Prodi Rekayasa Energi Terbarukan FTI UBH  Resmi Dibuka

16

Fakultas Teknologi Industri, Universitas Bung Hatta (UBH) resmi membuka program studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan. Hal ini berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor rc9l0T/2021 tentang Izin Pembukaan Program Studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan Program Sarjana Terapan pada UBH yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Bung Hatta.

Pendirian prodi ini tindak lanjut kerja sama Prodi Rekayasa Energi Terbarukan FTI UBH dengan Pemprov Sumbar dan PT Supreme Energy. “Di Program studi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, mahasiswa mempelajari berbagai macam energi terbarukan, seperti bahan bakar nabati (biofuel), geothermal, energi proses, energi dari biomassa dan biogas, energi listrik, energi mikrohidro, energi surya, energi angin, pengembangan dan rekayasa energi baru,” sebut Prof Dr Reni Desmiarti MT, Dekan FTI UBH.

Energi terbarukan akan menjadi sumber energi dominan bagi manusia di masa depan karena cadangan sumber energi berbasis fosil semakin berkurang dan akan habis. Pemanfaatan energi terbarukan lebih ramah lingkungan memperkecil dampak negatifnya terhadap perubahan iklim.

Dalam kesempatan khusus, Rektor UBH, Prof Dr Tafdil Husni SE MBA mengatakan bahwa di FTI UBH terdapat Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan yang merupakan prodi dengan tujuan menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan teknis di bidang teknik energi terbarukan, serta memiliki karakter seorang wirausaha yang selalu mempertimbangkan sisi bisnis yang selalu sigap dan tanggap terhadap setiap peluang yang muncul.

Energi terbarukan memiliki peluang bisnis yang sangat menjanjikan karena pemerintah di seluruh dunia sedang berusaha untuk mengatasi perubahan iklim akibat adanya gas karbon dioksida yang dihasilkan dari pemakaian energi fosil. Perkembangan industri energi terbarukan saat ini sangat pesat di berbagai negara, seperti geothermal, energi surya, energi air, energi angin dan biomassa, menyebabkan kebutuhan sumber daya manusia untuk bidang ini juga meningkat.

“Di seluruh dunia, hampir 10 juta orang bekerja dalam bidang energi terbarukan pada tahun 2016. Menurut ONS (statistik pro resmi), 48.000 orang bekerja di bidang energi terbarukan di Inggris pada tahun 2015 – bagian dari 234.000 orang yang bekerja di bidang ekonomi karbon,” timpal Prof. Reni.

Pendirian prodi ini rekomendasi dari Gubernur Sumbar periode sebelumnya, Irwan Prayitno, dan berkat kerja sama antara UBH, PT Supreme Energy Muaro Laboh, serta Institut Fur Angewandtes Stoffstrommanagement (IfaS) Birkenfeld-Germany dalam upaya mendukung pengembangan Energi Terbarukan di Sumbar.

Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan menjadi salah satu prodi yang dibutuhkan dan memiliki peranan penting dalam berbagai sektor industri yang memanfaatkan energi terbarukan.

Menyikapi hal tersebut, Gubernur Sumbar  Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa ini adalah kesempatan baik yang harus segera diimplementasikan dengan baik. “Kami berharap Universitas Bung Hatta bersama PT Supreme Energy menjadi stakeholder yang terkemuka dalam menyelenggarakan pendidikan di Sumatera Barat,” ujar dia.

Peluang lulusan Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan ini sangat besar dikarenakan Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang berlimpah dan memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.

Mahasiswa yang memilih Program Sarjana Terapan (S.Tr) ini memiliki beban kredit minimal 144 SKS dan ditempuh dalam waktu 4 (empat) tahun. Rancangan kurikulum terdiri atas 85 SKS teori dan 59 sks praktikum. Pelaksanaan praktikum dilakukan di laboratorium maupun berupa magang di indusri/lapangan.

Proses pembelajaran bahasa asing dilakukan secara intensif. Bila program S-1 (Sarjana) merupakan program pendidikan akademik dan berorientasi pada pengembangan keilmuan dan penelitian, program Sarjana Terapan merupakan program vokasi (terapan) yang bersifat lebih ke arah aplikasi/penerapan prinsip-prinsip keilmuan untuk keperluan praktis dan dengan tujuan agar lulusan yang dihasilkan siap kerja.

Selain kemampuan akademis dan teknis, mahasiswa Sarjana Terapan Teknologi Energi Terbarukan akan dibekali juga dengan kemampuan komunikasi efektif baik secara lisan maupun tulisan dan kemampuan berorganisasi serta soft skill lainnya, seperti kemampuan berbahasa asing, teknologi informasi, memiliki etika & tanggung jawab terhadap profesi, kepribadian berintegritas tinggi, technopreneur, kemampuan memimpin, dan bekerja sama dalam tim.

Mahasiswa Sarjana Terapan Teknologi Energi Terbarukan ini akan dibekali dengan kemampuan bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan bahasa Jepang dengan memberikan kuliah intensif selama 2 bulan yang dikelola secara profesional. (adt)