Bijak Gunakan Medsos di Era Digital, Yuliandre: Jaga Kebhinekaan

83

Anggota Komisi I DPR RI, Helmy Faishal Zaini mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi, harus diakui telah banyak mengubah gaya hidup atau pola kehidupan masyarakat sekarang.

“Pemanfaatan teknologi komunikasi sebaiknya mengajak setiap elemen bangsa Indonesia mewujudkan komunikasi yang sehat, terutama di media sosial,” kata Helmy.

Di era post truth, mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu II ini mengimbau generasi muda agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial dan jangan mudah menyebarkan pesan yang belum jelas kebenarannya.

“Sekarang internet bagai pisau bermata dua. Di satu sisi bisa mempererat rasa persatuan, namun di sisi lain, bisa pula memecah-belah kita sebagai satu bangsa, terutama bagi generasi muda jika tidak bijak dalam penggunaannya,” ungkapnya.

Senada dengan Helmy, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis mengatakan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat bermacam-macam informasi sangat mudah dan cepat sampai di tangan para pengguna telepon pintar hanya dalam hitungan detik.

“Negara ini bersatu karena kemerdekaan, karena itu harus dipertahankan. Untuk mewujudkan tujuan negara yakni kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. NKRI ini harus dijaga dan dikelola untuk mewujudkan tujuannya.  NKRI abadi dan terwujud  kesejahteraan yang berkeadilan,” kata Yuliandre Darwis saat menjadi pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) dengan tema “Merajut Nusantara” secara virtual di Jakarta, Sabtu (14/11/2020).

Baca Juga:  Sandi Angkat Yuliandre Darwis jadi Pengarah Tim Evaluasi KEK Pariwisata

Dalam hal ini, kata Yuliandre Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) yang berbadan non-eselon di Kementerian Komunikasi dan Informatika selalu terdepan dalam mendukung penuh upaya pemerintah menyediakan siaran digital bagi masyarakat di daerah perbatasan. Tujuannya dapat menjaga serta merawat kebhinekaan di era digital.

Saat ini, Presiden Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017-2018 yang akrab disapa Andre ini mengungkapkan,  bedasarkan data penelitian We Are Social tahun 2020 menunjukan bahwa ada 175,5 juta pengguna aktif internet di Indonesia.

Data yang tidak sedikit bahwa pemanfaatan teknologi digital ini sudah menjadi potensi besar untuk melakukan sinergritas masyarakat dalam membangun jiwa nasionalisme.

“Memang di era globalisasi dan era borderless world kita tidak bisa menghindar dari hadirnya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Kita harus bijak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi agar tidak menjadi korban dari kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi tersebut,” pungkas tokoh muda asal Padang ini.

Lebih jauh, sosok yang pernah menjadi Duta Muda Unesco ini memandang penguatan nilai-nilai dan pendidikan karakter di tengah  perkembangan dan kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat di lingkungan keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan diharapkan mampu menciptakan generasi penerus yang berkarakter dan mampu menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika sebagai nilai luhur dari Bangsa Indonesia.

“Tanggung jawab penanaman nilai-nilai karakter bagi generasi kita, merupakan tanggung jawab kolektif dari semua pihak,” kata Andre.(rel)