Peduli Pada Tetangga Bisa Cegah Stunting?

12
ilustrasi stunting. (NET)

STUNTING dapat menghambat metabolisme tubuh  anak untuk berkembang. Kondisi ini mesti menjadi perhatian berbagai pihak karena stunting dapat memengaruhi perkembangan anak di Indonesia. Tak terkecuali di Sumbar tentunya.

Spesialis kandungan dan seorang ahli fetomaternal dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM mengatakan stunting adalah sebuah ganguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat gizi kronis (sudah lama) dan infeksi berulang.

Pengidap stunting dapat ditandai dengan tinggi badan dan pertumbuhan anak tersebut berada di bawah standar. Stunting memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang kepada pengidapnya.

Pada jangka pendek, sambungnya, stunting dapat mengganggu pertumbuhan dan kecerdasan otak. Lalu metabolisme tubuh juga ikut terganggu. Sedangkan untuk jangka panjang, menurunnya kemampuan kognitif anak.

Ini akibat otak yang tidak terlalu tumbuh karena kekurangan gizi. Postur tubuh si anak pun menjadi lebih kecil dari pada anak umumnya. Dovy mengatakan, anak yang terkena stunting akan kesulitan dalam pembelajaran karena IQ-nya lebih rendah dari pada anak pada umumnya.

“Selain itu anak-anak yang menderita stunting berpotensi lebih sering terserang penyakit. Seperti penyakit diabetes, obesitas dan penyakit berbahaya lainnya. Semisal penyakit jantung, hipertensi hingga ganguan disabilitas hingga ia tua,” ucapnya, Sabtu (4/6) lalu.

Dovy menekankan, untuk mencegah stunting mesti melibatkan berbagai sektor. Seluruh lini yang ada di masyarakat harus ikut berperan. Seperti tenaga kesehatan, pemerintah dan masyarakat.

“Meski sudah mulai menurun, angka stunting masih terbilang tinggi di Indonesia. Sekarang bagaimana seluruh pihak dapat ikut menekan stunting baru di Indonesia,” katanya.

Dia menegaskan, jika ingin memberantas stunting, pemerintah dan seluruh stakeholder terkait harus bisa menghentikan laju pengidap stunting baru di Indonesia. Pemerintah harus berupaya untuk memutus mata rantai stunting dengan program-program yang sudah diwacanakan oleh pemerintah sendiri. Hal tersebut juga berlaku untuk di Sumbar sendiri.

“Tentunya cara paling efektif mengatasi stunting adalah dengan mencegah stunting yang baru. Lalu menurunkan angka stunting pada balita bisa dimulai sejak masih di dalam kandungan. Bagaimana cara kita menjaga kandungan itu tetap sehat dan gizi selalu tercukupi hingga si anak lahir kedunia,” ujarnya.

Dovy menegaskan, 1000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi waktu yang krusial untuk pencegahan stunting. Pemerintah baik pusat maupun daerah harus bisa menjamin kualitas gizi anak tersebut sudah terpenuhi, meningkatkan penyiapan kualitas kehidupan berkeluarga, menyiapkan pola asuh, meningkatkan akses dan pelayanan kesehatan, tidak lupa meningkatkan kualitas air minum dan sanitasi.

“Kalau kita bisa melakukan pencegahan sedini mungkin, tentu ini akan membantu untuk memutus mata rantai stunting di Indonesia. Pencegahan harus dilakukan sejak anak masih dalam kandungan hingga melahirkan. Kita berharap kedepannya seluruh yang berkepentingan dalam menangani stunting harus saling mendukung agar stunting dapat segera diatasi,” tuturnya.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumbar Hasna Wati mengatakan, penanganan stunting sudah menjadi program nasional yang harus dikerjakan secara bersama. Tak jauh beda dengan program yang dilakukan nasional ia mengatakan Sumbar tidak ketinggalan dalam peran serta memberantas stunting.

Wati mengatakan bidan sebagai salah satu garda pemutus mata rantai stunting di Sumbar selalu melakukan pengawalan di 1000 hari pertama anak baru lahir ke dunia. “Mulai dari sang ibu hamil sampai anak berusia 2 tahun bidan akan melakukan pengawasan secara berkala kepada anak-anak pada usia tersebut. IBI Sumbar terus mendukung program pemerintah pusat maupun provinsi dalam mengatasi stunting di Sumbar,” ucapnya.

IBI Sumbar, sambungnya, terus memberikan pemahaman baik kepada lintas instansi dan rekan sejawat mereka di lapangan untuk bagaimana mengatasi stunting dengan baik.
Ia mengatakan untuk mencegah stunting harus ada pengawalan yang dilakukan para penyuluh di lapangan mulai sejak calon orangtua akan menikah hingga melahirkan dan membesarkan anak.

