Salah Strategi, Bisa tak Lulus Negeri

25
Ilustrasi. (Foto: IST)

Para orangtua yang anaknya akan masuk SMA, dituntut untuk menyiapkan strategi. Sebab, jika salah strategi, maka bisa saja anak mereka tidak lulus sekolah negeri.

Karena itu para orang tua diminta untuk lebih mengutamakan sekolah anak mereka berdasarkan tempat tinggal terdekat. Sistem zonasi tersebut sedikit berbeda jika dibandingkan tahun sebelumnya yang bisa memberikan siswa dua sekolah pilihan, tapi sekarang hanya satu sekolah. Kecuali SMK yang bisa mendaftarkan diri di dua bidang keahlian.

Salah strategi dimaksud, jelas Kadisdik Sumbar, Adib Alfikri, misalnya si anak menginginkan suatu sekolah yang menurutnya bagus walau ada sekolah terdekat dari lingkungan mereka. “Namun karena sekolah tersebut berada di kawasan padat penduduk kemungkinan mereka akan diterima itu sangat tipis sekali,” ujarnya, kemarin.

Selama ini, sambungnya, banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah unggulan di sejumlah SMA.

Namun, saat ini kondisinya sudah berubah, karena ke depan tidak akan ada lagi sekolah unggulan, karena masing-masing sekolah tersebut sama.

Masing-masing sekolah harus menjadi sekolah unggul, misalnya dengan cara mengelompokan siswa ke dalam kelas unggul. Tujuannya agar ada pemerataan siswa-siswi terbaik di masing-masing sekolah yang ada di Sumbar.

Tak sampai di sana, ke depan, Disdik Sumbar juga bakal melakukan pemerataan tenaga pendidik. “Redistribusi guru ini nantinya akan dibagi ke sekolah berdasarkan tempat tinggal para guru,” terang Adib.

Nantinya, untuk persoalan tenaga pendidik ini akan ada bidang baru yang akan menanganinya di Disdik Sumbar, yakni bidang ketenagapendidikan yang SK-nya saat ini sedang diproses di bagian Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sumbar.

“Jadi saya tegaskan, nantinya tidak akan ada lagi sekolah unggul. Semua sekolah itu sama. Termasuk para gurunya, nanti akan kita redistribusikan berdasarkan tempat tinggal mereka,” ungkap mantan Kadispora Sumbar tersebut.

Untuk PPDB tahun ini, khusus untuk SMA setiap siswa hanya diberikan satu pilihan sekolah yang berdasarkan tempat tinggal terdekat siswa. Sedangkan untuk SMK diberikan dua pilihan bidang keahlian.

Namun bagi siswa yang belum lulus pada tahap pertama, juga bakal ada lagi tahap kedua untuk pemenuhan jalur zonasi.

Diakui, terkait berbagai persoalan PPDB yang ada di Sumbar juga sudah disampaikan kepada Kementerian pendidikan di berbagai rapat.

Namun tetap saja, mau tidak mau daerah tetap harus mengikuti semua kebijakan yang telah diambil pihak Kementerian Pendidikan.

Kabid SMA, Suryanto menjelaskan, saat ini Sumbar memiliki sebanyak 213 SMAN dan sebanyak 112 SMKN. SMA Swasta diperkirakan lebih dari 300 sekolah dan SMK Swasta sekitar 215 sekolah. Sehingga total keseluruhannya lebih dari 600 SMA/SMK.

Dia juga tidak menampik masih adanya sekolah di Sumbar yang belum bisa tersentuh jaringan internet. Seperti halnya di Tigolurah, Solok lalu di Pasaman seperti Mapattunggul Selatan, kemudian sebagian lagi di Sijunjung.

Sedangkan di Mentawai saat ini, masih menggunakan jaringan 3G, belum 4G. Itu terjadi hampir di seluruh sekolah di kepulauan Mentawai. Karena itu pihaknya merekomendasikan para siswa untuk bisa datang langsung ke sekolah. Namun tetap dengan memerhatikan protokol Covid-19.

“Memang pendaftaran ini dilakukan secara online dengan mengakses website http://ppdbsumbar2020.id. Ini untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Bagi sekolah yang belum memiliki akses internet, siswa diminta untuk datang langsung, namun tetap dengan protokol Covid-19,” katanya. (zul)