Guru Ngajar Full, Waktu Kurang Efektif

24
ilustrasi PBM. (dok)

Sejak proses belajar mengajar (PBM) tatap muka di sekolah diterapkan 4 Januari lalu, hingga kini diklaim berjalan aman. “Aman dalam artian, proses pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana, kemudian penerapan protokol kesehatannya juga diterapkan dengan baik sesuai dengan arahan yang telah kita berikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Habibul Fuadi, kemarin.

Diakui memang ada guru yang terpapar Covid-19 seperti di SMPN 10 Padang dan SDN 12 Kuranji. Kendati demikian, pihaknya bersama instansi terkait telah menginstruksikan agar sekolah tersebut ditutup sementara dan proses pembelajaran dialihkan ke daring. “Kemudian, dilakukan penyemprotan disinfektan di sekolah tersebut, lalu para guru dan siswa dilakukan tes swab, serta pembelajaran kembali dialihkan ke daring,” tuturnya.

Lebih lanjut Habibul menegaskan, semuanya, baik proses pembelajaran maupun penerapan protokol kesehatan di sekolah-sekolah berjalan sesuai koridor yang telah ditetapkan. “Tugas kita mengawasi, kalau ada yang kurang tertib akan ditertibkan. Proses belajar mengajar berjalan normal, tidak ada kendala yang dialami guru maupun siswa sesuai rencana awal. Kalau pun ada, itu tidak mengganggu, bisa diselesaikan,” sebutnya.

Senada, Wakil Kurikulum SMPN 18 Padang, Elvi Dewita mengatakan, sejauh ini pembelajaran tatap muka di SMPN 18 Padang berjalan dengan baik dan lancar. Namun demikian, dari segi waktu yang hanya 20 menit, dirasa kurang efektif.


Kemudian karena pembelajaran dibagi dua shift, daring dan luring, guru terpaksa harus mengajar full, sedangkan saat sebelum pandemi, hanya empat sampai lima hari. “Lalu saat belajar daring, siswa yang kurang mengerti itu kurang mendapat perhatian, dibiarkan begitu saja. Tapi saat tatap muka, ketika siswa itu bertanya baru dijelaskan,” ujarnya.

Begitu juga dengan penerapan protokol kesehatan, Elvi menyebut, penerapan protokol kesehatan di SMPN 18 Padang berjalan dengan tertib. “Namun, jika siswa yang tidak memakai masker diminta untuk membeli atau menjemput pulang,” ungkapnya.

Guru Kelas 6 SDN 44 Kalumbuk, Akses Januar juga mengungkapkan demikian. Ia menyampaikan pembelajaran tatap muka di SDN 44 Kalumbuk berjalan lancar dan protokol kesehatan diterapkan secara baik.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang Barlius mengatakan, sejak PBM tatap muka dilaksanakan 4 Januari lalu, pihaknya selalu memantau penerapan protokol kesehatan Covid-19 di sekolah.

“Di awal-awal belajar tatap muka memang ada kita temukan, masih ada yang belum menerapkan protokol kesehatan secara baik. Sudah kita berikan teguran dan lebih memperketat pengawasan dan pemantauan,” katanya.

Hasilnya saat ini, sambung Barlius, telah ada kesadaran dari masyarakat di lingkungan sekolah untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Bahkan secara umum, penerapan 3M seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak telah membudaya.

Baca Juga:  Jadikan Kongres VI Pemersatu, IKA Unand Mesti Topang Kemajuan Kampus

“Sudah menjadi kebiasaan, karena kita sudah mewanti-wanti kepada pihak sekolah untuk selalu patuh menerapkan protokol kesehatan. Dan kita bersama Satpol PP selalu monitor secara acak ke beberapa sekolah, jika ditemukan pelanggaran langsung kita tegur,” imbuhnya.

Teguran ini dilakukan secara cepat agar tidak menjadi kebiasaan kembali bagi sekolah dalam menerapkan protokol kesehatan. Barlius mengklaim bahwa sejauh ini, proses tersebut berjalan dengan baik.

“Kemarin ada guru di SMPN 10 Padang yang terpapar Covid-19, kita minta agar sekolahnya ditutup beberapa hari dan proses pembelajaran kembali dilakukan secara daring. Bahkan para siswa juga diminta tes swab untuk memutus mata rantai penularan,” ujarnya.

Begitu juga dengan kasus positif Covid-19 salah seorang guru di SDN 12 Kuranji. Selain meminta agar sekolah ditutup sementara dan pembelajaran dialihkan ke daring, pihaknya juga melakukan penyemprotan disinfektan.

“Untuk penanggulangan Covid-19 saat pembelajaran tatap muka ini, kita sangat serius. Sehingga Plt Wali Kota diundang untuk talkshow tentang kiat Kota Padang bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka karena di daerah Jawa masih belum,” sebutnya.

Barlius menjelaskan, pertimbangan pelaksanaan pembelajaran tatap muka lantaran jika dilaksanakan daring secara terus menerus di masa pandemi Covid-19 maka dikhawatirkan nilai-nilai pendidikan tidak berjalan dengan baik. “Jika pembelajaran saja itu tidak bagus, padahal sekolah, yang lebih fokus ini ke pendidikannya. Buka hanya pembelajaran saja,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang Alfiadi menyampaikan, pihaknya hampir setiap hari melaksanakan dan menindaklanjuti Perda dan Perwako tentang Pola Hidup Baru di masa pandemi Covid-19.

“Hampir tiap hari personel kami mengingatkan masyarakat terutama di pusat perbelanjaan restoran, tempat hiburan, dan lainnya agar menerapkan protokol kesehatan,” ungkap Alfiadi.

Dia mengakui, saat masa-masa awal pandemi Covid-19 memang banyak masyakat tidak mengikuti arahan untuk menerapkan protokol kesehatan. Namun saat ini, katanya, secara umum telah ada dampak positif.

“Misalnya dulu Kota Padang berstatus zona merah penyebaran Covid-19, sekarang sudah menuju zona kuning. Artinya, kasus Covid-19 sudah sangat melandai. Itu bagian dari usaha kita,” jelasnya.

Kendati demikian, sambung Alfiadi, kesadaran masyarakat masih minim. Pasalnya ketika ada petugas Satpol PP atau kepolisian, masyarakat sangat patuh terhadap protokol kesehatan.

“Nah, sebaliknya ketika tidak ada petugas, mereka kembali tidak mematuhi protokol kesehatan. Tidak memakai masker, atau jika pakai masker ya pakainya di dagu, lalu berkerumun. Itu susahnya. Memang butuh waktu untuk mengubah perilaku ini. Namun secara masif ini akan terus kita tingkatkan,” pungkasnya. (i/mg6/mg8)