Muhibah Budaya, Palito Nyalo Suguhkan Drama Tari Rantau Malin

19

Pertunjukan drama Tari Rantau Malin yang dibawakan Kelompok seni adat dan budaya Minangkabau Palito Nyalo di Ladang Tari Nan Jombang, Padnag, Senin (2/9/2021).

Kegiatan yang disiarkan live melalui Youtube channel Palito Nyalo TV bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tersebut, berlangsung sukses.

“Pertunjukan Rantau Malin ini program Muhibah Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam program Jalur Rempah 2021. Kami angkat dalam bentuk pertunjukan drama tari karena memiliki spirit dan kedekatan histori dengan tema jalur rempah,” jelas Dasrul, Sutradara sekaligus Ketua Palito Nyalo.

Dijelaskan Dasrul bahwa tarian ini mengisahkan kehidupan masyarakat nelayan di pinggir pantai barat Sumatera di zaman kolonial.

Ketertindasan dan monopoli jalur perdagangan rempah yang dilakukan pihak kolonial ketika itu, dipaparkan secara apik dengan kisah kehidupan pemuda Minang bernama Malin.

Malin tidak kuasa melihat perilaku semena mena kaum penjajah. Untuk itu, malin memutuskan pergi merantau mencari kehidupan dan pemikiran.

Kerja keras dan ulet malin berhasil di rantau dan mampu menjadi saudagar rempah di kawasan Melayu. Akhirnya dia mampu mengetahui dunia perdagangan hingga memiliki kemampuan dan kekuatan jaringan.

Setelah menjadi saudagar, Malin pulang dan membangun kampung halamannya. Dia menjadi saudagar rempah di kampung halamannya.

“Pertunjukan itu, bisa disaksikan melalui Youtube Channel Palito Nyalo TV. Durasi pertunjukan 30 menit. Kami yakin, penonton menikmati pertunjukan yang apik, khas seni budaya Minangkabau,” jelas Dasrul yang pernah menjadi jurnalis senior di Padang TV itu.

Dalam drama tersebut, bukan hanya tarian Khas Sumatera Barat yang ditampilkan, namum anak-anak Palito Nyalo juga menyuguhkan kolaborasi silek dan musik Minang.

Drama Rantau Malin tersebut adalah sebuah penggalan cerita rakyat Malin Kundang yang sudah dikenal masyarakat selama ini.

Dalam cerita selama ini, Malin Kundang yang dikisahkan sebagai anak durhaka pada orangtuanya. Namun dalam drama Tari Rantau Malin, dia tampil sebagai anak yang rajin beribadah dan sangat hormat kepada orang tunya.

Malin merantau untuk mengubah nasib keluarganya. Dia pulang ke kampungnya untuk mencari ibunya, bukan tidak mengakui ibunya.

“Drama tari tersebut mencoba menyadarkan orang bahwa Malin itu adalah gelar adat dan tidak ada batu ataupun kutukan,” ungkap jebolan magister Ilmu Budaya, Pariwisata dan Media ini.

Dasrul menambahkan pertunjukan ini tidak dapat teruwujud jika tidak ada bantuan dari pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan dan Badan Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB).

Dalam penampilan pertunjukan drama Rantau Malin malam itu, hadir Kepala BPNB Sumbar Undri. Dia sangat mengapresiasi penampilan drama yang ditampilkan Palito Nyalo dan berharap bisa menginternalisasi nilai kebudayaan.

“Kegiatan ini baik untuk menginternalisasi nilai budaya kepada masyarakat dan yang paling utama kepada generasi muda atau anak-anak milenisl,” tegas Undri usai pertunjukan Drama Rantau Malin.

Undri berharap pementasan kesenian maupun drama yang ditampilkan ini menjadi kerangka besar dalam upaya memajukan kebudayaan dan salah satu media yang bisa memajukan daerah. (rel)