Terapi Puisi Mesin Kreasi

6
AKRAB: Darneswati bersama guru SD 05 Surabayo Lubukbasuang.(IST)

Saya mengenal puisi sejak rema. Entah mengapa, saya suka saja kalau membaca sesuatu yang sifatnya puisi. Saya suka membaca kata-kata dengan susunan bahasa yang indah dan menyentuh langsung ke ruang hati yang paling dalam. Saya yakin, puisi adalah salah satu cara menerapi ruang kepekaan diri.

Terkadang kita tidak pernah sadar bahwa betapa seringnya alam “berpuisi”. Bahkan bagi saya, hujan pagi, sejuk dan nuansanya mendatangkan keindahan sendiri di hati. Mungkin juga, hujan pagi mengingatkan saya pada masa bocah dulu kala.

Saya teringat, ketika saya waktu SD dulu kala. Bila hari hujan, saya berjalan kaki ke sekolah dengan payung dan mantel hujan. Hujan pagi mengingatkan saya ada masa kecil masa-masa bocah yangsenantiasa dalam riang dan gembira.

Kita sering kali enggan menyimak alam. kalau sekiranya kita luangkan aja sedikit waktu menyimak alam, maka bunyi air yang berderai di antara bebatuan di sungai, bagi saya adalah seindah puisi.

Sekali waktu simaklah angin yang tiba.Ketika ia datang di antara dedaunan rimbun pohon bambu. Simak bunyinya. Indah sekali.Beradunya daun-daun yang kecil dapat menimbulkan bunyi yang besar.Bagi saya, salah satu keindahan puisi adalah bunyi. Sementara, soal makna adalah soal seberapa cerdas kita menangkap simboldari aksara.

Saya ajarkan anak-anak murid saya berpuisi.Saya perkenalkan mereka untuk bagaimana cara menyampaikan apa yang terasa dalam keindaha bebahasa.

Saya sampaikan kepada siswa saya bahwa berpuisi taklah sesulit apa yang ia pikirkan, bahkan berpuisi kadangkala semudah apa yang sedang terpikir dan bagaimana memilih kata untuk menyampaikan pikiran dan rasa yang ada di hati.

Baca Juga:  Kadis DPMPTSP-Naker Agam Mhd Lutfi Sandang Gelar Doktor Ilmu Hukum Unand

Ketika misalnya, tema puisi tentang ibu, saya pancing siswa saya, apa yang paling ia cintai atau ia senangi dari ibu dan bagaimana ibu di dalam pikiran mereka.

Seorang siswa, kelas empat SD di tempat saya mengajar, menulis : “ Ibuku sayangku/yang lahirkanku dan besarkanku dengan kasihmu/ibuku sayangku/kan kuabdikan diri pada ibu bila kubesar nanti/ibuku sayangku/tempat curah rindu sedalam qalbu”.

Lalu saya coba tema yang lain. Coba tulis tentang, langit. Seorang sisiwaku menggambarkan langit seperti ini : “ Di langit siang ada awan seperti perak/ia berarak dihembus angin lalu/bila malam, langit berbintang/kuingin menjadi salah satu bintang di langit tinggi “. (*)

Wah, ternyata, dengan sentuhan puisi membuat siswa saya berpikir dan menyimak. Saya dapat menyimpulkan, siswa-siswa yang pandai berpuisi, maka rasa solidaritas dan kesetiakawanannya sangat tingg.

Rata-rata, siswa yang pandai menyusun kata menjadi kalimat adalah siswa yang memiliki tingkat kepintaran di sekolahnya melebih rata-rata. Mereka, lebih kreatif.

Maka, saya berpikir akan membuat kelas puisi siswa. Karena saya yakin, terapi puisi atau mengenalkan bahasa puisi pada siswaSD adalah alah satu cara menghidupkan mesin kreasi siswa. Atau, dengan puisi membangkitkan kreativitas siswa kita.

Oleh : Darneswati, S.Pd, M.Pd
(Kepala SD 05 Surabayo Lubukbasung)