Masih Nol Covid-19, Enam Daerah di Sumbar Ini Diminta Waspada

Diskusi Kawal Covid-19 Sumbar secara daring yang diikuti para pakar dan tokoh masyarakat, Jumat (1/5/2020) malam. (Foto: IST)

Enam kabupaten dan kota di Sumbar yang belum ditemukan kasus pasien positif terinfeksi virus korona (Covid-19), perlu kewaspadaan tinggi.

Yakni, Kabupaten Agam, Solok Selatan, Sijunjung, Limapuluh Kota, Kota Solok dan Sawahlunto.

Perlu dilakukan deteksi dini secara masif, dan memperketat pengawasan pembatasan gerak perjalanan. Apalagi sudah terjadi beberapa kasus penularan antar-kabupaten dan kota.

Peringatan tersebut disampaikan Pakar Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat dari Universitas Andalas (Unand) Dr. Defriman Djafri, saat diskusi Kawal Covid-19 Sumbar secara daring bersama para tokoh masyarakat, akademisi dan awak media, Jumat (1/5/2020) malam.

“Waktu itu saya ingatkan, Padangpanjang yang sebelumnya nol. Ternyata kemarin benar, langsung “meledak” 13 kasus (tenaga kesehatan positif Covid-19, red),” ujar doktor bidang Epidemiology dari Prince of Songkla University, Thailand ini.

Dijelaskannya, 13 tenaga kesehatan itu sebelumnya pernah kontak dengan seorang ibu hamil di RSUD Padanpanjang, sebelum dirujuk ke RSUP M Djamil Padang.

“Saya juga cemaskan Agam yang masih menganggap nol kasus. Ternyata, kasus yang di Payakumbuh itu, salah satunya sering bolak-balik ke Agam,” ingat dosen lulusan S1 dan S2 Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi Universitas Indonesia ini.

Oleh karena itu, setelah Kota Padangpanjang, Defriman memperkirakan daerah yang perlu diantisipasi dari sekarang adalah Agam.

“Saya sudah minta ke Pak Gubernur, tolong sampel swab-nya harus banyak, kalau bisa 100-200 sampel supaya banyak ditemukan yang positif,” katanya dalam diskusi yang diikuti Rektor Universitas Yarsi Prof Fasli Jalal, Dekan FISIP Unand Dr. Alfan Miko, Pakar Komunikasi Unand Emeraldi Catra, Pengamat Hukum Unand Feri Amsari, Inisiator Kawal Covid-19 Sumbar Sari Lenggogeni dan Yul Akhyari Sastra, dan lainnya.

Lima daerah lainnya, yakni Solok Selatan, Sijunjung, Limapuluh Kota, Kota Solok dan Sawahlunto juga dimintanya melakukan hal serupa.

Padang Terbanyak
Sebelumnya, Defriman yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unand itu memaparkan bahwa, berdasarkan jejaring kontak kabupaten dan kota dari awal hingga 30 April 2020, kluster terbanyak kasus positif adalah Kota Padang.

“Saat pengajuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), satu-satunya provinsi di luar DKI Jakarta yang sudah ada kontak antar-kabupaten dan kota adalah Sumbar,” tukasnya.

Ketika itu, sudah terjadi transmisi antar-kabupaten dan kota, yakni Pesisir Selatan dan Padang. Setelah PSBB, muncul transmisi Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman.

Ketika dibagi jejaring kontak berdasarkan status transmisi lokal atau luar (imported), terungkap kasus imported pertama berasal dari seseorang yang bekerja di instansi kesehatan Pesisir Selatan ikut acara seminar di Padang.

“Ini pertama kasus yang masuk, awalnya dianggap lokal. Ternyata, setelah dicek, ujung-ujungnya punya riwayat kontak dengan orang dari Malaysia ketika di hotel itu,” katanya.

Di Bukittinggi, katanya juga ada kasus imported orang punya riwayat perjalanan dari Malaysia dan sekarang sudah bisa dikendalikan. Selanjutnya, kasus imported orang yang pernah perjalanan dari Gowa, Makassar.

Berdasarkan data yang ada, lanjutnya, ternyata 6 persen orang yang terjangkit baru pulang perjalanan dari Jakarta atau pernah kontak dengan orang dari Jakarta.

Jika dilihat dari status pasien, 33,7 persen merupakan orang tanpa gejala (OTG), dan 28 persen yang meninggal memiliki riwayat penyakit penyerta.

“Berdasarkan status pasien ini, isolasi mandiri harus jadi perhatian karena bisa menular ke individu lain. Bagaimana kondisi isolasi mandiri di rumah, ke depan perlu dikontrol,” ingatnya.

Sebagian kasus yang isolasi di rumah menjadi sumber penularan berikutnya, bahkan sampai generasi ketiga. “Hal ini penting karena dominasi kasus adalah penularan secara lokal,” imbuhnya.

Dia berpesan agar masyarakat meningkatkan disiplin ketika PSBB. Berlaku jujur saat berhadapan dengan tenaga kesehatan. Tidak menyembunyikan riwayat kontak atau keluhan kesehatan yang dimiliki.

“PSBB ini proses disiplin dan mempersiapkan setelah PSBB. Jangan sampai setelah PSBB, lalu ada imported kasus lagi dari luar Sumbar. Jadi, jangan anggap remeh,” imbaunya.

Usia Muda juga Berisiko

Dalam kasus Covid-19 di Sumbar, laki-laki dan perempuan sama-sama berisiko. Dari sisi usia, ternyata di awal kasus, kata Defriman, lebih banyak usia tua.

Namun, dalam perkembangannya, ternyata proporsi terbesar adalah individu remaja dann dewasa muda kisaran usia 20-29 tahun.

“Kami berandai-andai, jangan-jangan yang muda ini karena banyak bergerak. Karena pergerakan itu juga salah satu faktor penularan dari orang ke orang. Jadi, perlu kewaspadaan dalam jaga jarak dan sosial serta perjalanan,” tambahnya.

Defriman yang tergabung dalam Tim Kewaspadaan Covid-19 Unand bersama Ade Suzanna Eka Putri dan Yudi Pradipta itu, juga menyampaikan bahwa tenaga kesehatan dan pegawai yang bekerja di institusi pelayanan kesehatan sangat berisiko tertular.

“Penting bagi pemerintah untuk memastikan tersedianya APD (alat pelindung medis) bagi tenaga kesehatan seperti pelayanan medis, tracing kontak ke lapangan, penanganan jenazah,” katanya.(esg)