Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1786 oleh penjelajah Prancis, Jean-Francois de Galaup La Perouse, teluk ini sudah mencuri perhatian berkat fenomena alam yang menakutkan.
Dilansir dari Earth Observatory NASA, terungkap bahwa ketika La Perouse menelusuri perairan tersebut, ia terkejut dengan sebuah garis aneh yang mengelilingi hutan sekitar teluk.
Dalam catatan hariannya, ia menggambarkan pemandangan itu seolah-olah hutan telah "ditebang bersih dengan silet."
Hal ini menjadi petunjuk pertama bahwa Teluk Lituya menyimpan sebuah kekuatan destruktif yang sangat besar.
Keanehan lain terjadi ketika La Perouse mengirim tiga perahu kecil untuk mengukur kedalaman air di pintu masuk teluk yang tampaknya tenang.
Meski cuaca tenang, dua dari tiga perahu tersebut terbalik dan tenggelam setelah terseret oleh arus pasang surut yang sangat kuat. Arus yang dipicu oleh bentuk fjord sempit di sekitar teluk.
Dalam kejadian tersebut, 26 orang meninggal dunia, dan jasad mereka tidak pernah ditemukan.
Untuk mengenang mereka, pulau satu-satunya di Teluk Lituya ini diberi nama Cenotaph, kata Yunani yang berarti "makam kosong", sebagai penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa tanpa makam.
Gempa dan Tsunami Mematikan di Teluk Lituya
Meskipun insiden ini menjadi peringatan pertama, Teluk Lituya masih mengalami sejumlah peristiwa alam dahsyat lainnya.
Pada tahun 1899, sebuah gempa bumi besar memicu gelombang tsunami yang menghancurkan desa penduduk asli sekitar teluk dan menenggelamkan lima orang di pulau Cenotaph.
Gelombang tsunami lainnya melanda pada tahun 1936.
Tapi, peristiwa paling menghancurkan terjadi pada tahun 1958, ketika sebuah gempa bumi berkekuatan 7,8 mengguncang Sesar Fairweather di dekatnya.
Gempa ini memicu longsoran batu besar yang membawa 90 juta ton batu ke dalam teluk—jumlah yang setara dengan 8 juta muatan truk sampah.
Kehebohan yang ditimbulkan oleh longsoran batu tersebut mengguncang teluk dengan kekuatan luar biasa.
Guncangan hebat terjadi selama beberapa menit, ledakan dahsyat, gletser terangkat ke udara setinggi ratusan kaki, diikuti oleh gelombang besar yang melesat melalui teluk, membawa bongkahan es besar.
Saksi mata menggambarkan pemandangan ini sebagai sebuah kekacauan surealis.
Seorang nelayan yang berada di dekat lokasi bahkan menggambarkan kapal yang dia tumpangi terangkat tinggi ke atas gelombang, memandang ke bawah ke pepohonan yang berada di bawahnya.
Gelombang raksasa yang melanda Teluk Lituya itu sangat kuat sehingga menghancurkan kabin di pulau Cenotaph dan menyapu mercusuar yang berada di muara teluk.
Bahkan, sebuah pasangan suami istri yang sedang memancing di daerah tersebut hilang tanpa jejak setelah gelombang menghantam.
Tsunami yang terjadi pada 1958 ini tercatat sebagai salah satu gelombang tsunami tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah geologi.
Bukti yang Terlihat hingga Kini
Kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami 1958 di Teluk Lituya sangatlah besar.
Garis kerusakan di hutan, yang dikenal sebagai garis batas, dapat dilihat dengan jelas hingga ketinggian 700 kaki (200 meter) di sekitar teluk.
Namun, di sebuah punggung bukit yang terletak di sisi berlawanan dari longsoran batu, gelombang tsunami menghantam hingga ketinggian 1.720 kaki (524 meter)—lebih tinggi dari Gedung Empire State di New York.
Bukti-bukti dari peristiwa ini masih terlihat jelas hingga lebih dari 60 tahun kemudian.
Citra satelit Landsat 8 dengan teknik warna palsu (pita 7-5-3) menunjukkan garis-garis potong yang memisahkan area hutan yang terpotong dan area yang tidak terpengaruh oleh tsunami.
Area yang lebih terang menggambarkan tempat-tempat di mana hutan yang lebih muda tumbuh, sementara area yang lebih gelap menunjukkan tempat di mana pohon-pohon yang lebih tua tetap utuh.
Tsunami yang terjadi pada 1958 menyebabkan hampir semua pohon di sekitar teluk patah, dan tumbuhan lainnya terkikis.
Sekitar 2 mil persegi (4 kilometer persegi) hutan terpotong dan tersapu oleh gelombang tsunami yang menghancurkan.
Dampak yang Sama Seperti Asteroid
Salah satu penyebab utama dari gelombang besar yang menghancurkan Teluk Lituya adalah longsoran batu besar yang terlepas dari tebing gunung.
Bongkahan batu yang diperkirakan berukuran 2.400 kaki kali 3.000 kaki kali 300 kaki jatuh dari ketinggian 2.000 kaki ke dalam teluk.
Menurut para ahli geologi, kejadian ini menciptakan reaksi yang setara dengan dampak jatuhnya sebuah asteroid ke dalam air.
"Dalam beberapa hal, itu menciptakan reaksi yang sama dengan yang akan terjadi jika sebuah asteroid jatuh ke air," kata penulis dari Western States Seismic Policy Council.
Setelah ledakan awal, bentuk sempit Teluk Lituya dan dasar laut berbentuk U memperkuat gelombang yang terbentuk, menyebabkan gelombang-gelombang itu bergoyang maju mundur seperti gelombang besar di bak mandi.
Potensi Tsunami di Masa Depan
Keunikan geologi Teluk Lituya, dengan dinding curam dan bentuk dasar laut yang khas, serta fakta bahwa teluk ini terletak di atas patahan yang sering memicu gempa bumi, menunjukkan bahwa perairan ini akan terus menghadapi ancaman tsunami di masa mendatang.
Berdasarkan penelitian geologi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, diperkirakan bahwa gelombang raksasa di Teluk Lituya terjadi setiap seperempat abad, dengan peluang 1 berbanding 9.000 pada hari tertentu.
"Sejak gelombang tahun 1958, rata-rata satu perahu nelayan hilang di pintu masuk teluk per tahun," tulis Philip Fradkin dalam buku Wildest Alaska: Journeys of Great Peril in Lituya Bay.
Ini menunjukkan betapa berbahayanya perairan yang tampaknya tenang tersebut, dengan ancaman dari arus pasang surut yang kuat dan kemungkinan terjadinya tsunami besar lainnya di masa depan.(*)
Editor : Heri Sugiarto