Tari Rantau Malin Kisahkan Monopoli Perdagangan Rempah Era Kolonial

27

Kelompok seni adat dan budaya Minangkabau Palito Nyalo dipercaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menampilkan pertunjukan drama Tari Rantau Malin. Kisah monopoli perdagangan rempah era kolonial.

Penampilan tari ini diselengarakan pukul 20.00 WIB Senin (20/9/2021) di Ladang Tari Nan Jombang dan disiarkan live melalui Youtube channel Palito Nyalo TV.

“Pertunjukan Rantau Malin ini program Muhibah Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka program Jalur Rempah 2021. Kami angkat dalam bentuk pertunjukan drama tari karena memiliki spirit dan kedekatan histori dengan tema jalur rempah,” jelas Dasrul, Sutradara sekaligus Ketua Palito Nyalo.

Dijelaskan Dasrul bahwa tarian ini mengisahkan kehidupan masyarakat nelayan di pinggir pantai barat Sumatera di zaman kolonial.

Ketertindasan dan monopoli jalur perdagangan rempah yang dilakukan kolonial dipaparkan secara apik dengan kisah kehidupan pemuda Minang bernama Malin.

Malin tidak kuasa melihat perilaku semena mena kaum penjajah. Untuk itu, malin memutuskan pergi merantau mencari kehidupan dan pemikiran.

Kerja keras dan ulet malin berhasil di rantau dan mampu menjadi saudagar rempah di kawasan Melayu. Akhirnya dia mampu mengetahui dunia perdagangan sehingga dengan kemampuan dan kekuatan jaringanya.

Setelah menjadi saudagar, Malin pulang ke Padang dan membangun kampung halamannya. Dia menjadi saudagar rempah di kampung halamannya.

Alumni magister Ilmu Budaya, Pariwisata dan Media itu menambahkan, bahwa pertunjukan ini tidak dapat terwujud jika tidak ada bantuan dari pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan dan BPNB Sumbar.

“Pertunjukan itu, bisa disaksikan melalui Youtube Channel Palito Nyalo TV. Durasi pertunjukan 30 menit. Kami yakin, penonton menikmati pertunjukan yang apik, khas seni budaya Minangkabau. Kolaborasi silek, tari, dan musik Minang disuguhkan oleh anak-anak Palito Nyalo.” jelas Dasrul yang pernah menjadi jurnalis senior di Padang TV itu.(rel/idr)