan antibodi selama perkiraan rentang waktu tiga bulan turun 26,5 persen. Laporan tersebut mencatat proporsi populasi Inggris dengan antibodi turun dari 6 persen menjadi 4,4 persen. Penurunan tersebut memuncak dengan insiden virus yang menurun tajam di seluruh Inggris.

Hanya saja, analisis menunjukkan bahwa para tenaga medis yang diberikan perawatan antibodi tidak membaik seiring waktu. Kemungkinan menunjukkan penularan virus bisa berulang.

”Berdasarkan bukti yang seimbang, tampaknya kekebalan menurun pada tingkat yang sama dengan penurunan antibodi, dan ini merupakan indikasi menurunnya kekebalan pada tingkat populasi,” ungkap rekan penulis studi Helen Ward.

Hasil penelitian diterbitkan sebagai dokumen pracetak dan belum ditinjau peneliti lain. Meski begitu peneliti memastikan penurunan antibodi seseorang yang terinfeksi tidak memengaruhi potensi kandidat vaksin dalam uji klinis. ”Vaksin mungkin lebih baik daripada kekebalan alami,” pungkas peneliti. (jpg)