Gubernur Dukung Unand Teliti Pengintegrasian Kesiapsiagaan Covid-19

15
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah bersama Prof Bambang Istijono dan para peneliti Unand lainnya di Gubernuran, Sabtu (17/4). (IST)

Pengintegrasiaan kesiapsiagaan terhadap Covid-19 ke dalam pengurangan risiko bencana daerah mutlak dilakukan, termasuk di Sumbar. Hal ini dilakukan guna meminimalisir dampaknya. Terlebih, pandemi Covid-19 masih belum berakhir sampai sekarang ini.

”Itu harapan kita, sehingga bencana non alam pandemi Covid-19 yang masih terjadi saat ini dapat menjadi landasan untuk bergerak dalam rangka pemulihan termasuk di Sumbar. Kita mendukung penelitian yang dilakukan para pakar Unand soal ini dan tentu menjadi masukan berharga bagi Pemprov Sumbar, terutama dalam mengupayakan pengurangan risiko bencana terkait dengan dampak Covid-19,” keta Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah usai menerima beberapa pakar Unand di Gubernuran, Sabtu (17/4).

Diakui Mahyeldi, pandemi Covid-19 sudah merontokkan sektor perekonomian masyarakat dan daerah. Namun, tentu harus disikapi dengan berbagai kebijakan yang bermuara kepada kebangkitan ekonomi dan ketahanan masyarakat terkait dengan bencana, tak terkecuali bencana non alam seperti pandemi Covid-19.

Dalam konteks penanganan pandemi Covid-19, menurut dia, pemerintah sudah melakukan beberapa langkah. Bahkan di Sumbar dilahirkan konsep nagari tageh, kongsi Covid-19 dan sebagainya, serta kearifan lokal lainnya.

”Pemprov Sumbar berharap ada lagi terobosan-terobosan lain agar bencana non alam Covid-19 bisa dihadapi. Intinya, pengurangan risiko bencana teraplikasi di lapangan sehingga dampak yang ditimbulkan, bisa ditekan sedemikian rupa,” ucap dia.

Tim pakar Unand Prof Bambang Istijono dalam kesempatan itu menjelaskan, wabah Covid-19 adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Risiko yang ditimbulkan luar biasa dan hal ini butuh banyak penguatan. Di banyak negara, tidak memiliki pengalaman operasional dalam menangani perencanaan kesiapsiagaan kombinasi bahaya alam dan biologis.

Baca Juga:  Menwa UNP jadi Penembak Terbaik PDM di Yonmarhanlan II Padang

”Penelitian ini akan memberikan wawasan tentang beberapa masalah kritis yang perlu dipahami dengan lebih baik untuk meningkatkan kesiapsiagaan epidemi dan pandemi. Tegasnya, kesiapsiagaan terhadap pandemi harus terpadu dan membangun ketahanan nasional sampai ke daerah yang mengintegrasikan kesehatan masyarakat dan manajemen risiko bencana,” ucap dia.

Di sisi lain, Dr Taufika Ophiyandri menambahkan, tujuan khusus penelitian antara lain untuk mengeksplorasi sejauhmana perencanaan kesiapsiagaan Covid-19 saat ini tertanam dalam perencanaan PRB dan perencanaan tingkat nasional sebagai bahaya biologis.

Lalu, mengindentifikasi bagaimana aspek kesehatan masyarakat diintegrasikan dengan lebih baik ke dalam PRB dan perencanaan ketahanan dalam memerangi tantangan ganda dari bencana lain dan Covid-19.

Capaian jangka pendek dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan peran sistem kesehatan masyarakat dalam perencanaan kesiapsiagaan PRB. Kajian literatur Covid-19 akan memberikan gambaran tentang posisi perencanaan kesiapsiagaan Covid-19 dalam kerangka PRB di Indonesia.

Penelitian yang didukung Newton Fund dan Kementerian Ristek BRIN ini dilaksanakan 24 bulan dipimpin Prof Dilantai Amaratunga dan Prof Richard Haigh (Universitas Huddersfield Inggris) dan Dr Taufika Ophiyandri (Unand). Nantinya, peneliti bekerja sama dengan instansi pemerintah dan daerah terkait, termasuk BNPB, Pemprov Sumbar, Pemko Padang dan UNDRR. (rdo)

Previous articleNekat Bawa Senpi, Seorang Pemuda Ditangkap
Next articleAndre Rosiade adalah “Koenci” Pembangunan Sumbar