”Sabit Jirus” di Langit Nanggalo: Membaca Jam Alam dengan Nalar dan Data

Penulis : Prof Ir Mas Mera MT Ph.D - Guru Besar Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas
Pukul 05:44 WIB, di sebuah sudut di Nanggalo, Kota Padang, waktu seolah berhenti sejenak. Dalam apa yang sering saya sebut secara seloroh sebagai Nanggalo State Time (NST), saya berdiri di halaman rumah dengan sebuah gawai sederhana—yang sering kita labeli “HP C1na”—mengarahkan lensa ke ufuk timur.
Di sana, di ketinggian 53°49’, seiris cahaya melengkung indah di pengujung fajar. Bagi mata awam, itu mungkin hanya “bulan sabit”. Namun, bagi nalar yang terbiasa membaca data, lengkungan itu adalah sebuah pesan penting tentang keteraturan alam semesta (Sunnatullâh) yang sering kali kita salah pahami.
Fenomena yang saya potret pagi 12 Mei 2026 adalah apa yang dalam istilah teknis astronomi disebut sebagai waning crescent. Dalam bahasa lokal yang lebih estetik: Sabit Jirus. Ia adalah sabit tua yang sedang menipis, bersiap untuk “mati” (konjungsi) sebelum nantinya lahir kembali sebagai sabit muda.
Masalah muncul ketika masyarakat kita cenderung memukul rata semua bulan sabit dengan sebutan “hilal”. Padahal, secara etimologi dan syariat, ada perbedaan mendasar yang sangat kontras. Kata hilal sendiri berasal dari akar kata yang berarti “teriakan”.
Mengapa demikian? Karena pada masa silam, penentuan awal bulan adalah sebuah perjuangan visual yang luar biasa sulit. Hilal adalah “bayi” bulan (day 1 hingga day 3) yang nampak sangat tipis, sangat rendah di ufuk Barat, dan hanya muncul dalam waktu singkat sesaat setelah matahari terbenam.
Saking sulitnya dideteksi, orang yang pertama kali berhasil melihatnya akan berteriak keras untuk memberitahu yang lain. Teriakan itulah yang menjadi penanda masuknya waktu ibadah.
Sebaliknya, apa yang saya lihat di langit Nanggalo pagi itu bukanlah objek yang harus “diteriakkan”. Dengan ketinggian di atas 50 derajat, ia terpampang nyata. Namun, posisinya bukan di barat (tempat terbenam), melainkan di timur (tempat terbit).
Inilah Sabit Jirus, sang “sepuh” yang muncul di akhir bulan (Day 22-29). Ia adalah penutup, bukan pembuka. Jika hilal adalah pengumuman tentang masa depan (sabit muda), maka Sabit Jirus adalah refleksi tentang masa lalu (bulan yang akan berakhir).
Sinkronisasi Data: HP China vs Model Hisab
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




