Alhamdulillah Cumlaude, Muhyiatul Fadilah Raih Doktor Pendidikan IPA

Muhyiatul Fadilah resmi bergelar Doktor (S3) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Pasca Sarjana di Universitas Pendidikan Indonesia setelah mengikuti ujian terbuka secara daring yang dilaksanakan di aula Gedung Terpadu FMIPA UNP.

Dengan judul desertasi Pengembangan Buku Ajar Prekursor Alami Gempa Bumi Untuk Membangun Literasi dan Kesiapansiagaan Bencana Mahasiswa Pendidikan IPA, Muhyiatul Fadilah yang merupakan dosen UNP ini mendapatkan IPK 3,96 (Cumlaude), Jumat (15/1/2021)

Ujian terbuka ini yang dihadiri Dekan FMIPA UNP DR. Yulkifli M.Si, serta Wakil Dekan I Alizar Phd, wakil dekan III DR.Irwan M.Si.

Muhyiatul Fadilah mengangkat isu global tentang Sustainable Development Goals (SDGs) merefleksikan tingginya tuntutan untuk penyelenggaraan program pendidikan kebencanaan sebagai salah satu bagian dari program mensejahterakan kehidupan masyarakat dunia pada tahun 2030.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan resiko bencana sangat tinggi namun implementasi program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) belum maksimal dan efektif dalam meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan bencana.

Dalam hal ini, pemerintah telah menginstruksikan penerapan program pendidikan kebencanaan untuk peserta didik secara lebih intensif di berbagai level institusi pendidikan, termasuk di perguruan tinggi, karena level literasi dan kesiapsiagaan bencana mahasiswa relatif masih rendah.

“Faktor keterbatasan sumber literatur tentang kebencanaan yang kontekstual menjadi masalah. Kondisi tersebut menjadi senjang dibandingkan dengan besarnya potensi integrasi pengetahuan kearifan lokal mitigasi bencana masyarakat Sumatera Barat. Di antaranya, atap Rumah Gadang, Rangkiang, Tuddakat, Sago, dan Uma di Mentawai dalam mengantisipasi dan meminimalkan risiko dampak bencana gempa dan tsunami,” ucapnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Mutu Pendidikan, Ratusan Kepala Sekolah Diberi Pelatihan

Lebih lanjut, dalam desertasinya Muhyiatul Fadilah menjelaskan potensi pengetahuan kearifan lokal telah menjadi pedoman dalam mengantisipasi bencana. Kearifan lokal tersebut dapat dilihat dari keanehan (anomali) perilaku hewan seperti anjing, kucing, burung, dan sapi.

“Namun pengetahuan kearifan lokal anomali perilaku hewan belum teruji berkontribusi dalam meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan bencana yang disebabkan oleh terbatasnya eksplanasi ilmiah yang menuntun pada keyakinan epistemic menganalisis dan mengambil keputusan mitigasi,” jelasnya.

Dalam mendukung desertasi,
Muhyiatul Fadilah melakukan penelitian dari 20018 – 2020 yang dilaksanakan di Kota Padang, Padangpariaman, Pesisir Selatan dan Pasaman Barat.

“Penelitian telah menghasilkan sebuah buku ajar kebencanaan yang memiliki judul Buku Ajar Prekursor Gempa Bumi Alami dan Hewani (BA PGAH) yang ditampilkan dalam format buku elektronik/digital 3D Flip Page. Selain itu, pengembangan BA PGAH menggunakan pendekatan lintas disiplin ilmu Geografi, Kimia, Fisika, dan Biologi, dimana sebelumnya materi pendidikan kebencanaan terkonsentrasi pada satu bidang kajian,” tutupnya. (*)