Mendikbud Kunjungi PBNU soal Polemik Sejarah

7
Mendikbud mengunjungi kantor PBNU. (net)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengunjungi kantor PBNU kemarin (22/4) untuk melakukan klarifikasi terhadap polemik Kamus Sejarah Indonesia yang dikritik karena tidak memuat tokoh pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ári.

Nadiem tiba di PBNU sekitar pukul 14.30 diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa pengurus lainnya. Hadir juga dalam pertemuan tersebut, aktivis pendidikan dan Ketua Wahid Institute, Yenny Wahid.

Ketua PBNU Robikin Emhas mengatakan bahwa dalam pertemuan tersebut, pihaknya meminta kepada Kemdikbud dalam menulis sejarah untuk berpegang pada kaidah dan metodologi penulisan sejarah yang sesuai dengan prinsip ilmiah berbasis fakta sejarah. ”Sejarah harus ditulis berdasarkan fakta,” katanya kemarin (22/4).

Robikin menjelaskan, secara teknis dan substansial kamus sejarah Indonesia yang beredar memiliki banyak catatan sehingga menimbulkan kegaduhan dan perdebatan di tengah masyarakat. ”Atas masukan dari PBNU Mendikbud Nadiem Makarim setuju untuk menarik naskah lama, dan akan menyusun naskah baru dengan tim yang akan melibatkan ormas seperti NU dan lainnya,” katanya.

Baca Juga:  Kongres Ika Unand Siapkan Anugerah untuk Tokoh Bangsa

Ketiga, Robikin menyebut bahwa Nadiem menegaskan akan menarik naskah ataupun terbitan buku yang sudah beredar, mengingat masih banyak kekurangan ketidaklengkapan.
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Kemendikbud dan PBNU sepakat untuk menyusun tim baru untuk melakukan revisi. ”PBNU sudah menugasi KH. Arifin Junaidi untuk masuk dalam tim perumus. Memberikan masukan-masukan agar sejarah ini bisa diluruskan,” katanya.

Nadiem mengatakan bahwa meskipun buku ini disusun sebelum dia menjabat, namun isu ini tetap menjadi tanggung jawabnya. Ia sendiri menyebut bahwa setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut. Masih banyak kekurangan dari Buku Kamus Sejarah Indonesia tersebut. ”Kita segera mengoreksi. Ada berbagai macam isu, bukan hanya NU tapi banyak ketidaklengkapan yang akan segera kita selesaikan,” katanya.

Nadiem mengatakan, tokoh-tokoh sejarah ini adalah identitas indonesia yang tidak boleh dilupakan. Ia menyebabkan kita tidak tahu Indonesia mau kemana kalau kita tidak tahu datangnya dari mana. ”Dengan ini quality kontrol kemendikbud akan semakin baik,” katanya. (tau/jpg)

Previous articleUntuk Lindungi Anak-anak dari Covid-19, Jepang Sumbang Rp 100 Miliar
Next articleBelum Bisa Pastikan Ada Penonton, Liga 1 Dirancang Mulai 3 Juli