Kerja dan Belajar dari Rumah, 40 Daerah Terpencil Sudah Bisa Internet

Pimpinan PT. Citra Satelit Pratama Setia Welly yang membuka akses internet daerah terpencil. (Foto: IST)

Bekerja dan belajar dari rumah sudah menjadi imbauan dan keharusan, demi mencegah penularan pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda dunia.

Apalagi dengan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), semua urusan bisnis, pengetahuan, komunikasi, kerja dan lainnya banyak dilakukan dari rumah.

Institusi pendidikan libur, baik perguruan tinggi maupun sekolah-sekolah. Belajar dari rumah dan dipandu dosen dan guru serta beberapa aplikasi.

Bekerja dan rapat dari rumah juga diwarnai bisa dilakukan dengan aplikasi yang sangat banyak, mulai dari video call dengan whatsapp sampai dengan rapat dengan zoom.

Semua aplikasi tersebut mempunyai keterbatasan yaitu harus melalui akses internet. Namun pernahkan kita memperhatikan untuk lokasi yang belum dapat sinyal internet?

Nagari terpencil dan sangat jauh dari jangkuan sinyal internet juga punya mahasiswa, siswa dan pekerja yang juga diwajibkan bekerja dan belajar dari rumah.

Saat ini PT. Citra Satelit Pratama yang dikomandoi Setia Welly yang memilih pensiun dini dari perusahaan BUMN, mulai melakukan pembangunan akses internet di lokasi terpencil.

“Mengatasi kewajiban bekerja dan belajar dari rumah, dalam waktu 2 bulan ini telah dibangun jaringan internet di 40 desa dan nagari,” ujar Setia Willy yang pernah menjadi pimpinan Telkom Sumbar itu.

Selanjutnya, dia merinci daerah yang dibangun akses tersebut, yakni di empat lokasi di Kabupaten Agam 4, Sijunjung 19 lokasi, Mentawai 2 lokasi, Limapuluh Kota 9 lokasi, dan Pasaman 6 lokasi.

Masih banyak nagari yang belum dapat dijangkau oleh PT. CSP. Namun Welly mengupayakan agar semua nagari di Sumbar mendapatkan akses internet.

“Sijunjung bisa dikatakan adalah kabupaten yang sudah tidak ada lagi nagari yang tidak dapat dijangkau oleh akses internet. Kita menunggu kabupaten lain yang juga inginkan bebas dari keterisoliran nagarinya dari akses internet,” katanya.

Kebetulan Setia Welly saat ini selain pebisnis juga dosen di IAIN Bukittinggi dengan mata kuliah Kewirausahaan.

Dengan latar belakang tersebut, Welly memadukan unsur pembangunan jaringan internet dengan bisnis. Sebanyak 40 lokasi yang dibangun tersebut, ia bekerja sama dengan Badan Usaha Milik (BUM) Nagari dan pebisnis setempat dengan membuat Bisnis Wifi Community.

PT. CSP bersama BUM Nagari meminjam perangkat dari sebuah perusahaan swasta di Jakarta, yang mempunyai perangkat VSAT dan sistem voucher.

Biaya pengiriman perangkat dan instalasi dibantu BUM Nagari yang membuat bisnis Wifi Community tersebut.

“Instalasi akan dibantu PT. CSP. Hanya itu biaya yang dikeluarkan untuk memulai bisnis ini. Dengan demikian dapat menyediakan lapangan pekerjaan, terutama adanya akses internet di nagari yang belum mendapatkan sinyal HP dan akses internet tersebut,” jelasnya.

Biaya yang selama ini sangat mahal untuk membuat sebuah jaringan internet, dengan metode ini menjadi sangat murah sekali.

Voucher yang ditawarkan kepada masyarakat juga sangat murah. Dari harga Rp.5.000 sampai Rp.50.000.

“Sangat terjangkau oleh semua lapisan. Dengan bisnis voucher tersebut, selain membuka peluang bisnis di nagari, juga tersedia jaringan internet di daerah terpencil. Akhirnya dapat meningkatkan perekonomian nagari, tutur Welly.

Selain untuk bekerja dan belajar dari rumah selama pandemi Covid-19, banyak akses yang dapat diperoleh. Antara lain kemudahan bertransaksi dengan internet banking, bisa membuat web nagari untuk memasarkan potensi nagari, baik pariwisata maupun potensi makanan khas daerah. Dengan online tersebut bisa dipasarkan.

Welly berharap agar semua nagari yang membutuhkan sinyal internet dapat memanfaatkan momen yang sangat berharga ini.(esg)