Kasus Mutasi Covid-19 Inggris Masuk Indonesia

Pengunjung resto menyantap makanan bertema gambar Presiden Joko Widodo dan mantan Presiden AS Barack Obama dan Donald Trump di kawasan Kuningan, Jakarta, kemarin (2/3). (jgp)

Mutasi Covid-19 dari Inggris yang disebut B117 (B.1.1.7) akhirnya ditemukan di Indonesia. Virus SARS-CoV-2 varian baru itu disebut-sebut memiliki tingkat penularan lebih cepat. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono menyampaikan ditemukan dua kasus infeksi Covid-19 mutasi B117 pada Senin (1/3) malam.

Sampai saat ini, Kemenkes masih belum mengumumkan temuan dua kasus infeksi mutasi B117 itu ada di daerah mana. Temuan dua kasus varian B117 itu disampaikan Date dalam acara refleksi satu tahun pandemi Covid-19 di Indonesia yang digelar Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), kemarin (2/3). Dante menyebut bila satu tahun lalu, kasus 01 dan 02 pertama ditemukan, kali ini kasus mutasi B117 ditemukan di Indonesia.

“Tadi malam (Senin, red), saya mendapatkan informasi tepat satu tahun kita menemukan mutasi, B117 UK mutation di Indonesia. Ini fresh from the oven, baru tadi malam ditemukan dua kasus,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, dia tak merinci di mana kasus tersebut ditemukan. Namun yang pasti, menurut dia, ditemukannya kasus mutasi tersebut jadi peringatan tersendiri bahwa Indonesia akan menghadapi pandemi dengan kesulitan semakin berat. Karenanya, harus diimbangi dengan pengembangan riset yang juga lebih cepat.

“Termasuk model-model penanganan dan studi epidemiologi yang baik,” ungkapnya. Dante mengungkapkan, jumlah kasus di Indonesia pada satu tahun peringatan Covid-19 sudah mencapai 1,3 juta orang. Kemudian, tercatat 36.325 orang meninggal dunia akibat terpapar virus SARS Cov-2 tersebut.

Dia mengibaratkan, situasi pandemi saat ini seperti Perang Dunia III. Di mana, seluruh dunia berhadapan dengan musuh tak kasat mata. Dampaknya pun luar biasa pada semua lini kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, perekonomian hingga pendidikan.

Tak hanya itu, pandemi juga berdampak pada psikologi masyarakat. Banyak yang kini mulai merasa lelah dan frustasi karena harus menjalani isolasi selama satu tahun terakhir. Menurutnya, rasa jenuh, berduka cita, dan kesadaran harus terus dipertahankan dengan kebersamaan. Sehingga, Indonesia bisa bersama-sama keluar dari pandemi Covid-19.

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Wien Kusharyoto menuturkan apabila dua sampel varian B117 tersebut ditemukan di suatu daerah tertentu, maka segera diperlukan pelacakan. Tujuannya untuk mengetahui apakah varian atau mutasi B117 itu sudah ditularkan ke orang-orang lain di sekitarnya. Setelah itu, diperlukan deteksi RT-PCR yang dilanjutkan dengan input data di Whole Genome Sequence (WGS).

“Kemudian diperlukan pula isolasi dan penanganan yang lebih ketat terhadap mereka yang terinfeksi oleh varian tersebut,” tuturnya. Supaya penularan varian tersebut tidak semakin menyebar luas. Dia menjelaskan, sampai saat ini hasil WGS dari keuda sampel tersebut belum ada di laman GISAID. Dia menduga, besar kemungkinan bahwa varian tersebut masuk ke Indonesia dari kasus di luar negeri.

Baca Juga:  12 Tim Safari Ramadan Sumbar Kembali Dibentuk

Wien menjelaskan, varian atau mutasi B117 terbukti lebih mudah menginfeksi sel dan menular. Sehingga, semakin tinggi pula kemungkinan orang-orang yang rentan terinfeksi virus tersebut. Sehingga, akhirnya meningkatkan jumlah penderita Covid-19 yang perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Akhirnya, dapat pula meningkatkan tingkat kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia.

Menurut Wien, mutasi-mutasi pada varian Covid-19 asal Inggris itu cukup unik. Kemudian, mutasi-mutasi tersebut tidak begitu saja dapat terjadi pada virus Covid-19 yang beredar di Indonesia.

Soal hubungan varian baru itu terhadap efektivitas vaksin Covid-18 yang sekarang digunakan, Wien menuturkan ada hubungannya. Dia menjelaskan di beberapa studi disebutkan bahwa efikasi beberapa vaksin yang digunakan sedikit berkurang terhadap varian Covid-19 asal Inggris itu. “Namun demikian, vaksin-vaksin tersebut tetap dapat mencegah kemungkinan seseorang terdampak berat atau dirawat di rumah sakit karena infeksi oleh varian (B117, red) tersebut,” jelasnya.

Komisi IX mengingatkan, pemerintah untuk memperketat pengawasan dan screening di pintu-pintu masuk Indonesia, menyusul adanya mutasi yang telah masuk dari Inggris ke dalam negeri. Meskipun sudah ada vaksin, tidak menjamin bahwa masyarakat sudah aman dari virus Covid-19 jenis baru ini.

“Pemerintah harus memperketat screening di pintu-pintu masuk ke Indonesia. Di dalam negeri, protokol kesehatan harus tetap dijalankan secara disiplin,” tegas Wakil Ketua Komisi IX Charles Honoris, kemarin. Dia pun mendesak agar tes dan tracing semakin digalakkan demi mendeteksi kemungkinan cepatnya penyebaran virus jenis baru tersebut.

Charles sendiri menilai bahwa masuknya virus mutasi tersebut bukan hal yang mengagetkan dan sudah seharusnya diantisipasi. Sebab, Satgas Covid-19 mencatat jumlah orang yang baru datang dari luar negeri dan positif Covid-19 cukup tinggi.

Yang perlu diwaspadai pemerintah, lanjut dia, adalah bahwa virus ini lebih cepat menular dibanding Covid-19 yang dikenal sebelumnya. Sebagai langkah preventif, maka pengawasan di pintu masuk perlu diperketat untuk memperkecil kemungkinan semakin banyaknya pendatang yang juga carrier dari virus baru.

“Seperti yang kita ketahui, sudah ada beberapa temuan mutasi Covid-19 di berbagai negara dan hasil penelitian beberapa lembaga juga menyebutkan varian-varian baru ini lebih mudah menular, dan ada kecenderungan mempunyai kekebalan tertentu terhadap vaksin Covid-19,” lanjut Charles. (wan/mia/deb/jpg)

Previous articleKemenag Mulai Kumpulkan Paspor CJH
Next articleHanya Rumah Siap yang Bebas PPN