Doni SPH: Pasien Cuci Darah Boleh Puasa Ramadan dengan Ketentuan Ini

9

Kepala Ruangan Hemodialisa Semen Padang Hospital, Ns. Y Doni Permana, S. Kep

Cuci darah atau hemodialisis adalah terapi untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah menurun akibat kerusakan pada organ tersebut, hal ini dikarenakan ginjal tidak mampu lagi membuang zat sisa yang tidak dibutuhkan oleh tubuh atau limbah, dan kelebihan cairan dalam tubuh, sehingga mengharuskan penderitanya untuk rutin melakukan cuci darah.

Selain itu, organ tersebut juga tidak lagi mampu mengontrol tekanan darah, sampai memproduksi hormon untuk pembentukan sel darah merah. Namun, apa penderita penyakit ginjal dapat mengikuti ibadah puasa yang merupakan menjadi ibadah wajib bagi umat beragama muslim?

Menurut Kepala Ruangan Hemodialisa Semen Padang Hospital, Ns. Y Doni Permana, S. Kep, penderita penyakit ginjal terutama yang rutin melakukan cuci darah, secara medis tidak dianjurkan untuk berpuasa, tapi kita sangat banyak temui di lapangan pasien yang rutin cuci darah tetap melaksanakan puasa.

Ini kembali lagi kepada keyakinan dan konsep diri individu tersebut, nah kita sebagai tenaga medis tentunya mengingatkan, mengarahkan dan menjelaskan risikonya sehingga dapat meminimalisir akibat dari berpuasa tersebut. Pasien sebaiknya tetap berkonsultasi terlebih dahulu soal kondisi fisiknya ke dokter, kata perawat lulusan prodi Ners di STIKes Fort De Kock ini.

Selain itu, puasa juga tidak disarankan bagi pasien yang saat cuci darah sering mengalami komplikasi saat dialisis/cuci darah, seperti tekanan darah yang tidak stabil, tiba-tiba drop dan penurunan kesadaran, gula darah yang tidak stabil, sering kram otot, nyeri dada, nyeri kepala dan keringat dingin.

“Pasien cuci darah yang menahun biasanya sudah paham dengan kondisi tubuhnya, seberapa ketahanan tubuhnya serta apa yang membuat tubuhnya melemah. Beda hal dengan pasien yang baru menjalani dialisis, pasien tersebut tidak begitu paham dengan kondisi tubuhnya saat itu. Karena itu penting untuk konsultasi terlebih dahulu apabila ingin berpuasa,” jelasnya.

Baca Juga:  Ramadhan, Rezka Oktoberia Santuni Anak-anak Yatim di Kampung Halaman

Sementara itu, ia menjelaskan, untuk pasien cuci darah yang berpuasa memang dapat izin berpuasa, diharuskan memperhatikan berbagai hal terkait kondisi kesehatannya. Kondisi itu seperti HB pasien yang sebaiknya di atas 9, tekanan darah yang stabil, tidak memiliki masalah dengan komplikasi bawaanya seperti Hipertensi atau Diabetes Mellitus pasien tersebut.

Kemudian, pasien juga tidak boleh melakukan aktivitas berat dan berlebihan bagi tubuh, jika memang harus melakukan aktifitas rutin, jangan dipaksakan jika rasanya tidak mampu lagi. Sebaiknya ada pengurangan frekuensi, durasi aktivitas dari biasanya, dan saat berbuka hindari makanan yang mengandung kalium tinggi, seperti kolak dan es buah, serta hindari minuman yang sangat manis.

Selain itu, hal yang harus diperhatikan dan membuat pasien harus membatalkan puasa yakni jika tubuh merasakan keluhan seperti keringat dingin, pandangan mulai berputar atau bergoyang, nyeri kepala, dada berdebar, mual dan kram otot.

“Biasanya kondisi tersebut terjadi karena tubuh pasien berada dalam keadaan hipotensi (tensi di bawah batas normal) atau hipoglikemi (gula di bawah batas normal) atau tubuh kekurangan elektrolit. Jangan menyebabkan risiko yang berbahaya dengan memaksakan tubuh untuk melanjutkan puasa jika gejala di atas dirasakan,” katanya.

Doni juga menjelaskan, jika pun bisa berpuasa setelah mendapat izin dari dokter, tapi pasien tidak dapat berpuasa jika saat itu memiliki jadwal cuci darah. Karena menurutnya, saat cuci darah, tubuh membutuhkan kondisi yang fit dan kuat dan stabil, sementara hemodinamik pasien sangat cepat berubah-ubah saat melakukan hemodialisis. Selain itu, akan banyak ditemukan komplikasi lainnya saat dialisis.

Dari segi agama pun, lanjutnya, cuci darah sudah termasuk membatalkan puasa, karena saat itu pasien disuntik hormon, vitamin dan dalam tubuhnya juga memasukkan larutan NaCl. NaCl merupakan cairan untuk penyeimbang elektrolit, fungsinya untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang dan menjaga tubuh agar terhidrasi dengan baik.(*)

Previous articleHeri Fitrianto Raih Penghargaan dari Majalah Indonesia Award Magazine
Next articleNarapidana Lapas Lubukbasung Juara Umum MTQ se-Sumbar