Vaksinasi Guru Tuntas, Juli Tatap Muka

38
ilustrasi pembelajaran tatap muka. (jpg)

Vaksinasi untuk guru dan dan tenaga kependidikan sudah dimulai sejak kemarin (24/2). Presiden Joko Widodo kemarin meninjau kegiatan vaksinasi Covid-19 di SMA Negeri 70 Jakarta. Vaksinasi untuk 5.000 guru dan tenaga pendidik akan selesai Juni nanti.

Jokowi menyatakan bahwa vaksinasi yang kemarin dihelat berjalan lancar. Jokowi dan rombongan tiba di lokasi pada pukul 11.10. Vaksinasi kemarin menyasar 650 orang pendidik dan tenaga kependidikan yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan.

”Targetnya pada bulan Juni nanti lima juta guru selesai divaksin,” ungkap Jokowi. Sehingga saat mulai ajaran baru bisa berjalan normal kembali pada semester kedua tahu ini. Kemarin merupakan pilot project untuk daerah lainnya.

Setelah dilakukan di DKI Jakarta, vaksinasi bagi tenaga pendidik dan kependidikan ini diharapkan bisa diikuti dengan kegiatan serupa di provinsi-provinsi lain. Dengan memprioritaskan pemberian vaksin kepada tenaga pendidik, Jokowi berharap kegiatan belajar mengajar tatap muka bisa segera dilakukan.


Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengungkapkan, ada sekitar 650 orang pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang mengikuti kegiatan vaksinasi pertama ini.

Giat ini akan secara otomatis dilanjutkan untuk PTK di daerah pada seluruh jenjang pendidikan, negeri dan swasta, baik formal maupun non-formal dan pendidikan keagamaan.

Di mana, penyuntikannya bakal diberikan secara bertahap mulai dari PTK di PAUD/RA/sederajat, SD/MI/sederajat, SLB, SMP/MTs/sederajat, SMA/MA/sederajat, dan SMK. Terakhir, pada jenjang pendidikan tinggi atau sederajat. ”Pelaksanaan itu akan dilakukan masing-masing dinas kesehatan daerah, dengan juga menggunakan protokol kesehatan dari Kemenkes,” ujarnya.

Adapun jadwal dan lokasi vaksinasi akan diinformasikan oleh dinas kesehatan/dinas pendidikan/kantor wilayah Kemenag masing-masing daerah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menyiapkan data PTK yang dijadikan basis pemberian vaksinasi.

Untuk mendapatkan vaksin, PTK yang terdaftar cukup membawa identitas diri ke lokasi vaksinasi yang ditentukan pemerintah daerah. Jika PTK tidak terdaftar, dapat menyertakan surat pernyataan dari pimpinan satuan pendidikan dan membawa surat ke lokasi vaksinasi. Selanjutnya, Kemenkes berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menghadirkan layanan vaksinasi yang paling memudahkan bagi seluruh PTK.

Dengan memprioritaskan pemberian vaksin kepada PTK, Mendikbud berharap kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka bisa segera dilakukan. Menurutnya, bila target vaksinasi Juni 2021 sukses maka KBM tatap muka bisa dimulai bertahap mulai tahun ajaran baru. ”Kalau kita bisa vaksinasi sampai akhir bulan Juni, sehingga di Juli insya Allah sudah melakukan proses tatap muka di sekolah,” papar alumni Harvard University tersebut.

Di awali dari peserta didik pada jenjang PAUD, SD, dan SLB. Kemudian, dilanjutkan, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Dia berpendapat, jenjang PAUD, SD, dan SLB menjadi prioritas karena paling terdampak dan kesulitan menghadapi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Baca Juga:  Jadikan Kongres VI Pemersatu, IKA Unand Mesti Topang Kemajuan Kampus

Sehingga, butuh untuk segera melakukan pembelajaran tatap muka.
Namun, lanjut dia, pelaksanaan KBM tatap muka ini tetap wajib mematuhi protokol kesehatan (prokes). Dia optimis, seluruh satuan pendidikan nantinya bisa menaati prokes yang ditetapkan mengingat sudah melatih kebiasaan baru ini.

Diakuinya, risiko dari PJJ yang terlalu lama itu sangat besar. Mulai dari lost learning hingga putus sekolah. Oleh karenanya, vaksinasi akan jadi angin segar untuk bisa melaksanakan KBM di sekolah maupun kampus kembali. ”Mungkin tidak langsung 100 persen. Bisa saja dua kali seminggu, tiga kali, atau dalam sistem rotasi karena protokol kesehatan harus tetap dijaga,” jelas mantan bos GoJek tersebut.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia mengungkapkan, proses vaksinasi untuk PTK dilakukan bertahap. Untuk tahap awal, difokuskan untuk PTK di ibukota provinsi. Hal ini lantaran jumlah vaksin yang tersedia baru sekitar 7 juta dosis. ”Tapi, di Maret akan ada tambahan vaksin dari BioFarma dan kiriman bulk vaksin dari Tiongkok. Kalau ini (bulk vaksin, red) perlu diproses dulu ya sama BioFarma,” ujarnya.

Nadia berpesan, agar para PTK yang telah menerima vaksin tetap menjaga protokol kesehatan. Mengingat, pembentukan antibodi membutuhkan waktu setelah vaksin diberikan. ”Sementara untuk pemerintah daerah diharapkan memastikan data sasaran PTK valid dan segera melakukan vaksinasi, bahkan hingga ke daerah terpencil di bawah otoritasnya,” tegasnya.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menyambut baik upaya pemerintah untuk menjadikan guru sebagai salah satu sasaran awal vaksinasi. Menurut dia, upaya ini merupakan langkah strategis untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. ”Dan ini kita ingin segera kembali untuk belajar mengajar secara aman dan nyaman,” ujarnya.

Unifah mengaku sepakat dengan harapan Mendikbud soal KBM tatap muka usai vaksinasi. Mengingat, guru dan siswa sudah sangat rindu untuk melakukan pembelajaran secara langsung di sekolah. ”Meski begitu, nanti di awal kita tidak akan terburu-buru kejar target ini itu. Slow but sure. Yang penting kembalikan semangat belajar siswa dulu,” paparnya.

Mengenai respons guru terkait vaksinasi, Unifah menyampaikan, bahwa hampir semua guru bersemangat dan tak sabar untuk bisa mendapat vaksinasi. Mereka bahkan bertanya, bagaimana caranya dan kapan bisa memperoleh vaksinasi tersebut.

Abdul Latif, salah satu guru penerima vaksinasi, mengaku sangat antusias begitu dikabari akan divaksin. Guru dari SMAN 6 Jakarta ini berharap, vaksinasi dapat membantu menekan angka penularan Covid-19 sehingga pendidikan dan perekonomian kembali berjalan normal. ”Setelah divaksin jadi lebih tenang. Dan tidak terasa apa-apa,” katanya. (mia/lyn/wan/jpg)