IPB Posisi Puncak, Unand 13

Klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun 2020 diumumkan kemarin (17/8). Ada penambahan dua anggota baru di klaster 1. Meski, belum ada perguruan tinggi swasta (PTS) yang masuk dalam klaster tersebut.

Tahun ini, Institut Pertanian Bogor (IPB) menduduki peringkat pertama dengan skor 3.648. IPB menggeser Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sebelumnya berada di posisi puncak pada tahun lalu dengan skor 3.671. ITB sendiri saat ini berada di posisi kelima. Sedangkan Unand juga mesti tergeser ke posisi 13.

Dalam pengklasteran ini, ada lima klaster yang tersedia. Pertama, klaster 1 untuk perguruan tinggi dengan skor di atas 2.700. Kemudian klaster 2 dengan skor antara 2.000-2.700, klaster 3 dengan skor antara 1.500-2.000, klaster 4 untuk skor 1.000-1.500, dan klaster lima di bawah 1.000. Skor ini diperoleh dari data-data sahih yang tentang masing-masing perguruan tinggi.

Mulai dari data di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti), data hasil penilaian kinerja perguruan tinggi yang telah dilaksanakan oleh unit kerja di lingkungan Ditjen Dikti akan tetapi belum tersajikan di dalam PD Dikti, hingga data dari luar PD Dikti yang relatif telah mapan dan siap digunakan untuk mengukur kinerja perguruan tinggi.

Dari hasil analisis terhadap data-data dari 2.136 perguruan tinggi yang tersedia, maka diperoleh hasil klasterisasi perguruan tinggi tahun 2020 yang terdiri klaster 1 berjumlah 15 perguruan tinggi, klaster 2 berjumlah 34 perguruan tinggi, klaster 3 berjumlah 97 perguruan tinggi, klaster 4 berjumlah 400 perguruan tinggi, dan klaster 5 berjumlah 1.590 perguruan tinggi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam menjelaskan, bahwa klasterisasi bukan merupakan pemeringkatan. Namun, upaya Ditjen Dikti untuk melakukan pemetaan atas kinerja perguruan tinggi.
”Ini pengelompokan perguruan tinggi sesuai dengan level perkembangannya. Klasterisasi ini jangan disalah maknai sebagai pemeringkatan,” tuturnya dalam temu media secara daring kemarin (17/8).

Baca Juga:  Mahasiswa Baru STKIP Adzkia Dibekali Pendidikan Karakter

Lebih lanjut, dia memaparkan, jika tujuan utama klasterisasi adalah untuk menyediakan landasan bagi pengembangan dan pembinaan perguruan tinggi. Bagi yang berada di klaster bawah, akan didorong untuk naik. Sementara, yang sudah diatas bakal didukung untuk jadi lebih baik.

Dalam penilaiannya sendiri, ada sejumlah komponen yang dijadikan landasan. Diantaranya, mutu sumber daya manusia dan mahasiswa (input), pengelolaan kelembagaan perguruan tinggi (proses), capaian kinerja jangka pendek yang dicapai oleh perguruan tinggi (output), dan capaian kinerja jangka panjang perguruan tinggi (outcome). Di mana, masing-masing komponen memiliki sejumlah indicator masing-masing.

Dia mencontohkan, salah satu indikator yang penting ialah leadership. Bagaimana pemimpin bisa membangun teamwork untuk mencapai misi dari perguruan tinggi tersebut. “Pertanian misalnya. Jadi bagaimana bisa membawa civitas akademikanya menuju ke sana. Melalui research, paten, dan lainnya,” paparnya.

Dari hasil klasterisasi tersebut, ada dua perguruan tinggi yang berhasil naik ke klaster 1. Yakni, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Negeri Malang (UNM). “Yang sebelumnya hanya 13, kini jadi 15 yang ada di klaster 1,” tutur Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti Ridwan. Menurutnya, Hal ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitasnya.

Sayangnya, dari 15 perguruan tinggi tersebut tak ada PTS. Diakui Ridwan, saat ini memang belum ada yang masuk. Hal ini karena data yang diberikan tidak lengkap. Sementara, penilaian berdasarkan data yang bukan sekadar opini. Karenanya, dia mendukung PTS untuk lebih giat melaporkan datanya. (mia/jpg)