Launching Entrepreneurship Award IV LLDIKTI Wilayah X di Jambi

Launching Daring Entrepreneurship Award IV LLDIKTI Wilayah X di Jambi.

Entrepreneurship Award dilaksanakan untuk memotivasi dan mengkader mahasiswa berjiwa kewirausahaan dan mampu mengelola sumberdaya menjadi barang dan jasa.

Hal itu dikatakan Kepala LLDIKTI Wilayah X Prof. Dr. Herri, MBA saat me-launching Entrepreneurship Award IV di Universitas Batanghari Jambi, Selasa (28/7/2020).

Launching dilaksanakan secara daring diikuti Gubernur Jambi Dr Fachrori Umar, Ketua Pengarah Entrepreneurship Award Prof Dr Ir Musliar Kasim MS, Pegiat start-up Toronata Tambun, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Wilayah X A,B,C, dan D, pimpinan PTS, Forum Komunikasi Kemahasiswaan (Forkomawa), dan mahasiswa di lingkungan LLDIKTI Wilayah X.

Pertama kali, Entrepreneurship Award dilaksanakan di Sumbar dengan tuan rumah Universitas Baiturrahmah Padang dengan total proposal sebanyak 76. Berikutnya di Universitas Islam Riau. Sebanyak 217 proposal kewirausahaan terkumpul. Kemudian di Universitas Ibnu Sina Batam. Jumlah proposal mahasiswa yang ikut bertambah menjadi 623.

“Saat ini, ada sekitar 900 prodi PTS di lingkungan LLDIKTI Wilayah X. Jika setiap program studi mengirimkan minimal 2 proposal, setidaknya lebih dari 1.600 proposal mahasiswa dari kedua kategori yang dilombakan akan terkumpul,” kata Prof. Herri.

Selain itu, Kepala Lembaga mengatakan Entrepreneurship Award juga merupakan elemen yang mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman serta semangat berwirausaha.

Ada 2 kategori lomba yang diikuti mahasiswa. Kategori pertama, inovasi bisnis yang ditujukan kepada calon wirausaha muda yang telah memiliki dan menjalankan usaha sendiri. Kedua, kategori rencana bisnis yang merupakan penilaian ide bisnis terbaik yang direncanakan dan implementatif.

“Menjadi kegembiraan bagi kita bersama untuk mensukseskan kegiatan ini. Menciptakan mahasiswa unggul berwirausaha, mendorong pengusaha muda dan penciptaan bisnis karya mahasiswa di lingkungan yang berpotensi dikembangkan dan bersaing di pasar. Berwirausaha juga menjadi solusi pengangguran di Indonesia,” terang Prof. Herri.

Gubernur Jambi Dr. Fachrori Umar saat membuka Entrepreneurship Award IV mengatakan kita sama-sama menyadari bahwa salah satu faktor yang memajukan suatu daerah adalah pengelolaan sumber daya oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

Sebagai contoh, sektor pariwisata yang juga memberikan dampak positif pada usaha-usaha lain. Jasa transportasi, perhotelan dan restoran, perbankan, usaha kuliner serta kerajinan tangan perlu ada inovasi dan dikelola dengan baik.

Pengarah Entrepreneurship Award Musliar Kasim mengatakan kita semua menginginkan alumni bisa mandiri menciptakan lapangan kerja sendiri. Kalau bisa, dapat menerima orang bekerja pada usaha yang dirintisnya.

Untuk itu, kata Prof. Musliar pada EA keempat ini sengaja kita mengundang narasumber Toronata Tambun untuk berbagi pengalaman di bidang kewirausahaan sehingga mahasiswa bisa memiliki motivasi untuk memulai dan melaksanakan bisnis sendiri.

“Sekarang, tidak ada beda antara PTN dan PTS. Kita semua mengharapkan agar mahasiswa di lingkungan LLDIKTI Wilayah X semakin percaya diri. Tidak mencari kerja, akan tetapi memulai bisnis sendiri secara mandiri,” kata Pengarah EA.

Rektor Universitas Batanghari Prof. Fachruddin Razi, SH, MH mengatakan meskipun dalam pandemi covid-19, kita tetap bersemangat melaksanakan Entrepreneurship Award yang keempat.

“Melalui ajang ini, mahasiswa diharapkan setelah lulus tidak menjadi pengangguran. Hendaknya, mahasiswa mampu menjadi motor penggerak bisnis di Indonesia dan mampu bersaing,” ucap Rektor Unbari.

Usai Launching Daring Entrepreneurship Award IV LLDIKTI Wilayah X, Founder and Director Aren Energy Investment Toronata Tambun hadir sebagai narasumber memberikan kuliah umum kewirausahaan.

Mengawali materinya, Toronata mengutip apa yang dikatakan ekonom Inggris Prof. Keynes yang menjelaskan bahwa kesulitan berwirausaha terletak bukan pada ide atau konsepnya itu sendiri, tetapi ketika mencoba keluar dari ide tersebut.

Kita bisa melihat dari hasil penelitian dikatakan banyak start-up dikatakan tidak bisa bertahan dan berhasil. Punya produk atau ide tetapi tidak ada yang membeli. Banyak juga yang ribut soal saham dan kontribusi pekerjaan antara satu founder dengan founder lainnya..

“Jadi, untuk sebuah bisnis yang bertahan selain ide dan inovasi perlu diperhatikan adalah inovasi. Artinya, inovasi itu harus ada ide, produk, servis, penawaran dan harus dibeli oleh masyarakat atau bersifat komersil,” jelas Toronata. (*/hsn)