TOP SEKOLAH: Gerakan Kembali ke Buku Ala SMPN 18 Padang

3
GEMAR MEMBACA: Suasana pembelajaran di SMPN 18 Padang.(IST)

Gerakan paling top di sekolah ini adalah gerakan membaca. Membaca buku. Membaca koran. Dua “alam” itu bagi sekolah ini adalah jendela yang membuka cakrawala. Literasi SMPN 18 Padang, literasi bermesin kreativitas yang terus menyala !

Bahkan, sekolah yang satu ini sudah lama memaklumatkan ke ruang publik, bahwa sekolah mereka adalah sekolah literasi dengan segala gerakan yang mengolah imajinasi menjadi sikap dan perbuatan kreatif!

“Sekolah literasi diprakasai para guru untuk meningkatkan kembali minat baca para siswa yang sudah banyak yang bergantungan dengan smarphone mereka. Lama-lama menggunakan HP, rawan merusak mata !” ujar Plt Kepala Sekolah SMP N 18 Padang, Sukasdianto.

Ia mengatakan SMP N 18 Padang sudah mulai mengiatkan kembali literasi membaca siswa sejak tahun 2019. Tujuannga adalah mengembalikan gairah membaca anak-anak di generasi mereka yang seluruhnya disapu dengan teknologi.

“Bila harian Padang Ekspres menggerakkan gerakan #kembalikekoran, kami justru melakukan gerakan #kembalikebuku,” katanya.

Sukasdianto menyebutkan selama pengajaran online juga berpengaruh kepada literasi anak-anak, ia mengatakan dengan berfokus kepada gadget masing-masing anak-anak hanya terfokus kepada smartphone dan jarang yang mencari tau atau membaca bahan ajar dengan fokus tentu demikian mengurangi tingkat kepahaman anak terhadap bacaannya.

“Teknologi memiliki manfaat untuk kita, kita menerima perkembangan, namun kembali membaca buku pengetahuan, novel, komik dan jurnal-jurnal kembali mengasah pengetahuan anak untuk semakin ingin tahu tentang dunia,” ujar Sukasdianto.

Katanya salah satu alasan mengapa kembali ke buku karena buku memiliki tahapan-tahapan penyeleksian sebelum dicetak secara masal. Ia juga mengatakan sumber buku lebih bisa dipercaya dari pada sumber-sumber yang ada di internet.

“Yang lebih penting, membaca buku tidak merusak mata. Tidak terkena radiasi. Radiasi HP itu berbahaya. Makanya, kami kembali ke buku !” ujarnya.

“Banyaknya informasi hoax dan pembodohan di internet membuat kita harus memilah-milah artikel mana yang benar mana yang salah. Lalu ketika menemukan kejanggalan tulisan tersebut bisa dicabut sepihak berbeda dengan buku yang harus ditarik dari peredaran dan tidak akan bisa disebarluaskan lagi jika terindikasi ada kebohongan informasi,”tambahnya.

Mendukung sekolah literasi, SMP N 18 Padang menyediakan pojok-pojok literasi disetiap kelas. Pojok literasi sendiri adalah sebuah rak buku khusus yang ada dikelas dan setiap paginya sebelum belajar siswa akan dianjurkan membaca satu halaman atau dua halaman.

“Tidak hanya dikelas kita juga menyediakan tempat untuk meletakan buku di masjid dan bahkan diruang kepala sekolah. Ini semua dilakukan demi meningkatkan minat baca kepada seluruh warga SMP N 18 Padang,” katanya.

Setelah dianjurkan membaca siswa akan membuat kesimpulan apa yang telah mereka baca dan dijabarkan secara singkat di lembaran yang telah disediakan. Dengan demikian dapat melihat seperti apa tingkat pemahaman seorang anak tentang buku yang ia baca dan dapat menjadi perhatian bagi guru untuk mengevaluasi anak tersebut.

Lalu demi memuluskan langkah menjadi sekolah literasi Sukasdianto mengatakan akan melakukan akreditasi perpustakaan untuk menunjang semangat baca anak didiknya. Ia mengatakan masih memerlukan banyak buku untuk mendapatkan akreditasi yang bagus.

“Untuk sekarang kita berusaha untuk mendapatkan akreditasi perpustakaan, minimal untuk mengajukan akreditasi harus mencapai 1.000 judul buku diperpusatakan, sekarang kita sedang mengajukan untuk pengadaan buku tersebut,” ungkapnya.

Kerja keras para guru SMP N 18 Padang tidak terlepas dari keinginan mereka untuk menjadi sekolah yang memiliki literasi yang tinggi. Sukasdianto menyebutkan mengajak anak-anak untuk kembali terbiasa dengan bacaan buku adalah sebuah tantangan bagi para guru.

“Jangankan anak, kita yang tua kadang jarang sekali membaca. Untuk itu kita ingin membiasakan hal yang baik ini kepada mereka agar nantinya mereka memiliki pandangan yang luas dan itu berguna karena nantinya mereka lah yang akan menjadi pemimpin dimasa depan,” akunya.

Peran orang tua juga dimintak untuk mengembalikan semangat membaca buku, permasalahan yang sering ditemukan salah satu penghambat anak untuk ingin membaca adalah handphone. Diusia mereka yang masih belasan android adalah racun yang cukup membuat mereka malas belajar.

“Sedari kecil mereka sudah disuguhi dengan handphone, ketika anak mereka menangis mereka memberikan handphone agar tidak repot. Kebiasaan dari kecil ini nantinya sulit dirubah dan dapat menyebabkan adiksi jika tidak dikontrol oleh orang tua,” tambahnya.

Untuk sekarang Sukasdianto ingin mengembalikan lagi gairah membaca di kalangan tingkat SMP agar semakin mengasah kemampuan membaca dan menambah ilmu pengetahuan para siswa. Meski ada hambatan selama pandemi dan kegiatan literasi sekolah sempat terganggu.

Ia berharap agar membaca menjadi perhatian bersama dari seluruh orang tua dan guru untuk meningkatkan kualitas keilmuan seorang anak. Sukasdianto sangat berharap besar kepada program sekolah literasinya SMP N 18 Padang sebagai penyelamat generasi muda dari gerusan teknologi yang semakin tidak terbendung. (cr1)