Baca Juga:  Padang Dapat 100 Dosis Vaksin PMK! Penyuntikan Dilakukan Selasa Esok!

“Sekarang ada Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang dibentuk oleh BKKBN. Di sana juga terdapat bidan yang nantinya akan memberikan penyuluhan kepada keluarga baru dan masyarakat bagaimana stunting tersebut dan cara pencegahannya. Dengan demikian kami berusaha mengedukasi para pasangan keluarga baru agar tetap menjaga asupan gizi mereka dan calon buah hati mereka sejak dari kandungan agar terhindar dari stunting,” ucapnya.

Selain itu, Wati mengatakan, peranan masyarakat dalam memberantas stunting di Sumbar sangat diperlukan. Khususnya berupa aksi nyata. Seperti dalam pembentukan kelas ibu hamil dan ibu balita yang dipionirkan oleh bidan-bidan di sekitar masyarakat.

Pada kelas tersebut, jelas Wati, bidan menanamkan kepada para calon orangtua dan orangtua yang telah memiliki anak untuk bagaimana menjaga asupan gizi anak agar tetap terpenuhi sehingga si anak terhindari dari bahaya stunting.

“Bagaimana kita menjaga tumbuh kembang anak hingga umur 5 tahun. Bersama-sama menjaga cakupan gizi dan kesehatan anak agar kecerdasan dan daya tahan tubuhnya terus terjaga dan mereka dapat berkembang dengan sehat,” ucapnya.

Guru besar sosiologi Universitas Andalas Prof. Dr. Afrizal MA mengatakan, kasus stunting yang cukup tinggi di Sumbar adalah akibat dari tidak efektifnya program-program pemerintah untuk menjangkau rumah tangga-rumah tangga yang bermasalah.

“Masih banyak rumah tangga-rumah tangga yang belum terjangkau uluran tanggan pemerintah sehingga masih bermasalah dengan persolan tumbuh kembang anak hingga menyebabkan stunting,” ucapnya.

Menurutnya, banyak orangtua di Sumbar yang kesulitan mendapatkan akses pangan yang memadai serta kekurangan biaya untuk membutuhi kebutuhan pangan sehat bagi anaknya. Ia menilai banyaknya bantuan yang dikeluarkan pemerintah kurang efektif dalam membantu memberantas stunting di Indonesia dan Sumbar.

Afrizal mengatakan stunting biasanya juga diakibatkan oleh pola asuh keluarga yang tidak memadai dalam memenuhi nutrisi makanan anak mereka. Selain itu tingginya angka stunting di Sumbar juga tidak terlepas dari kurangnya kepedulian antara satu sama lain di masyarakat sekitar tentang tumbuh dan kembang anak.

“Tidak hanya dari faktor keluarga inti dengan bertetangga pun cenderung tidak mempedulikan tumbuh kembang anak di sekitarnya sehingga akibat ketidakpedulian tersebut angka stunting terus meningkat. Fenomena tersebut yang saya baca ada pada masyarakat saat ini,” ucapnya.

Afrizal mengatakan, untuk mencegah stunting, pemerintah harus lebih meningkatkan pemantauan kepada anak yang baru lahir. Selain memperhatikan kesehatan si anak, persoalan pencukupan gizi anak di 1000 hari petama kehidupannya harus bisa dijaga.

“Pemerintah harus lebih maksimal memberikan bantuan kepada orangtua apalagi dalam kategori kurang mampu. Pemenuhan nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan dan memberikan pelayanan kesehatan secara berkala kepada anak adalah hal yang penting dan harus dilakukan oleh pemerintah. Baik pusat maupun provinsi,” tegasnya.

Selain kepada pemerintah Afrizal juga mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap tetangga dan keluarga mereka serta seluruh masyarakat agar dapat meminimalisir stunting di sekitar tempat tingga mereka.

“Bila ada anak-anak yang bermasalah jangan dibiarkan. Jika orangtua mereka kurang mampu mari bersama-sama untuk membantu mereka. Dengan demikian stunting di Sumbar bisa diatasi jika masyarakat semakin peka dan pedulian terhadap sesama,” paparnya.

Afrizal juga berharap pemerintah mampu meningkatkan pemantauan dan pengawasan baik melalui posyandu maupun yang lainnya. Dengan pemantauan yang signifikan dan penanganan yang cepat dari pemerintah ia optimis Sumbar dapat menurunkan angka stunting hingga ke titik terendah. (cr1)