Alat Rapid Test Buatan Anak Negeri Biayanya tak Sampai Rp 50 Ribu

228
Prof Mulyanto menujukkan alat rapid diagnostic test korona RI-GHA Covid-19. (Foto: IST)

Alat rapid test made in Indonesia segera bisa digunakan. Produk bernama RI-GHA Covid-19 itu rencananya diproduksi massal mulai akhir bulan ini. Selain murah, memiliki kelebihan deteksi cepat, mudah digunakan, dan sensitivitas tinggi.

Saat ini alat itu sedang memasuki tahap uji validasi. Pengujian dilakukan di RSUP dr Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, RSUD Kota Yogyakarta (Rumah Sakit Yogya), RSUP dr Kariadi Semarang, dan RSUD dr Moewardi Solo dengan dipimpin Prof Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, dilakukan Prof Citra Rosita dan Prof Fedik serta tim di RSUD dr Soetomo dan RS Unair.

Alat rapid diagnostic test itu kali pertama diperkenalkan Presiden Joko Widodo pada 20 Mei lalu. Merupakan produk anak negeri yang melibatkan para peneliti dari UGM, Laboratorium Hepatika Mataram, dan Universitas Airlangga.

Laboratorium Hepatika yang berada di Kota Mataram dipimpin peneliti Prof dr Mulyanto. Penamaan RI-GHA merupakan akronim dari Republik Indonesia-Gadjah Mada-Hepatika Mataram-Airlangga.

Mulyanto menjelaskan, alat tersebut merupakan proyek nasional di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Mereka menggalakkan para peneliti di Indonesia untuk membuat alat-alat kesehatan untuk penanganan Covid-19.

”Tim itu dibagi dalam gugus-gugus tugas. Ada yang membuat PCR, ada yang rapid test,” tutur dia kepada Lombok Post (grup Padang Ekspres).

Laboratorium Hepatika Mataram dilibatkan karena memiliki pengalaman panjang dalam membuat alat serupa untuk pengujian sejumlah penyakit. ”Kemenristek memberikan dana untuk melakukan inovasi, bukan menemukan lho, ya,” katanya.

Tim yang menggarap dibagi dua. Laboratorium Hepatika bertugas membuat alat. Kemudian, peneliti UGM dan Unair melakukan uji validasi. Hepatika mendapatkan dukungan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Mataram (Unram).

Selain menyediakan para peneliti terbaik, Unram mempersilakan RS miliknya untuk menjadi penyedia sampel pasien positif. ”Kalau tidak ada itu, kami tidak tahu alatnya bisa dipakai untuk Covid-19 atau tidak,” jelas mantan dekan FK Unram tersebut.

Mulyanto menyatakan bahwa pengerjaan rampung tak kurang dari sebulan. Pertengahan April diminta mengerjakan, pada 20 Mei sudah diperkenalkan presiden.

Saat ini alat tersebut masih diproduksi terbatas sebanyak 10 ribu untuk uji validasi. Namun, Kemenristek sudah meminta Laboratorium Hepatika membuat 40 ribu alat tes lagi. ”Sembari kita menyempurnakan apa-apa yang masih kurang,” katanya.

Untuk akurasinya, Mulyanto mengaku masih menunggu hasilnya. Namun, pemerintah pusat berani mengeklaim tingkat akurasi alat itu mencapai 80 persen. Tinggal pembenahan sedikit.

Mulyanto memastikan, RI-GHA Covid-19 Rapid Diagnostic Test IgG/IgM telah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan. Izin edar itu didapatkan pada 19 Mei lalu. ”Sehari sebelum diperkenalkan Presiden Jokowi,” katanya.

Uji validasi membutuhkan waktu sebulan. Awal Juli alat itu rencananya bisa didistribusikan dalam skala besar untuk penanganan Covid-19.

Dia mengungkapkan, tiga perusahaan farmasi siap memproduksi, yakni Kalbe Farma, Kimia Farma, dan Bio Farma. ”Jadi, nanti kalau ini baik, ramuannya akan kami serahkan ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) supaya bisa diproduksi,” katanya.

Mulyanto menjelaskan, RI-GHA Covid-19 sama dengan alat rapid test luar negeri. Jika mengacu ke standar internasional, ia harus memiliki tingkat akurasi 90 persen. ”Istimewanya, alat ini dibuat di sini saja (dalam negeri, red),” katanya.

Jika sudah ada produksi masal, Indonesia bisa mendapatkan alat tes cepat dengan harga lebih murah.

Selama ini harga alat rapid test impor Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per buah. RI-GHA Covid-19 nanti dijual dengan harga jauh lebih rendah meski dia belum tahu pastinya karena bukan kewenangannya. ”Kalau ongkos buatnya saja di bawah Rp 50 ribu,” ujarnya.

Dalam satu kotak RI-GHA Covid-19 disediakan alat lengkap untuk mengambil sampel darah. Juga, disertakan dengan buku petunjuk cara pemakaian sehingga mempermudah masyarakat yang ingin tes diagnosis mandiri. ”Kayak ngetes kehamilan itu deh,” jelasnya.

Tes harus dilakukan dengan benar supaya memberikan hasil akurat.

Laboratorium Hepatika sudah terbiasa membuat alat-alat uji cepat. Sebelumnya untuk penyakit-penyakit yang lain. ”Yang membedakan dengan rapid test lainnya adalah bahan dasarnya, antibodi atau antigennya berbeda,” katanya.

Membuat rapid test Covid-19 lebih sulit daripada alat tes cepat untuk penyakit lain. Sebab, Covid-19 merupakan jenis penyakit baru.

Para ahli harus mempelajari dahulu sifat virusnya. Kendala ditemui saat mencari antigen sebagai bahan dasar karena harus membeli di Amerika Serikat.

”Itu pun tak mudah karena kita rebutan dengan negara-negara lain,” kata pria yang pernah membuat rapid test untuk penyakit hepatitis dan alatnya itu sudah digunakan di Jepang.

Beberapa peneliti perguruan tinggi di Indonesia kini sedang membuat antigen. Dia berharap antigen yang dibuat berkualitas bagus sehingga mempermudah pembuatan alat rapid test.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram dr Hamsu Kadriyan mengatakan, pihaknya memberikan dukungan dalam proses pembuatan alat tersebut. Banyak SDM Unram yang ikut terlibat, termasuk Mulyanto adalah dosen di FK Unram.

”Untuk uji awal alat rapid test-nya menggunakan serum positif yang ada di RS Unram,” katanya.

Rapid diagnostic non-PCR itu, selain dapat digunakan untuk skrining, juga dapat digunakan untuk memonitor OTG, ODP, PDP, atau pascainfeksi. Selain biayanya yang murah, alat itu dapat membaca hasil dalam 5–10 menit, mudah, praktis, dan sensitivitas yang tinggi serta sangat spesifik. (rel)