Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tutup Prodi tak Relevan, Keputusan Rabun Jauh

A
Penulis: Antara❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

PADEK.JAWAPOS.COM - Rencana pemerintah menutup sejumlah program studi yang tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi, merupakan keputusan yang mengabaikan dinamika masa depan. Sebab, pendidikan tinggi bukanlah balai latihan kerja tambahan bagi industri.

Hal tersebut diungkapkan ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho, kemarin. “Menutup prodi hanya karena tidak sesuai dengan selera pasar hari ini adalah bentuk keputusan rabun jauh yang mengabaikan dinamika masa depan,” katanya.

Menurut Wisnu, kampus tidak seharusnya berfungsi sebagai pabrik yang memproduksi tenaga kerja sesuai pesanan, melainkan institusi yang membentuk manusia dengan kemampuan berpikir, beradaptasi, dan mencipta. Perguruan tinggi, kata dia, seyogianya kembali menjadi kompas yang mengarahkan peradaban. Bukan sekadar baling-baling cuaca yang berputar mengikuti arah angin ekonomi.

Advertisement

“Jika kita terus memaksakan logika pasar sebagai satu-satunya ukuran relevansi, yang dihasilkan bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan, melainkan generasi yang dilatih untuk masa lalu,” tutur dia.

Wisnu menekankan, kebijakan menutup prodi yang sepi peminat atau tidak relevan dengan industri tidak berhenti pada aspek ekonomi. Menyerahkan arah pendidikan tinggi sepenuhnya kepada pasar berarti mengabaikan fungsi sosial dan politik kampus.

“Perguruan tinggi adalah ruang produksi pengetahuan, kritik, dan refleksi. Ketika fungsi ini dilemahkan, masyarakat kehilangan kapasitas untuk memahami perubahan apalagi mengoreksinya,” sebutnya.

Advertisement

Dia menjelaskan, jika keberhasilan hanya ditentukan oleh serapan kerja jangka pendek, bidang-bidang yang berkontribusi pada pembangunan jangka panjang, termasuk kebudayaan, pemikiran kritis, dan riset dasar, akan semakin terpinggirkan. Padahal, negara yang mampu bertahan dalam disrupsi adalah negara yang memiliki kapasitas refleksi dan inovasi, bukan sekadar pemasok tenaga kerja yang patuh.

Wisnu mengutip laporan McKinsey & Company yang memperkirakan hingga 30 persen aktivitas kerja global berpotensi diotomatisasi pada 2030. Jika kampus hanya fokus pada keterampilan teknis yang sedang tren, lulusan yang dihasilkan justru berisiko menjadi cepat tidak relevan.

Sebaliknya, keterampilan yang bertahan melintasi zaman justru bersifat mendasar seperti berpikir kritis, kemampuan analitis, komunikasi, dan pemahaman sosial. Data National Association of Colleges and Employers (NACE) secara konsisten menunjukkan bahwa kompetensi seperti problem solving, komunikasi, dan teamwork selalu berada di posisi teratas dalam kebutuhan pemberi kerja melampaui keterampilan teknis spesifik.

“Justru keterampilan fundamental inilah yang diasah secara sistematis dalam ilmu dasar, humaniora, dan ilmu sosial bidang-bidang yang kerap diposisikan sebagai prodi tidak laku,” kata Sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM ini. (ant)

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Fenomena Kebahasaan Generasi Milenial

Fenomena Kebahasaan Generasi Milenial

BAHASA Indonesia hari ini terdengar berbeda dari dua dekade lalu. Bukan karena tata bahasanya berubah drastis, melainkan karena penuturnya,

BBPSB Dorong Tertib Penggunaan Bahasa Indonesia

BBPSB Dorong Tertib Penggunaan Bahasa Indonesia

Balai Bahasa Provinsi Su­matera Barat (BBPSB) melaksa­nakan Program Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Provinsi Sumatera Barat

Satgas PPK UNP Perluas Gerakan Kampus Aman

Satgas PPK UNP Perluas Gerakan Kampus Aman

Satgas PPK UNP menggelar Road Show Goes to Fa­culty pada 13-16 Juli lalu. Ini untuk memasifkan sosialisasi Permen­dikbudristek Nomor 55 Tahun 2024

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer